Bulan akhirnya pulang ke Jogjakarta atas desakan Gala. Dia tidak mau Gala terus mengomel dan memintanya agar pulang memberitahu orangtuanya kalau pria itu dan keluarga Pramudya akan datang untuk melamar.
"Lho, kamu pulang kok tidak kasih kabar dulu. Kalau tahu kamu mau pulang, Bapak 'kan bisa jemput ke stasiun," ujar Pak Bathok-ayah Bulan, dia keheranan melihat putrinya pulang secara mendadak. Ayah Bulan memang dipanggil Pak Bathok karena kerjaannya menjual bathok kelapa, padahal nama aslinya Rusli.
"Ga papa, Pak. Aku juga sebenarnya ga ada rencana pulang, tapi karena ada sesuatu yang harus aku sampaikan, jadi terpaksa pulang," balas Bulan. Dia mendudukkan pantat di sofa. Lelah setelah naik angkutan umum dari stasiun sampai rumah.
"Ada apa?" tanya Pak Bathok penasaran. Dia lantas duduk di samping Bulan. Sang ibu- Rosdiana juga ikut bergabung dan menunggu Bulan bicara.
Bulan memandang kedua orangtuanya bergantian, hingga kemudian berkata, "Pak, Bu. Aku mau nikah, ada pria yang mau ngelamar aku."
"Apa?" Bapak dan ibu Bulan terkejut bersamaan. Mereka saling tatap seolah tidak percaya.
"Kok mendadak? Jangan-jangan kamu hamil duluan?" tanya sang ibu dengan wajah panik.
"Apa?" Bulan kini yang terkejut dengan pertanyaan sang ibu. Ternyata tebakannya tak meleset, orangtuanya pasti berpikir yang tidak-tidak saat dia berkata ingin menikah.
"Wah, kamu pasti sudah hamil duluan, 'kan? Ngaku! Kalau ga, ga mungkin kamu mendadak mau nikah. Punya pacar saja ga, kenapa bisa-bisa mau nikah!" Pak Bathok pun tidak percaya begitu saja jika Bulan akan menikah tanpa ada insiden di baliknya, karena ini semua sangat mendadak.
"Ayo. Periksa ke bidan, biar tahu kamu ini mau nikah karena sudah hamil dulu atau ga." Sang ibu langsung menarik tangan Bulan dan mengajaknya berdiri.
Bulan terkejut hingga gelagapan dan bingung. Dia tidak bisa mengelak, saat bapaknya juga mendorong dan memaksanya ikut ke bidan.
Bulan mendesau frustasi, baru saja sampai rumah dan lelah, sudah dipaksa ikut ke bidan karena kedua orangtuanya sudah ketakutan lebih dulu.
Bulan dan kedua orangtuanya pun sampai di rumah bidan yang tak jauh dari tempat tinggal mereka dengan jalan kaki. Di sana bapaknya langsung minta bidan untuk mengecek apakah Bulan dalam kondisi hamil atau tidak.
"Pak, Bu. Lah anaknya aja masih perawan, gimana mau cek hamil atau ga. Bapak sama Ibu ini ada-ada aja."
Ucapan bidan membuat duo R menghela napas lega, hingga mereka memandang Bulan yang memasang wajah cemberut.
"Bapak sama Ibu ga percaya kalau aku ga hamil. Mau dilamar orang, bukan berarti aku tuh hamil duluan, Pak, Bu." Bulan pun menjelaskan.
"Ya, lamarannya mendadak. Jelas Bapak dan ibu curiga," ujar Rosdiana.
Bidan pun hanya bisa menggelengkan kepala pelan melihat kepanikan ibu dan ayah Bulan yang berlebihan.
"Mendadak bukan karena aku hamil juga, Bu." Bulan kesal sendiri karena sudah dianggap yang bukan-bukan.
"Terus kenapa?" Pak Bathok masih merasa jika lamaran itu tidak masuk akal.
"Ya, karena mereka pengen lamar, Pak." Bulan dan kedua orangtuanya masih berdebat di tempat Bidan. "Pokoknya keluarga mas Gala-calon suamiku, akan datang dari Jakarta besok. Nanti Ibu siap-siap buat nyambut lamaran itu, ga usah masak atau nyiapin macem-macem, cukup gudeg dan bakpia saja," titahnya.
Pak Bathok dan sang istri pun akhirnya mengangguk, mereka pun pulang setelah membuat kisruh di tempat praktek bidan, bahkan ibu hamil yang sudah pembukaan lima yang sedang periksa seketika tidak merasa mulas mendengar perdebatan mereka, dan apa yang dibicarakan Bulan dan kedua orangtuanya di tempat praktek bidan, tenyata didengar oleh seorang warga di sana.
Hingga kabar lamaran yang akan Bulan terima pun menyebar ke seluruh kampung dengan cepat. Tentu saja semua itu diperkuat saat ibu Bulan membeli banyak bakpia dan memesan gudeg ke tetangga.
"Seriusan Bulan mau dilamar orang kota?" Seorang pemuda tampak begitu terkejut mendengar kabar yang dibawa temannya.
"Seriuslah, tadi Bu Umi bilang, katanya ada pria dari kota mau datang ngelamar Bulan. Tuh, di rumahnya aja sekarang lagi sibuk," timpal pemuda lain.
"Gusti, padahal aku pengen ngejar dia, kenapa malah sudah ada yang dapetin."
Para perjaka di kampung itu pun patah hati berjamaah mendengar Bulan akan dilamar. Mereka serempak menyukai Bulan dan berharap janda kembang itu akan berakhir jadi istri salah satu dari mereka, belum juga mereka berusaha meluluhkan hati Bulan, gadis itu malah sudah mau menikah.
Bulan sendiri sejatinya memang tidak mau menerima pemuda dari kampungnya, dia sejak awal tidak mau menikah dengan pria dari sana, pernikahannya dulu juga hasil dari perjodohan paksa.
Di tengah para pemuda desa yang saat ini patah hati, ada para perawan yang bahagia mendengar kabar Bulan akan menerima lamaran pria dari kota.
"Untung saja dia udah ada yang mau, udah laku. Jadi dia ga bakal bisa bikin para cowok-cowok kecantol," ujar salah satu gadis yang sedang berkumpul dengan gadis lain.
"Bener, sebel aku denger tuh cowok-cowok kesengsem sampai ga lirik kita. Padahal kita itu kurang apa? Cantik iya, semok iya, kok malah pada naksir Bulan. Janda pula, kita yang masih gadis ting-ting original, malah dicuekin," timpal yang lain.
"Betul, betul." Yang lainnya pun mengiakan.
Perkumpulan gadis anti Bulan itu pun bisa bernapas lega karena akhirnya Bulan tidak akan lagi menjadi idaman perjaka di kampung Sidorapet. Dan seperti apa yang dibicarakan Bulan ke orangtuanya, hari berikutnya keluarga Gala pun akhirnya sampai di kampung Bulan.
Gala dan keluarganya mampu menarik perhatian para warga sekitar rumah gadis itu. Bagaimana tidak? Rombongan datang menggunakan mobil mewah. Bahkan para tetangga Bulan semakin syok ketika melihat Suga atau yang biasa dikenal dengan nama Agus di kampung itu, turun dari mobil bersama Gala. Mereka baru tahu jika pria yang akan melamar Bulan adalah atasan Suga.
Suga pun bersiap ikut Gala dan keluarga yang hendak masuk ke halaman rumah Bulan, tapi salah satu warga tiba-tiba menarik tangannya, membuat Suga menepi dan terpisah dari Gala.
"Gus, aku dengar itu atasan kamu?" tanya tetangga Bulan yang menarik tangan Suga.
"Iya, memangnya kenapa?" tanya Suga dengan satu sudut alis tertarik ke atas.
"Wah, atasan kamu kok bisa suka dan melamar Bulan?" tanya wanita paruh baya itu lagi.
"Lah, kenapa ga bisa? Namanya jodoh, ga ada yang tahu," jawab Suga santai.
"Gus, Gus. Kalau bisa, aku juga mau anakku dikenalin ke orang kaya. Barang kali 'kan ada yang nyantol, biar memperbaiki keturunan gitu," ujar wanita itu tanpa rasa malu.
"Emang apaan nyantol? Jemuran beha?" Suga geleng-geleng kepala sendiri mendengar ucapan wanita itu.
Di dalam hatinya Suga protes, para warga kampungnya memang langsung melek saat melihat yang bening dan kaya seperti Gala dan keluarganya.
"Doa aja. Bu! Siapa tahu ada orang kaya yang nyari janda lagi, nanti aku kabari."
Setelah mengucapkan kalimat itu, Suga pun meninggalkan sang tetangga menyusul Gala. Wanita itu pun keheranan, apa hubungannya orang kaya mencari janda. Hingga dia malah berpikir yang bukan-bukan tentang alasannya.
"Waduh ... Jangan-jangan Bulan mau dijadiin tumbal pesugihan."
_
_
_
Hayolohhhh Bulan 🤣
KAMU SEDANG MEMBACA
Terjerat Cinta Istri Bayaran
RomanceJadwal update : Cek Notifikasi dulu ya geng , belum bisa UP sesuai jadwal 🙏 Gala berada dalam masalah besar, dia harus segera mencari wanita dengan status janda, agar bisa mendapatkan warisan dari sang nenek buyut. Awalnya Gala bersikap santai, kar...
