Bab 59 : Blak-blakan Soal Itu

1.1K 91 23
                                        

"Aku sama sekali tidak masalah dengan itu, yang terpenting kamu mau bekerja untuk hidup kita sehari-hari, itu sudah cukup bagiku."

Bulan menjawab tanpa berpikir lebih dulu, malah Gala yang tampak syok mendengar jawaban istrinya itu.

"Lalu, apa kamu akan menyerah dengan kuliahmu?" Tanya Gala mencoba menelisik isi hati sang istri.

"Hm ... mau bagaimana lagi, memaksakan sesuatu itu tidak baik. Aku bisa bekerja membantumu." Bulan malah tersenyum manis dan sangat tulus. Sikapnya membuat Gala terharu. Diam-diam pria itu menunduk dan tersenyum.

Namun, meski disembunyikan Bulan masih bisa melihatnya dengan jelas, dia pun ikut tertawa dan meminta Gala bergegas menghabiskan makanannya.

Setelah selesai mereka memutuskan untuk pulang ke rumah. Bulan sendiri merasa ingin mandi karena gerah. Dia melepas tasnya lalu berdiri di depan lemari baju, tapi belum juga dia membuka tempat penyimpanan itu, Gala lebih dulu memeluk tubuhnya dari belakang.

"Kenapa kamu kurus sekali?" Bisik Gala.

"Kurus? Padahal makanku banyak," jawab Bulan. Dia menelengkan kepala mencoba untuk memastikan ekspresi wajah Gala. Hingga akhirnya memutar badan.

"Maaf membuatmu harus mengalami hal yang tak mengenakkan hari ini."

Bulan mengerutkan kening, bingung kenapa Gala berubah menjadi melankolis begini. Bulan sampai memastikan dengan menyentuh kening Gala, lalu menempelkan telinga ke dada pria itu.

"Semua normal, mana mungkin .... "

Bulan hampir saja menjauhkan kepala, tapi Gala menahannya.

"Aku tidak apa-apa. Aku malah senang karena tahu bagaimana kondisiku," ucap Bulan.

"Aku ingin kamu hamil karena menginginkannya, bukan karena terpaksa, aku tidak mau membebanimu."

"Aku mungkin hanya masih belum yakin dengan perasaanmu, jadi bisakah kamu bersabar sebentar? Sampai aku yakin, kamu harus memakai kondom selama kita berhubungan."

Ya. Hanya saat malam pertama saja Gala dan Bulan melakukan itu tanpa pengaman, setelahnya Gala memang selalu memakai kurungan naga agar apinya tidak menyembur. Benda itu bahkan dia bungkus rapi setelah digunakan agar tak terlihat oleh pembantu saat membuang sampah.

Bulan tampaknya sudah mulai blak-blakan soal ranjang. Apalagi dia dan Gala tergolong pengantin baru, masih muda, sedang panas-panasnya. Berniat untuk mandi, Bulan malah jatuh ke dalam rengkuhan Gala yang mulai mencium bibirnya lembut.

Tak pernah Bulan merasakan kenyamanan seperti ini. Sebagai pasangan yang sedang jatuh cinta dan halal. Tak bisa dipungkiri nafsu mereka menggebu.

Awalnya Bulan membatasi diri, begitu juga dengan Gala. Namun, mendengar apa yang disebutkan oleh dokter membuat keduanya percaya diri, semburan naga tidak akan mungkin bisa menjangkau telur jika terlalu kecil.

Gala mengusap pipi Bulan, semakin mengecup dalam sebelum beralih ke ceruk leher gadis itu. Bulan mendesah, setelah itu pipinya merona. Dia malu karena terlihat sangat begitu bernafsu.

"Tidak apa-apa, aku merasa seperti lelaki sejati jika bisa membuatmu merasakan nikmat yang kubari," kata Gala.

Bulan memejamkan mata, merasakan gelenyar geli yang merambat ke seluruh tubuhnya. Gala dengan sangat mudah mengangkatnya ke dalam gendongan. Hingga kakinya melingkar ke pinggang. Pria itu membawanya ke ranjang.

Gala duduk di tepian masih terus menikmati bibir ranum Bulan. Tangannya mulai melepas baju yang sang istri kenakan, setelah itu memandang penuh birahi dua gundukan sintal yang memang tak seberapa besar.

"Aku yakin bisa membuat ukurannya naik dua tingkat," kata Gala sambil memberikan pijatan lembut.

Bulan sendiri hanya bisa memejamkan mata sambil mendongakkan kepala. Bagaimana bisa dia menerima usul dari Tabita untuk menjadikan Tsamara pewaris harta nenek Gayung, jika dengan sedikit usaha dia mungkin akan mengandung anak Gala.

Manusia itu sama, akan setuju dengan hal yang sesuai dengan keadaannya. Dulu dia menerima saran Tabita karena sadar tidak akan mungkin hamil, ada kontrak pernikahan di antara dirinya dan Gala, tapi kali ini mereka sudah sama-sama cinta, Bulan merasa buruk karena rasanya telah membohongi istri sepupu suaminya itu.

"Bulan, bulanmu benar-benar membuatku candu," ucap Gala. Dia menjatuhkan tubuh istrinya ke ranjang lalu mengurungnya dalam kondisi telanjang.

Bulan sendiri hanya memulas senyum, menarik tengkuk Gala agar bibir mereka bisa bertautan lagi.

Sementara itu, Altar benar-benar menjemput Tabita di lokasi syuting dan mengajaknya makan di luar, tapi meskipun di depannya ada hidangan favoritnya, Tabita terlihat masam dan malas-malasan.

"Sayang, aku mohon jangan seperti ini!" pinta Altar.

"Seperti ini bagaimana?"

"Aku minta maaf jika ucapan nenek membuatmu sakit hati. Aku akan berbicara dengan nenek agar tidak memaksamu untuk segera memberinya cucu dan merelakan warisan itu." Altar bicara sungguh-sungguh, ternyata dia pun tersiksa dengan drama warisan buyutnya yang tak pernah berujung ini.

"Aku tidak pernah memkasamu untuk segera memiliki anak. Aku siap menunggu hingga waktu yang tidak bisa aku tentukan berapa lama agar kamu siap memberiku anak,” papar Altar.

Mendengar kalimat suaminya, Tabita tiba-tiba ingin menangis. Altar memang tidak pernah memaksa atau mengancamnya, tapi Tata lah yang selalu berhasil membuatnya tertekan.

Suasana hati Tabita pun berangsur membaik. Wanita itu merasa rugi jika hubungannya dengan Altar menjadi sedingin es hanya karena Tata. Tabita memulas senyum, membalas pelukan Altar saat pria itu berdiri dan langsung merengkuh tubuhnya.

“Maafkan aku! Ke depannya aku akan lebih peduli dengan perasaanmu,” bisik Altar.

“Aku juga minta maaf, karena marahku salah sasaran.”

Altar menganggukkan kepala, mengusap punggung Tabita lembut setelah itu meminta sang istri menikmati makan siang. Keduanya bahkan bergandengan tangan saat pulang dan masuk ke rumah. Mereka kaget mendapati Tata berada di sana.
“Kenapa nenek masih di sini?” Ketus Altar.

“Memang kenapa ini rumah anakku sendiri.”

Altar memegang erat tangan Tabita dan dengan tegas dia berkata,” Aku akan menyerah atas warisan itu. Aku tidak ingin berebut apapun dengan Gala, dan juga aku akan segera pindah dari rumah ini.”

-
-

Tap bintang
Komen

Terjerat Cinta Istri BayaranCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang