Bab 40 : Alat Apa Itu?

910 86 46
                                        

Gala melotot terkejut melihat gambar yang ditunjukkan Bulan kepadanya,dia bahkan sampai menggaruk kepalanya yang tidak gatal, karena berpikir Bulan meminta benda mirip terong itu.

“Kamu mau dibelikan alat itu?” tanya Gala yang mengira sang istri ingin minta dibelikan alat bantu seks.

Tentu saja Bulan kini yang kaget, dia menggelengkan kepala cepat menolak pertanyaan Gala.

“Buat apa?” Tanyanya mencebik, lantas menjelaskan. “Mama dan Oma mau mengajakku periksa kesuburan. Jika pemeriksaan sel telur harus dilakukan  dengan memasukkan alat semacam ini, bayangkan keperawananku diambil oleh alat,” ujar Bulan lagi.

Gala bingung dan memilih mengambil ponsel Bulan. Dia akhirnya membaca dengan seksama artikel yang ada di ponsel gadis itu. USG Transvaginal memang harus memasukkan alat itu ke organ vital.

“Kalau begini bisa gawat,” ucap Gala yang kembali terkejut dan panik.

Bulan pun bingung sampai menggigit ujung kuku ibu jari, dia harus berpikir bagaimana cara mengakali hal ini.

Gala sendiri tiba-tiba menatap nanar ke Bulan, sebelum kemudian berkata, “Bul, katakan kalau selama ini kamu sudah bohong.”

Bulan mengerutkan alis mendengar perkataan Gala.

“Bohong apa?” tanyanya yang bingung dengan pertanyaan Gala, apalagi pria itu terlihat mengiba.

“Bohong kalau kamu masih perawan. Sebenarnya kamu sudah ga perawan, ‘kan? Bilang saja kalau kamu sudah ga perawan, itu malah lebih bagus.” Gala berharap kalau Bulan hanya mengaku-ngaku jika masih gadis.

Bulan melotot dan geram mendengar ucapan Gala. Dia tentunya tidak terima dengan tuduhan itu.

“Siapa yang bohong? Kamu mau lihat sendiri!” tantang Bulan bahkan mengambil gerakan seolah hendak membuka pakaiannya.

Gala sekarang yang panik, bahkan secara spontan memegang lengan Bulan untuk menahan.

“Jangan-jangan! Jangan lakukan itu!” tolak Gala yang terkejut dengan tindakan Bulan.

Bulan salah tingkah saat Gala memegang lengannya. Dia pun melepas tangan Gala dari lengan sedikit kasar, kemudian memilih duduk di tepi ranjang dan mendesau frustasi.

Bulan sampai mengacak-acak rambutnya, berpikir kenapa keluarga Gala berbuat aneh-aneh hanya untuk mendapatkan warisan.

“Kamu bantu aku berpikir, mungkin kamu bisa menggagalkan rencana itu atau suap dokternya untuk berbohong mengatakan kesuburanku tak terganggu tanpa mengecek. Pokoknya, apa pun asal itu bisa membuat aku terbebas dari alat itu juga tuntutan keluargamu,” ujar Bulan yang frustasi.

Gala bingung dan masih mencoba untuk berpikir. Bulan tahu kalau suaminya juga panik dan mungkin saat ini tidak bisa berpikir dengan tenang.

“Aku di sini merasa ga berguna sama sekali tahu, terlebih buat kamu. Sudah susah payah nikah, tapi malah jadi beban. Aku benar-benar ga guna, selain...." Bulan sengaja menjeda lisannya.

"Selain kamu mau tidur denganku,” ucapnya kemudian.

Bulan tiba-tiba mencurahkan apa yang mengganjal dalam pikirannya.

Gala membeku dan hanya bisa menelan ludah mendengar ucapan Bulan, matanya bahkan mengerjap-ngerjap karena tak percaya.

“Memangnya kamu ini bodoh, sampai-sampai bicara seperti itu!”

Bulan menatap Gala dengan ekspresi wajah frustasi.

“Lagian, mana bisa orang making love tanpa cinta,” ucap Gala kemudian.

Bulan menghela napas kasar, lantas berkata, “Kalau begitu aku akan mencintaimu.”

Gala syok, dia salah tingkah dan bahkan bertanya sampai terbata-bata.

“A-a-a- apa maksudmu?”

“Ya, kita saling mencintai saja, tapi pura-pura. Masa ga bisa,” jawab Bulan mulai melantur.

Gala semakin merasa aneh dengan ucapan Bulan. Dia mendekat ke sang istri lantas menyentuh kening gadis itu. Gala pikir Bulan demam, tapi sedetik kemudian dia menjauhkan tangan, karena tidak merasakan panas.

Bulan sendiri malah bingung, kenapa Gala malah menyentuh keningnya. Ia menepis tangan sang suami dan memegangi keningnya sendiri.

“Ga panas,” gumam Gala, “sudah, kamu jangan ngaco, jangan bicara aneh-aneh!”

Setelah mengatakan itu, Gala melempar ponsel Bulan ke kasur. Dia pun membalikkan badan dan hendak pergi, tapi Bulan tiba-tiba menahan pergelangan tangannya. Gala pun terkejut dan menoleh, bahkan jantungnya tiba-tiba berdegup dengan sangat cepat.

Bulan menatap Gala dengan tatapan sendu, selain karena sedih memikirkan masalah tes kesuburan, ada hal lain yang ingin dia bicarakan.

“A-ada apa lagi?” tanya Gala yang mendadak gugup. Pikiran-pikiran aneh mendadak berputar di kepala.

“Itu, tadi aku ketemu Tabita, dia bilang kalau Dominic mau minta nomor ponselku,” jawab Bulan sedikit hati-hati, takut kalau Gala marah.

Gala terkejut, dia pikir Bulan ingin membahas malam pertama, tapi tak disangka malah membawa-bawa Dominic.

“Terus?” tanya Gala sedikit kesal karena harus membahas kekasih Suri itu.

“Boleh ga aku kasih nomorku ke Dominic? Aku memang ga langsung mengiakan, karena aku merasa harus minta izin dulu darimu,” ucap Bulan menjelaskan.

Mendengar ucapan Bulan, entah kenapa membuat rasa kesal Gala seketika menghilang. Dia pun berdiri dengan benar menghadap ke Bulan. Gala mereguk saliva setelah itu bertanya—

“Memangnya, sepenting apa aku buat kamu, sampai-sampai kamu harus bertanya lebih dulu, padahal nomor ponsel itu milikmu,” ujar Gala.

“Penting lah, kamu memang penting, kamu 'kan suamiku.”

_
_

Jangan lupa komen yaaaaaa

Terjerat Cinta Istri BayaranCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang