Bab 57 : Pertanyaan Dokter

800 82 24
                                        

Sambil menunggu namanya dipanggil, Bulan tampak memainkan ponselnya. Dia sedang sibuk berselancar di dunia maya dan terganggu dengan sebuah pesan yang dikirimkan oleh orang yang dikenalnya. Siapa lagi kalau bukan sang mantan suami.

Bulan pun memilih membiarkan pesan itu, tak sadar ternyata Gala sempat melihatnya.

"Pesan dari Arif? Kenapa tidak kamu balas?" tanya Gala.

"Buat apa? Nggak penting."

Bulan lebih memilih langsung memblokir nomor Arif kemudian memasukkan benda pipih itu ke dalam sling bag yang ada di pangkuan.

"Aku jadi penasaran sama mantan suami kamu itu. Bagaimana wajah dan sikapnya. Jika ada kesempatan aku ingin bertemu dengannya," ujar Gala.

“Untuk apa? Dia sudah tidak ada urusannya lagi denganku.”

Bulan memandang Gala dengan tatapan serius, sedangkan pria itu sendiri tampak mengerutkan kening.

"Tidak untuk apa-apa hanya ingin melihat saja," jawab Gala. Dia mengacak-acak rambut Bulan yang terlihat tidak senang.  "Apa kamu tegang? Jangan takut! Kamu tidak sedang akan pergi berperang."

Candaan Gala cukup membuat Bulan terhibur, gadis itu memulas senyum kemudian memandang layar monitor yang menampilkan nomor antrian periksa.

"Berapa lama lagi?" Gumam Bulan di dalam hati.

Setelah beberapa menit menunggu, akhirnya nama Bulan pun dipanggil oleh perawat masuk ke ruang pemeriksaan. Namun, ternyata tidak hanya Bulan yang masuk tapi Gala, Dinar, dan Hana juga ikut. Karena mereka masuk secara rombongan, beberapa pasien yang mengantri periksa pun sampai terheran, menatap ke arah mereka seraya berpikir mungkin ini adalah kehamilan cucu pertama, sehingga semua keluarga ingin mendampingi.

"Jadi, apa yang bisa saya bantu?" tanya sang dokter mengawali proses pemeriksaan itu.

Bulan hanya diam, sejatinya dia bingung karena baru pertama kali pergi ke dokter kandungan, terlebih tidak dalam kondisi sedang hamil.

Dokter mulai merasakan keanehan, hingga Dinar buka suara seolah menjadi juru bicara Bulan.

"Cucu menantu saya ini belum hamil, Dok, tapi saya ingin Dokter memeriksanya untuk mengetahui apakah dia ini subur atau tidak," ujar Dinar.

Dokter wanita itu menatap Bulan dan melihat wajahnya yang tertekan. Dokter kurang lebih paham kondisi apa yang saat ini sedang terjadi.

"Sebelumnya saya mau bertanya untuk siklus menstruasi Anda, apakah jadwalnya teratur atau tidak tentu?"

"Teratur, Dok."

Dokter tersebut terlihat menulis sesuatu di kertas, kemudian lanjut bertanya,"Apakah Anda merasakan sakit saat sedang menstruasi? Dan apakah Anda memakai produk pembersih Miss V?"

Bulan yang mendapat pertanyaan itu merasa malu karena tidak hanya dia yang ada di ruangan itu, tapi juga ada Dinar, mertuanya, Gala dan seorang perawat. Namun, perasaan itu tidak hanya Bulan sendiri yang merasakan. Gala sendiri telinganya sudah tampak berubah warna menjadi merah.

"Saya merasakan sakit saat menstruasi.” Bulan menjawab dengan suara lirih. “Tapi, rasa sakitnya biasa saja dan juga tidak ada produk semacam itu yang saya pakai,”imbuhnya.

Dokter pun menganggukkan kepala dan kembali melontarkan satu pertanyaan.  Dia tersenyum melihat Bulan juga Gala malu-malu saat menjawab pertanyaannya tentang sudah berapa lama mereka menikah.

"Jadi Anda berdua masih terbilang pengantin baru. Em… ini pertanyaan terakhir sebelum ke inti," ucap Dokter. Dia berdehem lalu bertanya, "Dalam satu Minggu berapa kali Anda melakukan hubungan suami istri?"

Entah terlalu polos atau terlalu gugup, Bulan mengeluarkan jawaban yang berhasil membuat semua orang terkejut dan melotot.

"Tidak terhitung, Dok."

Gala sampai menoleh Bulan, memandangi wajah istrinya itu karena tak percaya. Dia sampai malu ketika semua orang menatapnya seakan dirinya memiliki kelainan hiperseksual. Padahal Gala ingat mereka baru dua kali melakukan hubungan suami istri.

Bulan sendiri memandangi satu persatu orang-orang itu ketika dia mendapat tatapan aneh, masih belum sadar dengan ucapannya tadi.

"Baiklah, sepertinya saya harus memberi Anda nasihat, sebaiknya hubungan dilakukan maksimal 2 sampai 3 kali seminggu, karena sperma juga butuh waktu untuk mencapai kualitas yang baik."

Mendengar ucapan dokter, Dinar refleks memukul pundak Gala. Wanita itu kesal dan berkata," Kamu itu manusia apa kuda sih?"

"Mama, jangan marah ke Gala donk! Bukannya itu adalah hal wajar. Keturunan," tukas Hana.

Gala menepuk jidatnya, sedangkan Bulan memilih untuk berpura-pura tak mendengar.

Sementara itu, suasana di kediaman Rafli masih belum berubah. Masih tetap dingin sejak pertengkaran Tabita dengan Tata tempo hari.

"Hari ini apa kamu ada syuting?" tanya Altar ke istrinya saat mereka bersiap-siap untuk pergi.

"Iya," jawab Tabita.

Selain suasana rumah yang dingin, hubungan Tabita dan Altar pun ikut mendingin bahkan percakapan mereka tidak pernah panjang seperti sebelum-sebelumnya.

"Siang nanti apa kamu bisa aku jemput ke lokasi syuting? Kita makan siang bersama. Kita sudah jarang melakukan itu," pinta Altar dengan memasang jam tangannya.

"Sepertinya tidak bisa."

"Tidak akan lama, sayang."

"Aku usahakan, nanti aku kabari."

Keduanya lantas turun setelah selesai bersiap. Tabita langsung duduk tanpa menyapa Tata yang sudah berada di ruang makan.

"Sudah nggak bisa ngasih cicit, sopan santun juga nggak punya," sindir Tata.

Tabita sendiri memilih untuk tak peduli. Dia juga tidak mau marah di pagi hari karena bisa merusak moodnya seharian nanti.

"Sudahlah, Nek. Tidak perlu menyindir istriku seperti itu," ujar Altar.

Tabita pergi bahkan sebelum makanannya habis. Dia tidak berpamitan, tak peduli lagi jika dicap jelek oleh keluarga Altar.

"Lihat itu, tidak punya sopan santun sama sekali ke orang tua." Tata masih saja mengomel, dia membuat Altar ikut pergi dari sana mengejar Tabita.

Altar berlari, mencekal tangan sang istri yang tampak membuang muka sambil mengusap pipi.

"Sayang, aku mohon! Jangan bersikap seperti ini ke aku!" Pinta Altar.

"Aku capek, aku tidak suka ada orang yang mencampuri rumah tangga kita. Sekarang kamu pilih, aku ingin kita keluar dari rumah orangtuamu, kalau kamu memang mencintai aku, kita pindah!" Tegas Tabita.

_
_
_

Satu² dulu penting rutin ya geng

Terjerat Cinta Istri BayaranCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang