Bab 32 : Syarat Aneh Lagi

790 84 38
                                        

Hari itu, Gala akhirnya pergi ke kantor pengacara Nenek Gayung bersama Bulan, Hana, Dinar, dan Kelana. Bahkan ada Tsamara — yang kini duduk di mobil bersamanya dan Bulan sambil bersedekap dada karena kesal.

“Gara-gara papa dan mama aku dibuat malu, masa minta izin ke sekolah karena mau dengerin surat wasiat. Apa tidak ada yang lain? Ini benar-benar memalukan,” gerutu Tsamara.

Bukan tanpa alasan Tsamara mengeluh. Ini karena kepala sekolahnya tadi sampai melongo saat mendengar alasan gadis itu diajak keluar sekolah dan asrama oleh orangtuanya selama satu hari.

Bulan menoleh sekilas ke sang adik ipar, sedangkan Gala hanya memandang dari kaca spion tengah. Mereka sama-sama tak membalas keluhan Tsamara.

Sesampainya di kantor pengacara, Gala terlihat kesal saat bertemu dengan keluarga Altar. Berbeda dengan istrinya dan Tabita yang tampak biasa saja.

“Hai, Bul.” Tabita bersikap santai, bahkan menyapa Bulan dengan ramah.

“Kamu udah lama sampai di sini?” tanya Bulan ke Tabita.

“Ga juga, baru beberapa menit,” jawab Tabita. Ia memperlihatkan ke semua orang kalau hubungan mereka baik-baik saja, tidak seperti suaminya dan Gala yang saling bermusuhan.

“Aku akan membuka salon, nanti kamu datang pas grand opening-nya ya. Aku akan memberimu gratis perawatan head to toe,” ucap Tabita.

Bulan mengangguk kegirangan, kapan lagi dia bisa perawatan gratis dari ujung rambut sampai ujung kuku kaki.

“Wah, tentu saja,” balas Bulan antusias.

"Aku juga mau buka kedai bakmi, nanti kamu mampir makan ke sana ya, kalau sudah buka,” imbuhnya penuh semangat.

Gala dan Altar malah kesal melihat istri mereka asyik sendiri dan akrab, hingga keduanya menarik tangan istri masing-masing  agar saling menjauh.

“Apaan sih?” Bulan kesal karena ditarik paksa begitu saja oleh sang suami.

“Ga usah deket-deket sama istrinya si saus tartar! Haram hukumnya. Haram!” ucap Gala.

"Haram-haram, ga boleh ngomong gitu soal orang," sungut Bulan. Ternyata sama sepertinya, Tabita juga kesal dan cemberut karena ditarik paksa oleh Altar.

Akhirnya mereka pun dipersilakan masuk ke ruang pengacara Nenek Gayung. Mereka terlihat harap-harap cemas untuk mendengarkan isi wasiat lanjutan itu.

Pengacara itu tak langsung ke inti pertemuan, dia malah memberikan kata sambutan seperti ingin berpidato, apa yang dia lakukan membuat semua orang terlihat tidak sabar.

“Pak, langsung saja ke intinya!” celetuk Altar.

“Benar, tidak usah terlalu formal apalagi pakai kata sambutan,” timpal Gala yang kini kompak karena memiliki tujuan sama, mendengar isi surat wasiat  lanjutan itu.

“Baiklah, karena kalian semua berkumpul, jadi saya akan membacakan lanjutan isi dari surat wasiat Ibu Ayu,” ucap pengacara yang akhirnya tak lagi basa-basi.

Pengacara itu membuka lembar surat wasiat lanjutan dari Nenek Gayung dan mulai membacanya dengan suara lantang melebihi toa siskamling.

“Isi dari lanjutan surat wasiat ibu Ayu mengatakan, jika enam bulan setelah pernikahan cicit-cicitnya, salah satu istri mereka belum ada yang hamil, maka semua warisan akan diberikan ke cicit perempuan pertama yang dimiliki keluarga,” ujar pengacara membacakan isi surat wasiat.

Tsamara tersenyum senang, seolah baru saja ada angin segar yang berembus di depan wajahnya, tidak sia-sia dia izin tidak masuk sekolah meski harus malu, jika akhirnya mendengar kabar baik seperti ini.

Gala dan Altar pun terkejut, hingga keduanya pun tidak terima dengan isi surat wasiat itu.

“Kenapa harus enam bulan sudah hamil?” Protes Gala tak terima.

“Benar, memangnya kita bisa memprediksi istri kita hamil setelah berapa bulan menikah,” timpal Altar.

“Kalau gini, aku pakai bayi tabung saja,” gumam Gala yang kesal.

Semua orang terkejut dan bingung, hingga menatap Gala yang terlihat santai. Gala sadar jika sudah salah bicara, hingga dia tiba-tiba gelagapan dan mencoba meralat ucapannya.

“Anak adalah hak Tuhan, mana bisa manusia menentukan,” ujar Gala memberi alasan.

“Sebab itu, karena anak rahasia Tuhan, maka ibu Ayu ingin menentukan siapa yang berhak mewarisi hartanya, atas kehendak Tuhan juga,” balas pengacara.

Altar tertawa senang mendengar ucapan pengacara, sedangkan Gala langsung panik. Bulan dan Tabita menelan ludah dengan wajah pucat mendengar ucapan pengacara.

“Bagaimana ini? Aku sudah menandatangani kontrak yang berisi tidak boleh hamil dulu selama satu tahun, bagaimana caraku mengatasinya,” batin Tabita dengan ekspresi wajah bingung.

“Awalnya mau nikah pura-pura eh dibawa ke KUA, masa sekarang harus hamil anak Gala juga,” batin Bulan dengan wajah pucat.

Tsamara terlihat begitu senang, karena tahu jika sepertinya baik Gala atau Altar tidak akan bisa memenuhi isi wasiat nenek Gayung.

“Apa setelah ini, tidak ada wasiat susulan lagi?” tanya Tsamara untuk memastikan posisinya.

“Tidak ada, ini adalah surat wasiat terakhir,” jawab pengacara, “jika dalam waktu enam bulan sejak pernikahan Pak Gala dan Pak Altar, tidak ada yang hamil di antara Mbak Bulan dan Mbak Tabita, maka di tanggal ini di bulan ke enam nanti, Dek Tsamara berhak mendapatkan semua warisan dari ibu Ayu,” imbuh pengacara mempertegas. Bahkan menekan kata 'semua' agar jelas.

Hana dan Rita saling pandang, sedangkan Dinar dan Tata tampak santai karena yakin jika cucu mereka pasti bisa membuat hamil istri masing-masing sesegera mungkin.

“Tabita itu dari keluarga subur, aku yakin jika Altar yang akan membuat Tabita hamil duluan,” ucap Tata jemawa.

“Kalau Tuhan tidak berkehendak, memangnya kamu yakin kalau Altar akan mengalahkan Gala. Gala juga ga kalah hebat, jadi jangan besar kepala dulu,” balas Dinar sengit.

“Asal kamu tahu saja, Tabita tadi pagi mual-mual. Kamu tahu ‘kan itu tandanya apa, tidak usah aku perjelas,” ucap Tata, sengaja mmebuat keluarga Gala panik.

Tabita terkejut mendengar ucapan Tata, dia pun hendak mengelak tapi pahanya ditahan Altar memberi isyarat agar tidak ikut bicara.

Terjerat Cinta Istri BayaranCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang