Pertikaian pun tidak terhindarkan. Gala benar-benar mengamuk karena Altar tidak kunjung pulang.
“Suruh dia pulang, atau aku obrak-abrik rumah ini!” ancam Gala karena kekesalannya semakin memuncak.
“Kamu tenang dulu, jangan begini,” ucap Rita mencoba menenangkan.
“Minta dia pulang, atau aku akan melakukan hal yang tidak terduga!” Gala tidak mau mendengarkan ucapan Rita dan terus mengancam.
Saat di dalam rumah terjadi keributan. Altar yang sudah diperingatkan Rita agar tidak pulang, malah menginjakkan kaki di rumah. Dia tidak membaca pesan dari Rita, dan kini melihat Gala yang emosi sedang berbicara ke keluarganya.
“Ngapain kamu ngamuk-ngamuk di sini?” Altar terlihat santai dan berjalan mendekat ke arah Gala.
Gala menoleh dan semua pandangan orang pun tertuju ke Altar. Rita tampak was-was karena Altar malah pulang, padahal sudah diperingatkan karena Gala terus mengancam.
Gala buru-buru menghampiri Altar yang baru saja datang, dia pun meraih kerah baju Altar, mencengkram erat hingga terlihat hampir mencekik sepupunya itu.
“Apa maksudmu dengan bertindak gila seperti itu? Mana ada penculik yang gobloknya kayak kamu!” amuk Gala.
Rita, Tata, dan Rafli sudah was-was, mereka berusaha melerai tapi Gala bak elang memegang anak ayam, seolah tidak mau melepaskan mangsanya.
“Udah tahu aku goblok, terus kenapa kamu harus marah? Lagian aku hanya iseng menculiknya,” jawab Altar santai, padahal Gala sudah emosi tingkat dewa.
Gala semakin tak bisa membendung rasa kesalnya mendengar jawaban itu, bisa-bisanya Altar menjawab enteng dengan kata iseng, padahal sudah membuat orang panik.
“Kamu bilang iseng? Apa kamu tahu betapa takutnya dia, hah?” Amukkan Gala semakin menjadi-jadi. Bahkan dia menarik tubuh Altar maju mundur hingga sepupunya itu terhuyung-huyung.
Altar mencoba melepas tangan Gala yang mencengkramnya, tapi ternyata tidak berhasil.
“Apanya takut? Dia malah terlihat santai, bahkan masih bisa pergi dengan tenang,” ujar Altar membela diri.
Tentu saja penjelasan Altar semakin membuat Gala emosi. Dia lantas menarik rambut Altar dan menjambaknya cukup kuat. Kapan lagi ada kesempatan bisa melampiaskan rasa bencinya ke sang sepupu?
“Bulan ketakutan tapi kamu bilang biasa saja? Rasakan ini!” racau Gala sambil menarik rambut Altar dengan kasar.
Sontak Altar berteriak-teriak karena kesakitan, hingga membuat Rafli, Tata, dan Rita kebingungan memisahkan keduanya.
Gala akhirnya berhenti menjambak dan melepas Altar. Dia ingin sekali memukul, tapi ingat jika dia sampai melakukan itu dan Altar mendapatkan memar, maka sepupunya itu bisa dengan mudah menjadikan luka itu bukti kalau dia menganiaya. Namun, jika hanya menjambak, Gala masih bisa mengelak jika itu adalah perkelahian antar saudara.
Tata sudah panik, dipandangnya rambut Altar yang berantakan, sebelum kemudian merapikan rambut cucunya itu, sedangkan Rafli dan Rita meringis melihat kebrutalan Gala.
“Ingat ya, jika sampai kamu membuat ulah lagi, maka aku tidak akan segan membuat perhitungan. Ga hanya mobil damkar yang akan datang ke sini, kalau perlu aku bakal kirim ular cobra satu karung, lalu melepaskannya di halaman rumah ini!” ancam Gala, sebelum kemudian dia pergi dari sana dengan ekspresi wajah puas.
Altar, Rafli, Rita, dan Tata hanya bisa melongo mendengar ancaman Gala, bagaimana kalau pria itu tidak main-main dengan ucapannya, masa mereka harus pegang seruling ala orang India untuk menjinakkan cobra.
"Serem juga ancaman dia," gerutu Altar yang seketika mendapat tatapan tajam dari Rafli.
_
Bulan tiba-tiba saja menyemburkan air yang baru saja masuk ke kerongkongan, dia baru saja mendengar cerita dari Suga tentang Gala yang tadi melabrak Altar.
“Pak Gala ngamuk karena pak Al berani menculikmu. Dia benar-benar bikin huru-hara di rumah pak Rafli,” ujar Suga menceritakan yang terjadi dengan semangat menggebu-gebu.
Bukannya senang karena dibela saat mendengar cerita Suga, Bulan malah tampak panik dan bingung, sebelum kemudian dia bertanya, “Dia galak bener, nanti kalau aku jadi istrinya, terus di KDRT gimana? Kok aku jadi takut.”
Suga berdeham mendengar ucapan Bulan, hingga kemudian berkata, “Kamu ga usah takut, karena Pak Gala itu sebenarnya baik, hanya saja temperamennya yang sedikit buruk. Beda sama adiknya yang bernama Tsamara yang lemah lembut.”
Bulan pun mengerutkan kening, saat Gala dan keluarganya datang melamar, kenapa gadis itu tidak ikut.
“Memangnya adiknya sibuk banget, ya mas? Sampai-sampai tidak ikut saat acara lamaran ala-ala kemarin?” tanya Bulan penasaran.
“Ga juga, hanya saja Tsamara itu masih SMA dan dia tinggal di asrama, jadi mungkin tidak ikut karena terkendala izin, apalagi lamaran kemarin juga dadakan,” jawab Suga menjelaskan.
“Oh, begitu. Oke.” Bulan pun hanya manggut-manggut.
***
Hari berikutnya Bulan pun kembali bekerja dan kebetulan shift siang. Namun, saat baru akan menginjakkan kaki ke kedai, dia melihat seorang gadis yang duduk sendirian di salah satu meja dan tampak belum memesan apa pun. Gadis yang tepatnya remaja itu berpenampilan culun, beberapa pasang mata bahkan nampak jijik melihatnya.
“Pelanggan itu, apa belum dilayani?” tanya Bulan ke temannya.
“Belum, katanya belum mau memesan. Coba kamu tawari lagi,” jawab temannya.
Bulan mengangguk, kemudian berjalan masuk untuk memakai apronnya lebih dulu. Tidak lupa dia mengambil buku menu dan kertas untuk mencatat menu, setelahnya berjalan menghampiri remaja culun tadi.
“Halo, apa kamu mau memesan sesuatu?” tanya Bulan sambil meletakkan buku menu tepat di hadapan gadis culun itu.
Gadis itu sedikit mendongak untuk melihat Bulan yang sudah berdiri di sana. Dia pun tersenyum ramah dan menyapa, “Hai!"
Bulan tentu saja bingung, kenapa gadis itu malah menyapanya seolah mereka sudah saling mengenal.
“Maaf, apa sudah mau memesan?” tanya Bulan lagi untuk memastikan.
Gadis culun itu tersenyum lebar, kemudian mengulurkan tangan. Bulan sendiri merasa bingung, kenapa gadis itu malah ingin berjabat tangan dengannya.
“Perkenalkan, aku Tsamara, adiknya si Galatron.”
Bulan melongo mendengar gadis itu mengenalkan diri sebagai adik monster jahat di salah satu film superhero.
Penampilan gadis itu sangat jauh berbeda dari Gala, membuat Bulan bertanya-tanya apakah benar gadis itu adik Gala, ataukah gadis itu anak pungut sehingga sangat berbeda penampilannya.
"Ah... kalau boleh tahu, sejak kapan kakakmu menjadi musuh ultramen?" Tanya Bulan.
_
_
_
Sejak Orok Bul bul pitbul 🤣
KAMU SEDANG MEMBACA
Terjerat Cinta Istri Bayaran
RomanceJadwal update : Cek Notifikasi dulu ya geng , belum bisa UP sesuai jadwal 🙏 Gala berada dalam masalah besar, dia harus segera mencari wanita dengan status janda, agar bisa mendapatkan warisan dari sang nenek buyut. Awalnya Gala bersikap santai, kar...
