Bab 44 : Beneran Bikin Anak?

1.1K 95 32
                                        


Gala membeku mendengar ucapan Bulan yang terang-terangan. Suasana pun berubah canggung, hanya hembusan angin yang terasa melewati mereka sampai Gala sengaja berdehem.

"Maaf, a-aku asal ngomong."

Bulan kikuk. Ia memaki dirinya sendiri karena sudah bicara asal tanpa berpikir.

"Lebih baik kamu pergi mandi, biar aku yang mikirin cara supaya Oma ga maksa-maksa kamu buat pergi cek kesuburan lagi."

"Hm … "

Bulan mengangguk dan berjalan menuju kamar mandi yang berada tidak jauh dari tempatnya berdiri. Hanya kurang satu langkah lagi untuknya meraih gagang pintu. Namun, dering ponsel membuat Bulan berhenti dan berbalik. Ia berjalan mendekat ke meja pajangan tempatnya meletakkan benda pipihnya itu.

"Dom?" gumamnya melihat nama kontak yang menghubungi.

Bulan berjalan menjauh menuju balkon kamar, melupakan perintah Gala yang memintanya untuk pergi mandi. Walaupun kesal karena Dominic tiba-tiba membatalkan janjinya kemarin, tapi mana bisa Bulan mengabaikan panggilan telepon dari aktor tampan itu.

"Halo, Bulan?"

"Ada apa?"

Bulan menjawab dengan nada kesal dan sedikit ketus.

"Aku ingin meminta maaf untuk kejadian kemarin. Aku tidak bermaksud mengingkari janji bertemu, tapi tiba-tiba saja ada acara mendadak."

Bulan memilih diam tanpa menjawab permintaan maaf dari Dominic. Di seberang sana, pria itu terlihat gusar menunggu jawaban dan berakhir menghela nafas pendek sebelum melanjutkan kalimatnya.

"Sebenarnya aku tidak hanya mau meminta maaf soal kemarin. Aku juga ingin bertanya tentang anting yang Suri berikan padamu, apa itu benar?"

Bulan kesal dan menjawab," Iya, Suri memberikannya padaku. Dia…."

Gala yang sejak tadi memperhatikan sang istri mengobrol dengan seseorang melalui telepon pun mendekat. Dia diam-diam menguping dan tahu jika orang yang sedang berbicara dengan Bulan adalah Dominic.

Gala yang masih kesal dengan kelakuan Suri menyambar ponsel Bulan, tanpa seizin pemiliknya pria itu menempelkan ponsel ke telinga untuk bicara ke Dominic. Gala menatap dingin Bulan, lalu memberi isyarat agar gadis itu tidak melarangnya berbicara.

"Jangan menghubungi Bulan lagi jika kamu hanya ingin bertanya soal anting itu! Suri memberikannya pada Bulan dan berkata anting itu adalah hadiah pernikahan kami. Pacarmu itu sengaja ingin mempermalukan istriku. Jadi Tanyakan sendiri pada Suri dan bilang padanya untuk tidak memberikan hadiah pemberian orang kepada orang lain!"

Gala bicara panjang tanpa jeda. Ia sukses membuat Dominic tak bisa berkata-kata.

"Aku hanya mau minta maaf."

"Minta maaf saja tidak cukup, Suri sudah sengaja membuat Bulan malu. Gadis sepertinya pasti akan melakukan hal yang sama lagi suatu saat nanti. Sebagai pacar seorang aktor sepertimu seharusnya dia tahu menjaga reputasi. Aku harap popularitasmu tidak turun karena tingkah gilanya itu."

"Gala!"

Bulan memanggil nama sang suami. Ia mendekat tapi pria itu mendorong dahinya dengan telunjuk agar tetap menjauh. Bulan tak tinggal diam dan berusaha mengambil ponselnya, bahkan sampai sengaja menginjak kaki Gala dengan kencang.

Gala memekik tertahan, bibirnya komat-kamit mengomel ke Bulan.

"Sekali lagi, aku minta maaf. Bagaimanapun juga anting itu pemberian dariku, jadi aku ikut merasa bersalah." Dominic sadar kalau Gala pasti sangat marah saat ini.

"Sayang sekali, kami tidak butuh permintaan maaf darimu!" Gala memutus sambungan telepon lantas memberikan ponsel itu kembali kepada Bulan.

"Kamu ngomong apaan sih! Ketus banget! Lagipula Dominic mau minta maafnya sama aku bukan kamu," gerutu Bulan.

"Kenapa? Ga suka? Lebih baik kamu hapus saja nomornya! tidak berguna! Penuh-penuhin memori!"

Bulan hanya bisa cemberut. Ia meletakkan kembali ponselnya di atas meja pajangan  dan berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Sementara Gala sendiri buru-buru melompat dan tiduran di atas ranjang.

"Kamu kembalikan saja anting itu ke Suri," ujar Gala. Ia menggunakan tangan kirinya sebagai bantal dengan tatapan tertuju pada langit-langit kamar.

"Mana bisa begitu? Anting itu harus aku jual dan uangnya buat modal usaha kedai bakmi. Aku udah bahagia dapet uang cuma-cuma buat modal, kalau aku kembalikan yang ada aku rugi besar! Lagian anting itu udah jadi hak aku. Kalau Dominic mau minta ganti rugi ya mintanya ke Suri, dong! 'Kan dia yang ngasih anting itu ke aku. Aku juga ga minta ke Suri," tolak Bulan. Ia tak terima dan bicara cepat bak lokomotif kereta.

Mendengar omelan Bulan. Gala pun bangun dari acara rebahannya. Pria itu menatap tajam sang istri, sampai membuat Bulan yang ditatap seperti itu salah tingkah dan memilih mengalihkan perhatian ke arah lain.

"Bagaimana kalau malam ini kita beneran bikin anak, kalau jadi, kamu ga perlu pusing buka kedai bakmi. Kamu tinggal duduk anteng, karena aku akan membagi warisan nenek Gayung. Masalah sandang, pangan, papan kamu udah pasti terjamin sepuluh turunan dan tanjakan."

Bulan membulatkan matanya mendengar ucapan Gala yang sangat enteng. Hampir saja sandal rumah yang dia pakai meluncur ke arah pria itu, jika saja dia tidak bisa mengendalikan diri.

"Kamu kesambet betulan ya? Bukannya kamu tadi nolak dan bilang mau cari cara biar Oma nggak lagi maksa-maksa aku buat hamil, kenapa sekarang berubah?"

"Berani ya kamu ngatain aku?"

Gala melangkah mendekati Bulan yang kini berlari cepat memasuki kamar mandi. Bulan yang baru masuk ke dalam kamar mandi berniat segera menutup pintunya karena takut dijitak oleh sang suami, tapi sayang sekali, karena langkah kaki Gala lebar membuatnya bisa menyusul dan kini menahan pintu kamar mandi.

"Mau kemana kamu, hah? Tanggung jawab!" Pinta Gala dengan tangan menahan pintu agar tidak tertutup.

"Apaan tanggung jawab? Memang aku ngapain?" Bulan mengelak dan berusaha menutup pintu.

Gala mendorong pintu itu dengan keras hingga terbuka lebar. Bulan yang sebelumnya menahan pintu dengan punggung hampir saja tersungkur.

Beruntung tangan Gala dengan sigap meraih pinggangnya. Dua mahkluk itu kini diam dan saling pandang, sampai Bulan menggerakkan badan minta dilepaskan.

"Lepas! Aku mau mandi!"

Bulan merasa salah tingkah. Pipinya bahkan bersemu merah dan berharap Gala tidak melihatnya.

"Apa kamu mau mandi bareng? Kebetulan badan aku juga lengket."

Bak baru saja melihat penampakan kunti disko, ucapan Gala berhasil membuat Bulan merinding. Apalagi pria itu menggunakan nada suara yang rendah nan berat.

"Ti-ti-tidak mau!"

_
_
_

Maaf ya up tersendat lagi kejar kata dan sibuk RL🙏

Terjerat Cinta Istri BayaranCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang