Sebelum lanjut baca, mari tinggalkan jejak dahulu..
Siapkan tempat ternyaman sebelum membaca chapter ini yaa, karena akan memuat banyak kata di dalamnya ^^
Enjoy for reading~
...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Kejadian itu berlangsung singkat, tanpa sempat si gadis pelayan menghindar. Kerudung hitamnya sudah basah oleh noda putih minuman tersebut.
"Ahhahaha rasain!" Sungutnya senang.
"Stephanie Marantika!"
Merasa nama lengkapnya dipanggil, gadis berambut coklat itu menengok ke sumber suara. Dan betapa terkejutnya ia saat pria yang tengah ia hindari tepat berada di ujung matanya.
"A-abin?!" Pekiknya tertahan.
***
Dunianya berhenti berputar saat ia mendengar kembali tawa gadis yang selalu mengisi lubuk hatinya. Wajahnya seketika mengeras saat ia mengetahui tindakan tak terpuji yang tengah gadis itu lakukan. Gadis berambut coklat yang sering ia panggil dengan sebutan neng Stevi itu melakukan hal buruk pada gadis pelayan berhijab yang tengah menjalankan pekerjaannya.
Bukan hanya membuat gadis berhijab hitam jatuh, tapi dalam kesadaran penuhnya ia menyiramkan minuman miliknya ke kepala sang korban dan juga mencacinya. Sungguh perbuatan yang sangat melanggar norma di masyarakat.
Abin bukan hanya tidak menyukai perbuatan yang dilakukan gadis pujaan hatinya, tapi ia juga membenci dengan sangat segala macam tindakan yang berbau bullying. Sebab ia juga pernah berada di posisi gadis berhijab itu.
Saat itu ia masih kecil, memori yang membuatnya trauma kembali berputar. Ia yang lemah, tak memiliki sandaran dan kekuatan untuk bertahan dari segala kekejaman dunia.
Hidupnya luntang-lantung tak tentu arah, ia hanya mampu mengandalkan belas kasihan orang-orang yang berlalu-lalang di depan matanya untuk menyambung hidupnya demi sesuap nasi dan segelas air untuk menghilangkan dahaganya.
Segala macam bentuk penghinaan sudah ia terima, seakan menjadi makanan sehari-harinya dalam kurun waktu empat bulan tersebut. Hanya untuk sesuap nasi, ia rela berkeliling ke rumah-rumah penduduk untuk meminta secercah harapan hidup. Sebagian besar penduduk merasa iba dengan nasibnya, namun sebagian besar lainnya menunjukkan sikap sebaliknya.
Kerap kali Abin kecil yang malang ini mendapatkan tatapan sinis hingga jijik seolah-olah ia adalah sampah yang sangat bau, tak jarang pula ia yang didorong atau ditendang oleh orang-orang yang tak suka padanya—kebanyakan orang-orang ini adalah pengemis asli di daerah tersebut, karena merasa kehadiran Abin kecil akan menggantikan pekerjaan mereka.
Cacian dan makian pun tak pernah luput dari pendengarannya, mereka selalu mengatakan bahwa ia adalah anak yang tak diinginkan, anak haram, anak liar, anak bau sampah—karena memang ia menggantungkan hidup di sekitar tempat pembuangan sampah untuk mencari sisa-sisa makanan atau keperluan lainnya yang masih dapat ia pakai untuk hidupnya.