Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Grasak grusuk enam Dwija itu berlari kecil memasuki area dalam rumah, tentunya setelah mereka mencuci bersih kaki-kaki telanjang milik mereka yang penuh dengan tanah dan segera mencari keberadaan sang ibu.
"Ibu ngga papa?" Tanya Arkan pada ibunya.
Dek Adjie yang tiba-tiba berada di samping ibunya itu pun dengan refleksnya mengecek seluruh tubuh ibunya, dari mulai wajah, tangan hingga ke kakinya. Seakan mencari luka yang mungkin membekas pada tubuh rapuh malaikat tanpa sayapnya itu. Namun nihil, ia tak menemui sejumput luka pun pada tubuh sang ibu.
"Ibu ngga kenapa-napa kok dek." Ujar ibu yang tahu kalau si bungsu khawatir padanya.
Dwija junior lainnya yang berada di belakang Arkan dan Adjie pun baru saja sampai, mereka masih tersengal dengan napas pendek-pendeknya, karena memang Arkan lari dengan lumayan cepat dari pantai ke rumah. Mereka lelah mengejar si nomor tiga dan si bungsu itu yang larinya ngga nyantai.
"Bukan ibu yang sakit mas, tapi mbak ini."
Pandangan Arkan dan lainnya langsung tertuju pada seorang gadis berkerudung abu tua yang langsung terduduk begitu saja saat mendengar suara orang lain yang berada di rumah itu.
Seketika mereka berenam baru menyadari akan kehadiran orang lain yang ada di rumahnya. Padahal letak gadis itu tak jauh dari tempat ibunya berada. Maklumlah, namanya juga lagi panik kan.
"Mbak Adel tiduran lagi aja mbak, pasti kepalanya masih pusing kan?" Tanya ibu khawatir.
"Alhamdulillah udah ngga bu." Jawab gadis itu dengan lirih.
"Ini diminum dulu." Kata Nana sembari menyodorkan teh hangat yang baru saja diseduhnya.
"M-makasih." Balas gadis itu yang kemudian menyesap teh itu dengan segera. Kebetulan sekali ia tengah haus saat ini.
"Ini sebenernya ada apa sih bu? Kata mas Arkan, tadi ibu mau kejambret?" Tanya Abin yang masih belum paham mengenai situasinya.
"Iya bener mas, ibu tadi mau kejambret. Tapi untungnya ada mbak Adel yang udah nolongin ibu nak dari jambret yang mau ngambil dompet ibu. Sayangnya malah mbak Adel yang kena sabetan pisau jambret itu, nih liat aja sampai pipinya kegores sama ada lagi luka di tangannya." Ujar ibunya panjang lebar.
Awal kejadian itu bermula saat ibu Lilis hendak pulang setelah membeli obat untuk sang suami, kebetulan letak apotek itu berada persis di seberang gang yang hanya dibatasi oleh jalan raya.
Jadi posisi bu Lilis saat itu sudah menyebrang jalan raya dan akan kembali ke gang rumahnya.
Jalanan itu awalnya masih sepi, tapi tiba-tiba saja dari arah kanan datanglah dua orang berbadan besar yang mencoba merampas dompet yang dipegang oleh bu Lilis.