8 what's wrong?

225 24 11
                                        

happy reading!

Seminggu sudah berlalu, hubungan Jeriko dan Zahran sedikit merenggang setelah pembicaraan tempo hari.

Sebenarnya pada saat itu, Zahran memang duduk di anak tangga rumah Jeriko dan mendengar kegaduhan dari lantai 2 meskipun samar samar karena teman temannya memang berisik.

'Gak sudi gua ngakuin lo sebagai adik'

Suaranya memang tak begitu kencang namun terdengar jelas di telinganya, dan Zahran hafal betul suara temannya itu.

"Eh pada denger gak?" tanya Zahran pada teman temannya yang lain.

"Hah apaan emang Ran?" Juna balik bertanya.

"Loh gak kedengeran emang?" Zahran keheranan.

"Apaan sih? gak denger apa apa gue" Iyan yang sedang mengobrol dengan Hanif pun ikut nimbrung.

"Oh yaudah kalo gak denger" Zahran mengurungkan niatnya untuk memberitahu kawannya yang lain, mungkin Jeriko akan menceritakan di waktu yang tepat.

"Gajelas Lo!" lalu sebuah bantal sofa mendarat di muka Zahran, pelakunya tak lain dan tak bukan, Adrian.

"Woy rumah orang ini" tegur Acel menengahi keduanya.

Zahran yang hendak membalas Iyan pun langsung mengurungkan niatnya mendengar celotehan Acel.

Akhirnya Zahran memutuskan bergabung duduk di sofa, sambil menunggu tuan rumahnya kembali. Nanti dia bisa bertanya secara langsung pada Jeriko.

"Zahran kenapa dah?" tanya Juan sambil menyesap rokok yang diapit diantara dua jarinya.

Seperti biasa mereka menghabiskan waktu pulang sekolah untuk nongkrong di Wj, hari itu hanya ada Acel, Juan, dan Hanif.

"Zahran sama Jeri berantem kali?" terka Hanif.

"Masa sih?" tanya Juan terlihat skeptis.

"Mereka kan udah temenan dari SMP, masa sih berantem sampe diem dieman gini" terang Juan.

Acel yang sedang memainkan game mobile di ponselnya pun diam diam menyimak obrolan keduanya, dia memang merasa keduanya sudah jarang berkumpul bersama atau yang datang hanya salah satunya, saat Zahran datang Jeriko yang tidak, begitupun sebaliknya.

Entah apa yang terjadi diantara keduanya, Acel yang memang ingin berusaha bersikap netral jadi dia ingin tahu apa yang terjadi menurut pandangan masing masing pihak.

"Lu tanya lah sama Jeri" kata Hanif menyenggol lengan Acel.

Acel menyimpan ponselnya disaku celana lalu beranjak sambil meneguk sisa kopi terakhir di cup plastik yang sudah mendingin.

"Kemana, Cel?" tanya Juna.

"Ada urusan!" jawab Acel sambil berjalan menjauhi Hanif dan Juan yang makin keheranan.

"Kemana tuh?" tanya Juan pada Hanif.

Sedangkan Hanif hanya bisa mengangkat bahunya karena dia juga merasa clueless.

Acel sedang dalam perjalanan menuju rumah Zahran, tadi sebelum beranjak dia sudah mengetikkan beberapa pesan, dia mengatakan bahwa dia akan mampir ke rumah temannya itu.

Tak lama berselang, Acel sudah memasuki daerah rumah Zahran, dilihatnya rumah itu begitu sepi sebab biasanya di depan rumah itu terparkir motor teman temannya yang lain. Dia memilih untuk langsung memarkirkan dan langsung masuk ke dalam rumah itu sambil tak lupa mengucapkan salam.

asa ; jinandraCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang