[TWG] : 31. It's All Real

20.6K 1.4K 56
                                        

Langit yang menggelap perlahan-lahan mulai memudar. Udara dingin di luar menembus kamar yang ditempati oleh sepasang suami istri berselimutkan kain tebal berwarna putih. Saka terjaga sepanjang malam sembari memeluk tubuh mungil istrinya. Kebutuhannya untuk beristirahat dikalahkan oleh keinginan memandang wajah jelita Claire selama mungkin.

Hubungan mereka yang sempat berjarak beberapa saat memupuk rasa rindu akan berada dalam ketenangan dan kententraman seperti ini bersama Claire. Sebentar saja, Saka tak ingin memikirkan beban masalah yang belakangan membuatnya resah. Biarkan dirinya tenggelam dalam euforia kegembiraan ini. Dia ingin memeluk, merasakan aromanya, dan mencium setiap jengkal tubuh Claire tanpa terkecuali dengan penuh pemujaan.

Tidak menahan diri. Bibirnya lantas bergerak mengecup pelipis sang istri, yang berada paling dekat dengan mulutnya. Berpindah menuju lekuk alis tebalnya, kemudian turun ke bawah untuk merasai pipi lembut itu, pucuk hidungnya, dan yang tidak akan Saka lewatkan adalah bibirnya yang terukir dengan sempurna. Kebosanan adalah kata yang tidak mungkin pernah singgah di dalam kepalanya ketika berhadapan dengan bibir Claire.

Ia sadar, dia menyukai keindahan yang nampak oleh matanya. Namun lebih daripada itu, Saka menyukai seluruh diri Claire. Entah itu tubuhnya, jiwanya, karakternya, maupun hal-hal yang tak nampak oleh mata telanjangnya.

Saka tidak peduli kapan rasa ini berkembang. Terpenting buatnya, dia tidak akan membiarkan keraguan semakin mengisi kepala istrinya. Dia akan membuat Claire tak pernah berpikir untuk meninggalkannya lagi.

Claire menggeliatkan tubuh saat sebuah kecupan bersarang di rahangnya. Dengan mata yang setengah terbuka, wajahnya perlahan-lahan mendongak, beradu pandang dengan tatapan sang suami yang sayu.

Saka tak bergerak, menunggu reaksi Claire yang tak menunjukkan ekspresi apa-apa begitu tersadar dengan keadaan mereka—Claire berada dalam pelukannya tanpa mengenakan sehelain benang pun.

Ia tahu mereka tidak mabuk untuk membuat Claire tak mengingat kejadian semalam. Namun dia tetap saja was-was, takut Claire akan menarik ucapannya kembali dan membentang jarak di antara mereka.

"What are you doing?"

Senyum Saka praktis merekah setelah mendengar pertanyaan sang istri yang bernada mengantuk.

Melanjutkan apa yang ia tunda, tangan Saka merayapi tubuh Claire di balik selimut. Bibirnya mengecup bibir manis Claire sekilas, "Memuja kamu," sahutnya yang menjelajah lembut ke lekuk leher sang istri selagi tangannya mengusap punggung Claire naik turun.

Hanya dalam satu kali tarikan, kulit mereka menempel. Tubuh mungil Claire masuk kedalam tubuh besar dan kekar sang suami. Membuat Claire merasa begitu kecil dan tak berdaya.

Masih dengan sisa kantuk, Claire mencoba membuka matanya lebih lebar. Dia tidak benar-benar tahu apa yang ia butuhkan. Kembali tidur karena dia cukup lelah. Atau menuruti gairahnya yang terpancing oleh sentuhan Saka.

"Sekarang jam berapa?" tanya Claire begitu mengingat dia harus bangun pagi agar tidak ketinggalan pesawat.

"...Six?" Saka menjawab tak yakin. Dia menyusurkan hidungnya ke bahu Claire yang lembut lalu menciumnya. "Masih ada waktu kok,"

"Waktu buat apa?" Claire mengerang pelan. Melawan hasratnya. Sedikit mendorong tubuh Saka. "Aku nggak boleh telat. Ini syuting hari partamaku."

"Tapi aku belum selesai," Saka merayu. Melanjutkan kepalanya bergerak turun mencapai dada sang istrinya. Sementara Claire mengerang kala lidah itu mencumbu dadanya.

"Kamu punya banyak waktu," Claire menghentikan Saka dengan membawa kepala sang suami ke atas. Menghadapnya. "Nanti. Setelah kita di Jakarta."

Saka tersenyum lebar. Menurut. "Okay,"

The Wedding GamesTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang