Persiapan pernikahan nyatanya membuat Claire sangat sibuk. Kendati sudah memakai jasa WO serta Mama Saka dan Mami Barra turut membantunya—tetap saja, ada beberapa hal yang memang harus Claire sendiri yang mengurusnya. Meskipun menikah karena keterpaksaan, Claire tidak ingin pesta pernikahannya digosipkan sebagai pesta pernikahan terburuk sepanjang sejarah.
Hah! Mau dibawa kemana mukanya?
Tidak usah bertanya bagaimana Saka. Satu-satunya kontribusi Saka hanyalah memberinya uang dengan nominal tak terbatas. Andai saja tidak. Mungkin Claire sudah mengeluarkan protes pada Saka karena tidak membantunya sama sekali.
Namun sesibuk-sibuknya Claire. Tentu yang lebih sibuk adalah Paduka Arsaka. Cowok itu jarang berada di Jakarta. Terbang dari negara satu ke negara lainnya seperti bolak balik kantor-apartemennya. Mereka jarang bertemu. Walaupun begitu, komunikasi mereka cukup lancar. Saka selalu menelponnya saat cowok itu memiliki waktu luang. Claire pun akan mengabari Saka jika butuh saran untuk pernikahan mereka. Sekilas memang terdengar seperti mereka adalah pasangan yang akur. Pada kenyataanya, mereka tidak berhenti saling mengawasi.
Kedatangan Saka ke panti asuhan tempat Baskara tumbuh sampai ke telinga Claire.
Pertunangannya dengan Saka memang membuat Baskara menjauh. Claire bisa mengerti. Karena itu satu-satunya jalan terbaik untuk melindungi Baskara. Namun Claire tidak bisa berbohong jika hatinya mencelos melihat Baskara mengabaikan keberadaanya ketika mereka berpapasan di kantor.
Claire terlalu terbiasa dengan perhatian dan ketulusan Baskara. Mendapatkan sikap dingin dari cowok itu cukup membuatnya terpukul. Terlebih kondisi Baskara yang nampak makin kurus, wajah kuyu, dan mata berkantung memancing kepeduliannya.
Tak bisa menahan diri, Claire mendatangi Barra ke studionya. Berpura-pura sekedar mampir sembari membawakan cemilan dan es kopi. Lalu sampai lah pada ke pertanyaan, "Bas ... is he okay?"
"Ngapain lo nanyain dia?" Barra menanggapi sinis. "Udah deh. Urusin aja pernikahan lo. Nggak usah sok peduliin Bas padahal selama ini lo cuma mainin hati dia."
Tidak terima. Claire membalas. "You're so mean, Bar. Gue cuma khawatir sama dia."
Barra berdecak. "Kalau lo khawatir mending lo nggak usah kasih liat kekhawatirin lo itu. Jangan kasih dia harapan deh. Padahal ujung-ujungnya lo cuma bakal nyakitin."
"Tau apa sih lo?" Claire menatap Barra berang. Percayalah Claire sama sekali tidak pernah marah disebut antagonis. Toh, dia memang begitu. Tapi pada Baskara ... tidak sekalipun Claire memiliki setitik keinginan menyakiti cowok itu. Baskara adalah orang yang ia pedulikan. Mengambil jarak dengan Baskara pun ia lakukan untuk melindungi cowok itu. "You know nothing, Bar. Lo bergalak seolah-olah sahabat baik dia. Ngajak dia kerjasama bangun bisnis padahal lo cuma jadiin Bas kacung yang beresin semua masalah-masalah lo!"
"Jaga bicara lo, Claire." Barra yang sama tempramentalnya langsung bangkit berdiri. Menatap Claire tajam.
Dua cucu Rudi Salim itu berhadapan dengan kemarahan yang menguar dari tubuh mereka.
"Kenapa? Tersindir?" tanpa ada rasa takut Claire mendongak lebih tinggi. Menunjukkan dia sama sekali tak terintimidasi meski tubuh Barra jauh lebih besar darinya. Hanya satu kali gerakkan, cowok itu mampu melemparkannya ke dinding. "Kenyataannya memang gitu, kan? Lo galau karena Naura, bikin masalah, terus Baskara yang nyelesain. Lo bahkan nggak tahu gimana kesulitannya dia mempertahankan kepercayaan investor karena ulah lo!"
Barra terdiam. Sama sekali tak mengetahui soal itu sebab soal manejemen perusahaan memang Baskara yang mengurus.
"Jangan sok paling baik deh, Bar. Padahal lo dan gue nggak ada bedanya." Ucap Claire yang berhasil membuat sepupunya itu kehilangan kata-kata.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Wedding Games
Romance[COMPLETED] Claire Davina Salim definisi dari keegoisan itu sendiri. Ia tidak ingin dimiliki oleh siapapun. Menikah tidak pernah menjadi tujuah hidupnya, Sampai pria bernama Arsaka Alexander Winata melamarnya.
