Warning!!! Cerita mengandung unsur 21+ bijaklah dalam memilih bacaan sesuai usia.
Genre : Romance, Fluffy, Angsat.
Bukan perihal yang mudah untuk jatuh pada sebuah hati, tapi lebih tidak mudah untuk terus bertahan pada rasa yang sama, pada hati yan...
Tidak pernah ada yang menduga jika Almeera bisa merasakan cinta secepat ini kepada Almert. Tentu saja. Almert itu bisa di bilang misterius, dan membuat Almeera sangat penasaran. Mungkin karena mereka memang baru saling mengenal satu sama lain? Mereka memang sudah saling kenal dari kecil, tapi rentan waktu perpisahan yang cukup lama di antara keduanya, membuat mereka harus memulai segalanya dari 0. atau bisa di bilang mulai dari slaing mencintai?
"Mas hari ini ada meeting, kan?" Almeera menata sarapan mereka, Almeera yang keluar dari kamar dengan dasi yang belum terpasang lantas memeluk istrinya dari belakang dengan mesra. kepalanya ia sandarkan di bahu sang istri, ia lalu mengecup telinga sang istri seraya menggoda, seolah semalam yang mereka lakukan belum cukup untuk membuat itu puas. ya, Almeera memang membuat Almert secandu itu.
"Mas, STOP!" Almeera berhasil melepaskan dirinya dari cumbuan Almert, karena dia tahu, ini bukan waktu yang tepat untuk itu, snagat tidak tepat karena almert harus segera berangkat ke kantor, masa bulan madu mereka sudah lama berlalu, meskipun jujur saja, apa yang dilakukan Almert tadi nyaris membuat Almeera terlena juga.
"Kenapa?" Almert memasang wajah tanpa dosanya.
"Mas jangan mulai deh, gimana pun, mas harus ke kantor tepat waktu, sebagai seorang bos yang baik, harus memberi contoh yang baik pula kepada bawahannya" Almeera mulai mengambil dasi yang tadi hanya bergelantungan di leher suaminya, memasangnya dengan baik, lalu mengusap sejenak bahu dan kerah kemeja agar terlihat lebih rapi.
"Hari ini makan siang di rumah atau dikantor aja?" Tanya Almeera, senyum tak pernah lepas dari wajahnya
"Dikantor, tapi sama kamu" almert memeluk pinggang istrinya.
"ya udah, habis dari rumah mama, aku ke kantor yah, suamiku?" panggilan itu membuat almert tersipu malu, dia menunduk di bahu sang istri, sekitar 5 detik, lalu mengecupnya, membuat almeera kegelian.
"hahaha udah, ayo sarapan," almeera menarik tangan almert menuju ke meja makan.
seperti itulah keseharian almert dan almeera sejak menikah. mereka belajar saling mencintai dengan lebih baik, dan mulai memahami pemikiran satu sama lain. mereka juga saling menerima kekurangan tanpa komplain, hanya saling melengkapi.
~
Evelyn tidak pernah menyangka dia akan ada dalam status hubungan yang seperti ini dengan Erick. ya, Erick, laki-laki yang selama 3 bulan terakhir dia kagumi ini, kini telah berstatus menjadi kekasihnya dan sering menghabiskan waktu bersamanya di atas ranjang.
Erick yang dulu adalah pasiennya, sekarang bahkan menempati tahta tertinggi di hatinya, dan Evelyn tidak akan pernah bisa lepas dari laki-laki ini.
"Apa kau harus berangkat sepagi ini?" Evelyn merengek layaknya seorang bayi, dia memeluk Erick dengan sangat erat tidak peduli meskipun dia kini tanpa busana.
"Ya, harus sepagi ini karena banyak yang harus aku urus" Erick yang lebih tinggi dari Evelyn merendahkan tubuhnya agar sejajar dengan wanita yang kini berstatus sebagai kekasihnya, dia meraih handuk yang di letakkan di atas kursi, dan melilitkannya ke tubuh evelyn.
"I will miss you" lirih evelyn sembari memeluk Erick. Erick sejenak diam, dia teringat akan Almeera, tapi dia segera mengalihkan pikirannya dan balas memeluk Evelyn. Cukup lama mereka berpelukan sampai akhirnya Ponsel Erick berdering, itu dari Jimmy, yang mengingatkannya untuk tidak terlambat hari ini.
Hari ini, mereka berdua memutuskan untuk kembali ke Kota asal mereka, dimana seharusnya mereka berada. Mereka sudah mengabari soal ini kepada Almert, dan Almert dengan tangan terbuka selalu menerima kehadiran kedua sahabatnya ini, tanpa ke khawatiran sedikit pun.
~
Almert sebenarnya bukan tidak khawatir ketika Jimmy mengabarkan padanya bahwa dia dan Erick akan pulang, terlebih lagi, seharusnya dia senang karena operasi transplantasi hati Erick berjalan dengan sukses hingga kini dia bisa dinyatakan sembuh oleh dokter hingga 80%. Dia juga tidak takut jika Almeera akan berpaling darinya, sedikit banyak dia juga sudah bisa merasakan bahwa Almeera mulai mencintainya, lagipula ikatan mereka lebih kuat dari ikatan apapun di dunia ini, suami istri, oleh karena itulah, Almert mampu untuk bersikap biasa saja, Dia bersikap seolah Erick dan Almeera tidak pernah punya hubungan apa-apa, dan menganggap Erick sebagai saudaranya, seperti biasanya, lagipula, posisi GM memang telah lama kosong, sejak absennya erick, almert enggan untuk memberikan jabatan itu pada siapapun, menurutnya, tidak ada yang pantas selain almert.
setelah menerima kabar dari jimmy bahwa dia dan almert akan mengurus surat-surat untuk kepulangan mereka hari ini, almert memutuskan untuk meninggalkan kantor sejenak, menuju ke coffee shop yang ada di depan kantor, hanya untuk membuang sebersit risau yang sempat terlintas, ketika seorang wanita tiba-tiba menarik kemejanya.
"Om, dompetmu jatuh" Almert berbalik, dan mendapati seorang gadis dengan shortpants, dan minidress berwarna putih sedang memegang dompertnya.
"terima kasih" ucap almert. gadis itu hanya menunduk sebentar dan berjalan keluar mendahului almert, ketika almert ingin menyebrang untuk kembali ke kantor, ekor matanya menangkap orang-orang sedang berkumpul, seperti mengerubungi sesuatu.
sebenarnya almert tidak akan peduli, tetapi entah kenapa kakinya melangkah mendekat kekerumunan, dan mendapati gadis tadi yang mengembalikan dompetnya sedang terduduk sambil menangis.
seperti layaknya orang-orang jaman sekarang, bukannya menolong atau bertanya apa yang terjadi, orang-orang yang berkumpul itu malah mengambil ponsel mereka dan mulai merekam video,untuk di sebarkan di sosmed tentu saja.
Almert segera melepas jasnya, menghampiri gadis itu, dan menyampirkan jas itu untuk menutupi si gadis, kemudian menuntunnya untuk berjalan menuju ke arah kantornya.
"Kenapa Om nolongin aku?" gadis itu bertanya, setelah tangisnya reda, dia masih nampak membersihkan sisa-sisa ingus dan air mata yang ada di wajahnya dengan tissue yang di berikan oleh Almert tadi.
Almert terdiam sejenak, benar juga, kenapa Almert menolongnya? biasanya dia tdak akan peduli dengan hal-hal yang bukan urusannya.
"Anggap saja kita impas" ucapnya lalu Almert berdiri dari duduknya menuju ke kursi kebesarannya disana, di balik meja yang ada di ruangannya. "kalau kamu sudah selesai tolong pergi sekarang, sebentar lagi istri saya datang, dan saya tidak mau dia salah paham jika melihat kamu disini" tambahnya setelah membaca pesan yang dikirimkan almeera bahwa dia sebentar lagi sampai.
"boleh gak sih, aku lebih lama? perasaanku masih hancur, aku..."
"kamu bisa pergi sekarang" tegas Almert, dia mulai panik, dia benar-benar takut almeera akan penasaran dengan keberadaan gadis ini sekarang disini, dia mulai menyesal juga kenapa tadi tanpa berpikir panjang dia menolongnya.
"ok. ok. aku pergi, tapi boleh gak aku minta nomor hp om?" tanya gadis itu lagi.
"kamu mau apakan nomor hp saya?" almert tampak tak nyaman, menatap ponsel yang baru saja di sodorkan gadis itu padanya.
"iihhh kasih aja gak sih, siapa tau aku butuh bantuan om lagi kan?"
"saya gak akan nolong kamu lagi, ribetin, mending kamu pergi sekarang sebelum saya panggil keamanan buat usir kamu dari sini" Almert tegas, sesekali dia melirik ke jam yang ada diatas mejanya.
"kalau om usir aku, aku bakalan teriak, bilang kalau aku selingkuhan om yang lagi hamil dan om gak mau tanggung jawab" skakmat.
"kamu..." almert kehabisan kata-kata, karena panik dia mengambil ponsel gadis itu dan mengetikkan nomornya disana, "kamu bisa pergi sekarang" kata almert setelah menyerahkan kembali ponsel gadis itu kepada si pemilik.
"Thank you. aku akan hubungi om lagi, kalau nomornya gak aktif aku akan balik sini buat nyari om lagi" sial, almert merasa terjebak sekarang.
"oh iya, namaku ziva om, di inget yah" gadis itu dengan santai meraih tasnya dan melangkah keluar dari kantornya. untung saja almeera belum datang. almert masih bisa bernafas lega kali ini, dan dia diam-diam berharap, dia tidak akan pernah lagi bertemu dengan gadis bernama Ziva itu.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.