Jika bisa memilih, siapa yang ingin terus terjerumus pada kubangan masa lalu yang menyakitkan? Bahkan jika bisa memilih setiap orang pasti ingin terlahir sebagai manusia baru setiap harinya, melupakan hal-hal buruk yang terjadi dahulu, namun, jika kenangan itu membekas cukup dalam, dan menyisakan luka yang tak terselesaikan, apakah salah bila Almeera justru ingin berlari menghindar?
Almert. Nama itu sejenak bisa dilupakan oleh Almeera, hidupnya yang mulai berhasil dia tata berkat kehadiran erik dan keluargnya yang mulai membuka diri kepadanya, membuatnya lupa akan trauma masa lalu yang teramat dalam. Tapi, kini sosok itu muncul lagi I hadapan almeera, dan seperti lubang cacing yang besar, gelap dan menyerap kehidupan, dia perlahan menekati Almeera.
"TIDAK!!!" teriak Almeera, tapi tak seorang pun yang ada disana, mungkin semua orang sudah melanjutkan aktivitas seperti biasa, dia tantrum memang sudah hal yang wajar, meskipun beberapa bulan terakhir ia sudah tidak pernah lagi mengalaminya berkat terapi dari seorang psikiater, tapi, ini terlalu sunyi, perlahan Almeera melangkahkan kakinya keluar kamar, menuju dapur demi segelas air putih yang akan melegakan tenggorokannya.
"kau sudah bangun?" suara itu berhasil mengejutkan almeera, gelas di tangannya jatuh, terlepas hingga pecah berkeping-keping, almeera hendak memungut gelas itu, tapi almert sudah lebih duu melakukannya.
"jangan bergerak, disitu saja, kau bisa terluka nanti" ucap almert, sejemang, keheningan menyelimuti mereka berua.
"ke-kenapa bapak aa disini?" itu lah yangkeluar dari mulut almeera, begitu almert berhasil menyingkirkan pecahan kaca terakhir dari tangannya.
"karena aku belum menemukan jawaban yang aku inginkan?"
"entah jawaban apa yang bapak maksu..." almeera memutar tubuhnya, membelakangi almert, bahkan wangi rambutnya pun rasanya bisa menghipnotis almert.
"katakan, apa aku sudah terlalu terlambat?" Almert mendekati Almeera, susah payah iya berusaha menahan diri untuk tidak melingkarkan tangan di pinggang ramping wanita di hadapannya.
"maaf saya tidak mengerti apa maksud bapak..." dan Ketika almeera berbalik henak Kembali kekamarnya, jantungnya berdegup ribuan kali lebih cepat dari biasanya, wajah almert berada hanya beberapa cm persis didepan wajahnya.
10 tahun yang lalu...
Hujan deras dan angin kencang sedang menyerbu Kawasan ibukota, almeera hanya bisa bersembunyi di bawah ketiak ibunya yang baru saja pulang bekerja dari rumah utama, hari sudah cukup sore, sebentar lagi malam, tapi karena memang sedang musim hujan jadi gelap menyapa lebih cepat dari biasanya.
"apa kau sudah makan?" gumam ibunya setelah beberapa saat. Almeera menggeleng saat ibunya hendak beranjak almeera menahannya. "disini saja bu" ujarnya "aku akan menunggu ayah pulang" almeera lagi, sebenarnya itu hanya alas an saja, si kecil almeera hanya merasa takut saja, hujan dan angin kencang benar-benar membuatnya takut kali ini.
Sang ibu hanya bisa menatap putrinya, kemudian ia mulai mengerti tanpa harus di ucapkan, firasat seorang ibu, dia tahu kalau putrinya sedang ketakutan, maka dia Kembali berbaring sembari memeluk putri tunggalnya, dan menyampirkan selimut untuk menutup tubuh mereka berdua agar tak kedinginan.
Semenit, sepuluh menit, tiga puluh menit, tapi hujan tak kunjung reda, malah terdengar makin deras saja. Sejujurnya almeera sangat lapar, tapi ia juga takut membangunkan ibunya, karena ternyata ibunya sudah tertidur, mungkin karena kelelahan juga, jai diam-diam dia mengendap keluar kamar, menuju dapur, tapi tak didapatinya apapun yang bisa di makan, maka, almeera hanya bisa terduduk di sofa tua di ruang tamu sembari memandang tetesan hujan yang jatuh, tapia da yang aneh, sesosok manusia tiba-tiba muncul disana, dengan paying di tangan kanannya dan kantongan besar berwarna putih di tangan lainnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Fade
RomanceWarning!!! Cerita mengandung unsur 21+ bijaklah dalam memilih bacaan sesuai usia. Genre : Romance, Fluffy, Angsat. Bukan perihal yang mudah untuk jatuh pada sebuah hati, tapi lebih tidak mudah untuk terus bertahan pada rasa yang sama, pada hati yan...
