Happy reading ✨
***
"Bagus, pulang malem plus gak ngabarin."
Sambutan jutek dari Abian membuat Javie dan Minzy menyeringai lebar.
"Maaf, Abang. Tadi aku sama Mas Javie makan dulu terus main deh. Ini hadiahnya." Minzy menunjukkan boneka berwarna abu-abu yang di pegangnya pada Abi.
Abian yang menyandar pada tembok mendekat. Memencet hidung Minzy dengan gemas. "Bawa makanan gak? Laper nih."
Minzy mengangguk. Javie yang berada di belakangnya menyerahkan tentengan pada Abi.
Senyum langsung terukir di bibir Abi. "Dimaafin, thank you adik Abang."
"Mas yang beliin," jawab Minzy.
"Oh." Setelah itu Abian nyelonong ke meja makan. Mengabaikan reaksi sepet dari Javie.
"Abang tadi dari mana?" Minzy duduk didepannya sambil mendekap erat bonekanya. Sementara Javie duduk disamping Minzy, memainkan ponsel.
"Nyari apartemen buat Levi."
"Bang Levi mau pindah?"
"Cuman beberapa hari, lagi dihukum sama orangtuanya."
"Kenapa lagi?" sahut Javie.
Abian mengunyah makanan dengan pelan. Memperhatikan kedua saudaranya yang penasaran. Ia tertawa sejenak, untung gak keselek.
"Kemarin dia nyiram bunga kesayangan Mamanya pake pewangi pakaian. Tadi pagi mati, jadi disuruh pergi dari rumah."
Javie menyemburkan tawa. Emang ada-ada saja laki-laki satu itu.
"Tinggal di sini aja, kasihan nanti sendirian," saran Minzy setelah ikut tertawa.
Abian menggeleng cepat. Tak akan pernah rela jika kegenitan Levi semakin menjadi-jadi pada adiknya itu.
"Gak, dia harus mandiri."
"Ih? Atau sama Mas Javie aja?"
Javie juga menggeleng. Sehari boleh sih, tapi jika berhari-hari tak mau. Bisa-bisa Levi keterusan tinggal di rumahnya. Apalagi jika Minzy sering berkunjung. Tidak akan ia biarkan laki-laki kumbang itu modus pada Minzy.
"Jahat banget Abang sama Mas."
"Bukan jahat, Levi kan selama ini selalu tinggal sama orangtuanya. Adek tau kan dia gak pernah tinggal lama di luar kota. Jadi biarin dia hidup mandiri buat masa depannya nanti," ujar Javie sok bijak. Namun hal itu dapat mempengaruhi adiknya. Abian mendelik diam-diam.
"Ya udah." Minzy tersenyum manis. Nanti ia bisa mengunjunginya Levi di apartemennya. Lagian ia itu sangat suka dengan sifat humoris Levi. Sering membuatnya tertawa.
"Adek udah nentuin universitas mana?"
"Eum... adek masih bimbang."
Javie mengangguk paham. "Gak usah buru-buru, pikirin baik-baik kedepannya gimana."
"Oke."
"Ganti baju dulu gih," seru Abi.
Minzy tak beranjak, ia menatap Abi yang lahap memakan ayamnya.
"Kenapa?"
"Abang, makasih udah jadi abangnya Minzy. Minzy bersyukur punya Abang yang selalu ada untuk Minzy kapanpun dan di manapun."
Abian terdiam sambil memegang tulang ayam.
Kini Minzy menoleh pada Javie. "Mas juga, makasih udah jadi mas nya Minzy yang paling ganteng. Selalu memberikan yang terbaik buat Minzy."
KAMU SEDANG MEMBACA
Best Friend Ever
Teen FictionMari kita tampilkan sisi terbaik yang kita miliki. Dan aku akan menjadi orang terbaik yang pernah ada dalam hidupmu. Haechan x Winter (Lokal) *Cerita ini hanya fiktif belaka dan untuk nama tokoh hanya sebagai visualisasi saja... Happy reading😀
