"Bohong itu hanya untuk orang-orang yang tidak mengerti tentang hati"
Ziyech
~∞°^°∞~
Hampir saja alarm tidur itu terjatuh untuk yang kesekian kalinya. Tangan dari gadis itu merayap pada meja di samping tempat tidurnya. Alarm berbunyi ketiga kalinya, namun tetap saja diabaikan. Matanya mengantuk berat hingga sulit untuk dibuka. Perjalanan jauh dan kurangnya tidur saat bertugas membuat gadis itu tertidur lelap. Berniat bangun pada waktu Maghrib dan melanjutkan tidur setelahnya, namun tidak ada satu pun alarm yang membuatnya terbangun.
Pukul 11 malam Alisa pun baru terbangun membuka matanya. Melihat pada jam alarm, waktu sudah cukup malam. ekspresinya cukup terkejut, namun kembali merebahkan tubuhnya. Mengumpulkan nyawa yang masih tertinggal di pertigaan mimpi, tatapannya bengong menatap plafon. Dua waktu shalat ia lewatkan, tapi untuk shalat isya ia masih memiliki sedikit waktu. Ia kemudian bergegas bangun dan masuk ke kamar mandi, lalu melaksanakan kewajiban yang sempat ditinggalkan.
Malam adalah waktu yang biasanya membuat seseorang lapar, apalagi baru terbangun dari tidur. Satu-satunya tempat yang harus dikunjungi adalah dapur, tapi satu-satunya makanan yang menjadi solusi adalah mie instan. Emang paling nikmat bangun tidur malam-malam, masak mie instan yang dimakan sambil menonton. Sebelum membuka list tontonan, Alisa membuka layar chat WhatsApp yang memunculkan notifikasi di atas layar.
Matanya terbelalak menatap layar handphone. Sebuah foto dirinya yang tengah tidur menyandarkan kepala pada laki-laki itu. Ziyech mengirimnya pada pukul setengah sembilan malam.
Mie instan yang dibuat tak lagi dipedulikan. Wajahnya gelisah memikirkan apa yang terjadi selama dirinya tertidur di mobil. Laki-laki itu juga tertidur. Itu artinya dia tidak macam-macam, kan?
"Astaga Alisa! Bodoh! Bodoh! Bodoh! Ngapain pake tidur segala coba?" gumamnya.
Pikirannya melayang entah ke mana. Bagaimana jika laki-laki itu beneran memeluknya? Bukan hal yang tidak mungkin baginya untuk melakukan hal kotor seperti itu. Dia juga sangat dewasa dan usianya sudah cukup matang. Melihat dari luar saja matanya langsung jelalatan, bagaimana dengan ini yang duduk berdua di mobil? Alisa pun bangkit dari duduknya mencoba membuang pikiran buruknya. Ia berjalan mondar-mandir.
"Nggak. Nggak. Nggak. Itu tidak boleh terjadi. Laki-laki itu nggak boleh menyentuhku," Alisa bergumam lagi.
Ia menghela napasnya, menahan, lalu membuangnya perlahan. "Oke, Alisa, kamu jangan panik. Hal-hal kotor nggak mungkin terjadi. Itu hanya ketiduran dan laki-laki itu pun sedang tertidur. Dia tidak akan melakukan apa pun karena tertidur. Iyad! Ya, nama temannya itu, Iyad. Dia juga ada di sana. Itu artinya sesuatu sangat besar tidak mungkin terjadi. Laki-laki itu ... aku harus menemuinya besok." Setelah mondar-mandir banyak berpikir, Alisa akhirnya memutuskan untuk menemui Ziyech esok.
Kepanikan dan kegelisahan membuat laparnya seakan hilang begitu saja. Namun kedua matanya memandangi sepiring mie instan yang terlihat lemah dan mengembang. Sayang jika dibiarkan dan berujung masuk pada tong sampah. Selain itu, membuang makanan juga bukan hal yang baik alias mubazir.
Di tengah malam itu Alisa turun-naik tangga sendirian. Mondar-mandir di kamar-masih dihantui oleh pertanyaan-pertanyaan buruk di kepalanya. Kegelisahan itu membuatnya tertidur pada pukul tiga pagi setelah melaksanakan tahajjud.
KAMU SEDANG MEMBACA
Mine (REVISI)
RomantikCinta yang menjadi lara kan amerta dalam prosa Kau ... wanita yang membuatku jatuh cinta, aku masih mengingat senyummu hingga senja tiba. Shakira Khalisa ... ya, itu adalah namanya. Cantik, bukan? tentu saja. namanya cukup untuk mencerminkan semuany...
