16

171 18 2
                                        

"Saya sempat berpikir untuk memilihmu, tapi kesempatan itu sudah tidak ada"

~∞~

Alisa baru saja memasuki rumah sakit untuk jadwal prakteknya hari ini. Beberapa suster terlihat sedang terburu-buru mengikuti langkah dokter yang sedang berjalan menuju ruang IGD. Banyak orang masuk dengan wajah-wajah panik, terlihat seperti keluarga pasien. Tentunya hal itu sudah menjadi pemandangan biasa bagi Alisa setiap harinya. Di tengah kepanikan banyaknya orang, ia berjalan santai menuju ruangannya.

"Dokter Alisa, boleh saya minta tolong bawakan ini ke ruang IGD? Saya minta maaf sebelumnya, suster yang bertugas hari ini sebagian datang terlambat. Ada kecelakaan pagi tadi, banyak pasien yang terluka. Dokter yang bertugas hari ini sangat sibuk," tutur seorang perempuan berseragam perawat. Lembaran kertas yang akan digunakan untuk rekam medis diserahkan pada Alisa.

Alisa menerimanya sambil tersenyum tipis.

"Saya minta maaf karena sudah lancang meminta bantuan dokter."

"Tidak apa-apa." Alisa tersenyum ramah.

"Terima kasih. Permisi!" Perempuan berseragam perawat itu lantas segera pergi terburu-buru.

Tak banyak berpikir, Alisa langsung saja pergi ke ruang IGD dengan nomor yang sudah tertera dalam lembar kertas yang dibawanya. Pagi ini ia beralih tugas sebagai pencatat data pasien atau yang disebut dengan rekam medis. Di dalam ruang IGD seorang dokter tengah menangani satu pasien darurat. Alisa lantas masuk dengan alat tulis yang dibawanya.

"Tekanan darahnya rendah, jantungnya sangat lemah. Sepertinya kita harus segera membawanya ke ruang..." Ucapannya terpotong ketika ia menoleh pada wanita yang menemaninya. Wanita itu seharusnya adalah suster yang bertugas, namun kali ini membuatnya terkejut karena yang berada di sampingnya adalah Alisa.

"Alisa, kamu sedang apa di sini?" tanya Shami. Kebetulan sekali dia adalah dokter yang bertugas pagi ini.

"Menggantikan suster." Alisa menjawab sembari mencatat apa yang Shami katakan tadi.

"Suster ke mana?"

"Sebagian suster datang terlambat, suster yang lain bertugas di ruangan sebelah."

"Ya sudah. Kita akan berbicara nanti, sekarang kita harus membawanya ke ruang ICU!"

Alisa mengangguk. Ia segera membantu Shami mendorong pasien keluar dari ruang IGD, beberapa perawat segera membantu dan membawanya ke ruang ICU. Di sana pasien ditangani dengan sangat ketat, dibantu oleh dokter-dokter lain yang bertugas di bidang spesialisnya. Dengan banyak bantuan akhirnya pasien masih bisa bertahan meskipun belum menyadarkan diri. Semua dokter dan perawat segera keluar dan menangani pasien lain. Dengan segenap informasi yang dicatatnya, Alisa hendak pergi dan menyerahkan dokumen tersebut, namun panggilan Shami membuatnya menahan langkah.

Alisa menoleh begitu Shami memanggilnya.

"Saya perhatikan dari tadi kamu diam saja. Apa ada masalah?" Shami bertanya setelah mengamati perempuan berhijab pashmina itu.

"Tidak ada," kata Alisa.

"Wajahmu menunjukkan bahwa kamu sedang memikirkan sesuatu?"

"Tidak ada masalah apa pun. Lagipula, ini ruang ICU, tidak baik untuk berbicara di sini," jelas Alisa, namun Shami tidak menghiraukan.

Mine (REVISI)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang