"Seperti yang kamu tahu, betapa gilanya saya menginginkan wanita sepertimu"
Ziyech
______________________
Sebuah tawaran kerjasama dengan perusahaan tetangga, perusahaan yang letaknya tidak jauh dari kantor Gavira Group. Ziyech dengan suasana hatinya yang sudah kembali membaik, membuatnya bisa menerima kliennya dengan baik pula. Seperti biasa, dengan keramahan dan kewibawaannya, Ziyech sedang mengadakan meeting mengenai kafe barunya.
Siapa sangka jika klien yang mengajaknya bekerja sama adalah ayah dari gadis yang menjadi incarannya. Tidak ada yang tahu, bahkan Ziyesha sendiri.
Dari keduanya tidak ada yang saling mengenal, baik Ziyech pada Haidar, maupun Haidar pada Ziyech. Mungkin Haidar hanya mengetahui ketika perusahaan itu masih dikelola oleh Hakim Gavira—ayah dari Ziyech. Ia tidak tahu jika yang meneruskan perusahaannya adalah anaknya sendiri—Ziyesha Gavira. Baik Haidar maupun Ziyech, keduanya sama-sama memiliki kesibukan masing-masing, dan hari ini diberi kesempatan untuk bekerja sama.
"Senang berbisnis dengan anda," ucap Haidar menjabat tangan Ziyech seraya memasang senyuman di bibirnya.
"Tentu! Saya juga senang bisa bertemu dengan Bapak," kata Ziyech membalas senyumannya sebagai penghormatan. Mereka lalu keluar dari ruang meeting dengan berjalan sejajar.
"Dulu, saya pernah sekali menjalankan bisnis dengan almarhum Pak Hakim. Dan sekarang, saya diberi kesempatan berbisnis dengan anaknya," ujar Haidar membuka suara.
"Tentu Bapak lebih berpengalaman, Saya masih tahap proses pembelajaran."
"Berada di titik ini, kamu sudah lebih dari hebat," puji Haidar.
Di balik kepribadiannya yang emosional, laki-laki itu memang sangat profesional. Ia bisa menempatkan di mana dirinya harus berwibawa, dan di mana ia harus berperilaku sesuai keinginannya. Semuanya memiliki tempat masing-masing dalam dirinya. Usianya yang cukup, pun membuatnya mampu berpikir dengan matang.
***
"Seriusan kamu nampar dia?" Aisyah bertanya setelah menyimak cerita Alisa yang tampak serius itu. Keduanya duduk di teras
Alisa mengangguk.
"Gak salah juga, sih. Tapi ... berani banget kamu nampar dia." Aisyah memandang heran.
"Orang kayak gitu emang pantas ditampar, kalo bisa dijambak sekalian." Alisa memasang wajah kesalnya.
Aisyah terkekeh kecil. "Jangan berlebihan, biasanya ujung-ujungnya jadi cinta," godanya.
"Enggak!" sanggah Alisa cepat. "Jangan sampai itu terjadi. Demi apa pun aku nggak suka sikap laki-laki kayak dia." Alisa menggelengkan kepalanya seakan mustahil untuknya mencintai laki-laki seperti Ziyech.
"Kita belum tau betul bagaimana sikap aslinya," timpal Aisyah.
"Aisyah, di mana-mana cowok itu kalo suka sama cewek, dia melihatkan sifat-sifat baiknya. Lah dia? Udah penampilan spek berandalan, kelakuannya pun menyesuaikan pula." Alisa berdengus menyepelekan.
"Ya, bagus itu. Itu namanya dia apa adanya, gak berlagak sok baik hanya untuk mendapatkan wanita. Mungkin lebih bagus kalo di balik semuanya, dia adalah orang yang bahkan tidak pernah kamu pikirkan."
KAMU SEDANG MEMBACA
Mine (REVISI)
Roman d'amourCinta yang menjadi lara kan amerta dalam prosa Kau ... wanita yang membuatku jatuh cinta, aku masih mengingat senyummu hingga senja tiba. Shakira Khalisa ... ya, itu adalah namanya. Cantik, bukan? tentu saja. namanya cukup untuk mencerminkan semuany...
