08

178 23 5
                                        


"Jika ada satu hari untuk melupakan seseorang, maka aku akan hidup di hari itu selamanya. Karena mengingatmu adalah ketidakmungkinan yang nyata"

Alisa
____________________


Menggunakan kemeja putih polos dengan kancing yang terbuka, Ziyech bersama dengan anak kecil yang ditemukannya di jalanan, memasuki sebuah rumah sakit. Ia datang dan bertanya pada resepsionis mengenai Alisa.

"Permisi! Ruangan atas nama Dokter Shakira di sebelah mana, ya?" tanya Ziyech.

"Shakira Khalisa, maksudnya?" kata resepsionis memastikan.

"Iya, betul."

"Lurus, belok kanan, dengan pintu nomor 15 itu ruangan Dokter Alisa," jelasnya.

"Terima kasih."

"Sama-sama." Resepsionis memberikan senyuman ramah.

Ziyech menggandeng tangan anak kecil itu menuju ruangan Alisa. Anak kecil yang bahkan tidak diketahui dari mana asal-usulnya. Ia menemukan anak itu di jalanan dalam kondisi tangannya yang sedikit terluka. Sebenarnya, itu tidak perlu dibawanya ke dokter apalagi dokter spesialis anak. Tapi, dikarenakan itu adalah idenya untuk bertemu dengan sang gadis, maka dijadikannya sebuah kesempatan sekaligus alasan agar Alisa tidak lagi menolaknya untuk bertemu.

Sesuai arahan resepsionis, ruangan dengan nomor 15 itu akhirnya ditemukan. Pintu ruangan pun diketuknya, kemudian melangkah masuk setelah sahutan terdengar dari dalam sana. Sebuah ruangan yang dipenuhi dengan obat dan alat. Ziyech memutar bola matanya melihat sekeliling ruangan. Alisa mendongakkan kepala, menutup alat tulisnya. matanya terbelalak ketika melihat seorang lelaki yang memasuki ruangannya.

"Kamu..." gumamnya lirih, menatap pada lelaki yang menggandeng tangan anak kecil itu.

"Hai, Nona." Dengan senyuman percaya diri Ziyech mendekati meja Alisa.

"Ngapain kamu di sini?" Tanpa basa-basi Alisa langsung menanyakan niatnya.

"Bukankah anda seorang dokter? Lihatlah! Siapa yang saya bawa?" Ziyech mengarahkan pandangannya pada anak kecil yang digandengnya.

Alisa menoleh cepat ke arah anak kecil itu. Anak laki-laki yang kira-kira berusia enam tahun. Menggunakan kaos bercorak robot dan celana pendek yang membuatnya terkesan nakal. Alisa tersenyum tipis pada sang anak, lalu kembali mengarahkan pandangannya pada Ziyech dengan wajah datar.

"Anak ini ..."

"Tentunya bukan anak saya!" potong Ziyech cepat. "Kamu tenang saja! Saya masih sendiri. Saya hanya akan memiliki anak, ketika kita menikah nanti," ucapnya lancang, kemudian duduk tidak sopan dengan mata yang menatap nakal pada gadis itu. Tatapannya diiringi dengan lengkungan sudut bibirnya yang terkesan menggoda.

Alisa hanya menghela napas menahan diri untuk tidak emosi.

"Om, aku mau pulang, Om!" Anak kecil itu merengek menarik-narik tangan Ziyech.

"Anak manis, kita harus obati lukamu dulu, baru kita akan pulang. Okay?" Ziyech merayunya dengan memasang senyuman manis.

Anak itu pun mengangguk pasrah.

"Apa anda tidak mau mengobatinya?" tanya Ziyech pada Alisa yang masih bengong kebingungan.

Mine (REVISI)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang