BAB 11

34.9K 1.9K 12
                                    

It's okey. Everything is gonna be okey.

****

Tak terasa seminggu telah berlalu. Lily menjalani hari-harinya di rumah sakit dengan belajar. Tentu ditemani oleh Asher yang setiap harinya datang tepat pukul 5 sore dan pulang pukul 8 malam.

Sama seperti hari ini. Asher yang duduk disamping ranjang rumah sakit dengan laptop yang selalu digunakannya, dan Lily yang fokus mengerjakan soal dengan tangan kanan yang masih dalam kondisi di gips. Dokter bilang, gips masih harus terpasang hingga sebulan kedepan tergantung bagaimana proses penyembuhan tulangnya.

"Nyokap lo jam berapa datang?" Tanya Asher.

Lily kemudian mengambil ponsel baru yang beberapa hari lalu dibelikan oleh Ruby. Katanya ponsel lamanya sudah tidak bisa dipakai karena mesinnya sudah rusak, daripada ganti mesin lebih baik membeli yang baru.

"Kata mama hari ini lembur jadi kayaknya agak maleman deh datangnya." Ucap Lily kemudian menaruh kembali ponsel diatas nakas.

Asher pun mengangguk paham. Tak lama Lily merasa perutnya sakit, ia pun pamit menuju toilet. Namun setelah keluar dari toilet, Lily tidak melihat keberadaan Asher dalam ruangan itu. Laptopnya juga tidak ada, tapi tas laki-laki itu masih ada di atas kursi.

"Ash?" Panggil Lily beberapa kali namun tidak ada jawaban.

Tak ingin ambil pusing, Lily kembali ke kasur dan melanjutkan mengerjakan soal. Cukup lama ia bergelut dengan soal-soal itu, Lily rasa sudah sebaiknya ia berhenti sejenak. Lalu bola matanya kembali menatap kearah tas yang pemilik nya belum juga muncul.

Lily melihat kearah jam dinding dan sudah menujukkan pukul 9 malam. Apa laki-laki itu sebenarnya sudah pulang tapi lupa membawa tas nya?

"Cih. Senggaknya pamit dulu kek." Gadis itu mencibir.

Grr...

Suara perut yang meronta ingin diisi itu berasal dari perut Lily. Gadis itu menghela napas lalu mengambil sebuah dompet yang ada di bawah batalnya. Ia berencana ingin membeli beberapa roti di kantin rumah sakit.

Saat berjalan di lorong rumah sakit, ia melihat seorang gadis remaja dengan wajah pucat keluar dari salah satu kamar inap. Mereka sempat bertatapan tapi tidak ada yang menyapa duluan. Lily pun berjalan kearah lift dan kebetulan gadis remaja itu juga berdiri di sana. Mereka pun berdiri berdampingan menunggu lift terbuka.

Ting...

Ketika lift sudah terbuka mereka berdua pun masuk. Lift itu kosong sehingga hanya mereka berdua disana. Lily sesekali melirik kearah gadis itu. Sebenarnya selama di rumah sakit, Lily sering sekali melihat gadis itu sendirian. Biasanya dia hanya berdiam di depan kamar, atau hanya sekedar berdiam di kamar sambil menatap langit dari jendela.

Kemudian suara lift terbuka, gadis pucat itu keluar. Lily melihat angka lantai yang dituju oleh gadis itu. Lantai 13 yaitu lantai paling atas atau sama dengan rooftop. Tak lama lift kembali tertutup. Lily heran, untuk apa gadis pucat itu ke rooftop sendirian.

"Dia gak mungkin bunuh diri kan? Hahaha kocak banget." Lily tertawa garing karena pikiran konyolnya. Mungkin saja gadis itu hanya ingin mencari udara segar atau suasana baru.

Lily tidak ingin ambil pusing, ia pun berjalan menuju kantin dan membeli beberapa roti disana. Setelah itu ia kembali ke kamar. Namun pada saat melewati kamar dari gadis pucat tadi, melalui kaca pintu, Lily tidak melihat gadis itu kembali ke kamarnya.

Perasaan Lily sebenarnya sudah tidak enak dari tadi. Apa pikiran konyolnya itu akan terjadi? Lily menggeleng ribut. Jangan sampai hal itu terjadi.

"Gak mungkin kan?" Tanyanya pada diri sendiri dengan ragu.

MEMORIA (COMPLETE) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang