BAB 13

34.2K 1.7K 18
                                    

Andai saja, menghilangkan rasa semudah menghembuskan napas, Andai.

****

Lily berjalan menuju kamarnya dengan menggebu-gebu setelah mendapatkan sebuah pesan yang membuat suasana hatinya jadi rusak.

"Brengsek!! Dari mana sih dia tahu nomor gue. Arghhh!!!" Lily melepas sim card nya dan membuangnya asal.

"Oke Ly, tenang." Lily beberapa kali mengambil napas lalu menghembuskan nya perlahan.

Lily harus memikirkan cara untuk menyingkirkan orang gila seperti Yoga. Di kehidupan sebelumnya, Yoga adalah seseorang yang tanpa sengaja Lily temui di sebuah diskotik. Lily yang memang suka berpesta, meminum-minuman keras dan berfoya-foya malah bertemu pria brengsek seperti Yoga.

Laki-laki itu memeras Lily hanya dengan memperlihatkan foto-foto mereka yang tengah tidur bersama. Yoga menipu Lily bahwa mereka telah melakukannya. Meskipun Lily masih menstruasi setiap bulan, Yoga mengatakan bahwa mereka bermain aman sehingga Lily tidak akan sampai hamil. Sampai beberapa tahun kemudian Lily mengalami kecelakaan akibat menunggang kuda, dan dokter mengatakan selaput dara nya robek akibat kecelakaan itu. Lily pun sadar bahwa ternyata dirinya belum pernah melakukannya dengan siapapun.

Lihat saja, Lily akan membuat laki-laki itu menderita kalau saja ia masih menganggu kehidupan Lily kali ini.

"Awas aja lo, cowok brengsek!!"

****

3 bulan telah berlalu...

Akhirnya tangan kanan Lily sudah sembuh dan tidak menggunakan gips dari sejak sebulan lalu.

Setelah 3 bulan berlalu, Lily semakin akrab dengan Selin dan juga Intan. Meskipun satu sekolah keheranan melihat mereka menjadi dekat karena sebelumnya mereka adalah musuh bebuyutan apalagi Lily yang gencar membully Intan, tidak heran orang-orang membicarakan nya.

Semakin dekat Lily dengan Intan, ia tahu bahwa Intan memang memiliki sifat yang baik dan juga perhatian. Tetapi jangan sampai membuat gadis itu marah, karena sekalinya marah ia bisa mengalahkan sensi nya ibu harimau.

Sedangkan Selin, ia tidak menyangka betapa cocoknya ia dengan gadis itu. Terlalu banyak kesamaan yang mereka sukai, dan banyak hal-hal menyenangkan yang Selin ajarkan pada Lily.

Lalu selama 3 bulan ini juga sejak Lily mengganti nomornya, Yoga tidak pernah lagi menghubungi Lily. Entah apa yang direncanakan cowok itu, tapi Lily tidak mau ambil pusing.

"Trilili, Yuhuu pulang yokk." Teriak Selin di depan pintu kelas Lily sambil menyeder pada daun pintu.

Lily yang sedang berbincang dengan Abian pun menoleh, "Bentarr. Tungguin gue." Balasnya.

"Abian, ntar gue chat deh ya tempatnya." Ucap Lily sambil buru-buru membereskan barang-barangnya diatas meja.

"Oke deh, gue tunggu." Balas Abian dan dijawab anggukan oleh Lily.

"Abis ngomongin apa lo sama Abian?" Tanya Selin ketika Lily sudah ada di depannya.

"Tugas. Gue sekelompok sama dia." Jawab Lily. Mereka pun berjalan berdampingan.

"Berdua?" Kali ini Intan yang bertanya.

Lily menggeleng, "Berempat. Asher dan Yuna juga."

"Yuna juga? Iyuh, cewek gatel itu?" Sarkas Selin sambil menunjukkan wajah jijiknya. Lily jadi bernostalgia, wajah itu dulu sering ia lihat ketika Selin menatapnya.

"Udah deh. Gak usah ngomongin orang, pulang aja yuk. Lo langsung pulang hari ini Ly?" Tanya Intan sambil menggandeng tangan Lily.

Lily menggeleng kecil, "Enggak. Gue mau take foto produk dulu di studio."

MEMORIA (COMPLETE) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang