Lily menatap kedua orang tua nya yang diseret keluar oleh sekumpulan orang berjas hitam melalui celah pintu lemari yang saat ini ditempati untuk bersembunyi.
Tangan gadis itu bergetar sambil menggenggam erat inhaler dan menahan mulutnya agar tidak bersuara. Ia menunggu orang-orang yang tak dikenalnya itu pergi agar ia dapat segera mencari bantuan sesuai arahan kedua orang tuanya sebelum ia disembunyikan dalam lemari itu.
Setelah rumahnya terasa sepi, Lily berusaha meraup oksigen sebanyak-banyaknya dan segera menghirup inhaler yang sedari tadi ia genggam. Hanya dengan beberapa tenaga yang tersisa, Lily berlari mencari taxi dan menuju rumah seseorang yang sebenarnya sangat enggan ia datangi, namun hanya mereka yang dapat Lily percaya.
***
Lily menatap sendu kedua orang yang saat ini duduk berhadapan dengannya di ruang tamu.
"Ngapain lo kesini?" Tanya laki-laki itu dengan nada yang sangat dingin, hingga dapat membuat bulu kuduk Lily merinding.
"Ash..." Tegur perempuan yang berada di samping laki-laki itu dengan pelan. Laki-laki itu pun menghela napas, mencoba meredakan emosi lalu mengalihkan pandangan dari sosok gadis yang ada di hadapannya.
Lily menggigit bibirnya kuat, dan tangannya terkepal menahan air mata yang sepertinya akan jatuh.
"Ash...Intan, please tolongin gue." Ucap Lily lirih, dan menatap nanar kedua orang yang selalu ia buat menderita sejak dulu.
"Lo kenapa ly?" tanya Intan lembut dan terselip nada kekhawatiran disana.
"Gue tahu, kalian benci banget sama gue, hiks..." Lily menyeka air matanya yang perlahan mulai jatuh, "Tapi gue mohon, tolongin gue. Orang tua gue diseret sama orang yang gak dikenal, gue gak tahu mau hubungin siapa lagi." Lily memohon dengan menggosok kedua tangannya berkali-kali, sambil berlutut.
"Hubungin polisi sana."
"Ash..." Sekali lagi Intan menegur halus Asher yang menjawab dengan nada ketusnya.
Asher mendesah kesal, "Berani banget lo minta bantuan ke kita setelah apa yang lo lakuin ke Intan! Lo gugurin anak yang dikandung Intan. Lo-hah..." Ucapan Asher tertahan bersama amarah yang akan meledak.
"Ash, udah." Intan menahan lengan Asher dengan maksud menenangkan. Namun air mata yang ia bendung tak dapat ditahan ketika kembali mengingat buah hatinya yang telah tiada.
Lily semakin menunduk dan menangis terseduh-seduh, ia tahu dia adalah pendosa yang telah membunuh anak yang bahkan belum lahir. Lily sadar betapa jahat dan bodohnya dia, dan Lily semakin merasa bersalah karena malah mendatangi mereka untuk mendapatkan bantuan.
"Maaf..."
Hanya kata itu yang diucapkan Lily dengan penuh rasa penyesalan. Ia kemudian bangkit dan membungkuk sekali lagi untuk meminta maaf. Lalu ia pergi, dengan membawa sedikit harga diri yang ia punya. Seharusnya ia sadar diri diawal, bahwa ia tidak berhak mendapatkan maaf dari Asher maupun juga Intan, apalagi mendapatkan pertolongan dari mereka.
Sadar Lily!
"Tunggu!" Suara bariton Asher menghentikan langkah Lily yang sedikit lagi meninggalkan kediaman itu.
"Hanya itu yang bisa gue bantu. Gue harap lo gak muncul lagi dihadapan gue setelah ini."
Lily menatap nanar sebuah kertas cek yang bertuliskan sejumlah uang yang sangat banyak. Ia kemudian menatap tak menyangka ke arah Asher yang sudah pergi, dan kini menatap Intan yang juga menatapnya sambil tersenyum lembut.
"Makasih..." Ucap Lily sambil menangis terharu, lalu ia pergi meninggalkan kediaman itu.
Lily berniat menggunakan uang yang diberikan Asher untuk menyewa pengacara yang dapat membantunya dan orang tuanya. Namun saat ia sedang berjalan melewati jembatan untuk mencari taxi, tiba-tiba seseorang dengan kuatnya mendorong Lily sehingga Lily terpental melewati pembantas jembatan yang memang tidak terlalu tinggi. Tapi Lily berhasil menahan diri dengan menggenggam ujung besi jembatan.
"Tolong!!" Teriak Lily sambil menangis.
Lily menatap seseorang yang memakai tudung berhoodie hitam, berdiri tepat diatasnya. Dari bawah, terlihat ada sebuah scar (bekas luka) dileher dekat telinganya.
Saat ini, dapat Lily lihat bahwa orang itu tengah tersenyum lebar.
"Siapa lo keparat!!!!" Umpat Lily sambil bersusah payah untuk mengangkat tubuhnya.
Lalu, dengan tega ia menginjak tangan Lily dengan keras sehingga pegangan Lily terlepas.
"Arghh!!!"
Lily terjatuh ke sungai. Gadis itu sudah tidak bisa melakukan apapun, karena ia tidak bisa berenang. Bersusah payah ia ingin naik ke permukaan, malah tenaga nya habis sia-sia.
Saat itu Lily sangat menyesali kehidupannya yang sangat menyedihkan karena perbuatanya. Padahal sempat terbersit dipikirannya untuk hidup lebih baik setelah menyelamatkan kedua orang tuanya.
Mama...
Papa...
Asher...
Selamat Tinggal.
***
HALO Semuanya, Yuhuu Alizoxa disini.
Ini cerita yang bener-bener aku buat berdasarkan mood. Semoga aku bisa konsisten yaa buat cerita ini. Semoga kalian enjoy dengan cerita ini. Please give me feedback dengan like dan commentnya.

KAMU SEDANG MEMBACA
MEMORIA (COMPLETE)
FantasyIni semua adalah tentang memoria (ingatan) dari kehidupan sebelumnya. Tapi bukan cerita pengulangan waktu, biasa. Tak pernah terpikirkan oleh Lily bahwa dirinya akan diberi kesempatan kedua untuk kembali hidup. Seumur hidupnya, hanya ia habiskan un...