BAB 12

90.2K 3.8K 17
                                        

Seseorang itu bisa berubah karena dua hal, pikirannya terbuka atau hatinya terluka.

****

Cuaca diluar terlihat sangat terik. Lily sampai harus menyetel AC di suhu 16 derajat. Hari ini gadis itu sudah berada di kamarnya setelah kembali dari rumah sakit.

Tok...Tok...

"Masuk." Seru Lily ketika mendengar suara pintu kamarnya diketuk.

"Halo sayang, gimana perasaannya udah pulang?" Ruby masuk dengan tersenyum sambil berjalan mendekat kearah Lily.

Lily tersenyum lebar hingga matanya menyipit dan mengangguk kencang, memperlihatkan bahwa ia sangat senang sudah berada di rumah.

Ruby terkekeh. Melihat suasana hati Lily yang baik sepertinya Ruby merasa sedikit lega untuk berbicara. "Ehm, Mama mau ngomong sesuatu nih. Boleh?"

Lily menangguk, "Boleh dong ma."

"Karena kondisi kamu udah membaik. Mama rasa, mama udah bisa pergi dinas beberapa hari buat ngurus pekerjaan mama yang udah mama tunda seminggu ini. Gak papa kan?" Tanya Ruby berhati-hati.

Senyuman lebar yang sedari tadi Lily tunjukkan sempat luntur beberapa detik, namun secepat kilat kembali seperti semula. "Kapan?" Tanyanya dengan nada yang seberusaha mungkin biasa saja.

Ruby mencoba tersenyum lalu menggenggam tangan Lily. "Hari ini. Maafin mama ya, padahal kamu baru aja sembuh."

Lily kemudian diam sesaat lalu kembali tersenyum lebar pada Ruby. "Gak papa. Maafin aku ya udah buat perkerjaan mama jadi ketunda."

Ruby menggeleng, "Enggak sayang, jangan ngomong gitu. Kamu akan selalu jadi prioritas mama. Percaya deh." Lily hanya mengangguk sambil tersenyum.

"Yaudah, kalau gitu mama pergi ya. Kamu baik-baik disini. Bi Ratna udah balik dari kampung, jadi kamu gak sendirian lagi. Ohiya uang jajan kamu udah mama transfer semalam, kalau kurang telpon Mama aja ya."

Lily menangguk paham. Ruby pun pamit keluar setelah mencium kening anak semata wayangnya itu. Setelah Ruby pergi, senyuman paksa yang sedari tadi terpasang di wajah cantiknya itu seketika luntur. Lily menghela napas seakan mengeluarkan separuh beban hatinya.

"Seenggaknya mama gak kerja serabutan."

Lily terdiam sejenak.

"Papa juga keterlaluan. Anaknya lagi sakit malah gak pulang-pulang. Nanti gue WA deh minta dibeliin coklat Belanda."

Hening.

"Kok sepi banget ya hidup gue."

Lily melirik kearah tangan kanannya yang masih di gips. Dengan kondisi tangannya yang seperti ini, tidak ada yang bisa Lily lakukan. Ia kemudian berjalan ke pinggir jendela yang di set menjadi window seat sehingga Lily bisa berbaring tepat di samping jendela. Ia kemudian menengok keluar jendela dan terlihat mobil Ruby sudah keluar dari gerbang rumah.

MEMORIA (COMPLETE) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang