BAB 5

40.4K 2.2K 13
                                    

Terkadang kesalahan di masa lalu, menjadi alarm pertanda apakah kau berhak bahagia atau tidak?

***

Lily melipat kedua tangannya menatap cowok dengan pakaian yang urakan serta rokok yang ada di tangan kanannya, tidak hanya berdua, teman-teman cowok itu juga sedang bersama mereka.

Saat ini mereka berada di bawah jembatan tak jauh dari SMA Alexandria, namun sangat jarang dilewati.

"Kenapa lo mau ketemuan? Ada kerjaan baru?" Tanya cowok itu sambil menyebat rokoknya.

"Mulai hari ini, jangan gangguin Intan lagi." Ucapan Lily membuat cowok yang diketahui bernama Faldo itu jadi mengernyit bingung.

"Kalau aja suatu saat nanti lo gangguin Intan lagi, gue-"

"Gue apa?" Faldo kembali menyebat rokoknya kemudian menghembuskan asap rokok itu tepat di wajah Lily hingga membuat gadis itu terbatuk-batuk.

"Lo mau ngancam gue?" Faldo tertawa remeh, "Sadar diri dong. Yang cari masalah dan bayar gue buat nyelakain cewek itu, Lo."

Lily hanya terdiam sambil menutup mulut dan hidung akibat bau rokok yang menyengat dari Faldo.

"Jangan memutar balikkan fakta seakan-akan gue yang nyatikin cewek itu. Gue cuma pelaksana, sedangkan lo dalang dari semuanya."

"Tapi gue gak pernah nyuruh lo buat ngunciin dan siram dia pakai air got. Gue cuma mau lo ngancem dia." Sewot Lily sambil mendorong keras tubuh Faldo menjauh darinya.

Faldo mengapit kedua pipi Lily dengan erat dengan tangan kirinya, "Halah, jangan munafik lo."

Tangan kanannya yang sebelumnya memegang rokok berganti menyusuri wajah Lily yang halus. Faldo tiba-tiba ingin mencium wajah cantik dan mulus itu, namun saat laki-laki itu mendekatkan wajahnya, Lily menggerakkan kepalanya dan membenturkannya tepat di wajah Faldo hingga membuat cowok itu mengaduh kesakitan.

"Cewek sialan!" Geram Faldo dengan mata tajam penuh amarah menatap Lily.

Baru saja gadis itu ingin kabur, tapi teman-teman Faldo segera mencegatnya. Faldo kemudian berjalan perlahan kearah Lily, kemudian menampar gadis itu dengan keras.

Plakkk...Plakkk

Dua kali, Faldo menampar wajah Lily dua kali membuat kedua pipi gadis itu menjadi sangat merah dan lecet. Teman-teman Faldo pun melepaskan Lily sehingga gadis itu pun luruh ke tanah.

"Ambil." Perintah Faldo, dan cowok dengan rambut gondrong diikat satu itu bergerak mengambil inhaler yang ada di saku rok Lily.

"Semoga kita ketemu lagi dalam keadaaan hidup." Ucap Faldo lalu mengambil rokok milik temannya dan menghembuskan asap rokok yang banyak kearah Lily sehingga membuat gadis itu terbatuk-batuk.

Faldo pun tersenyum puas dan berjalan menjauh, dan menjatuhkan inhaler itu tak jauh dari tempat Lily terduduk.

"Gue tahu semua kelemahan lo, gadis bodoh." Gumam Faldo dan kemudian pergi.

Lily yang menghirup banyak asap rokok mulai merasa sesak, lagi-lagi dadanya sakit dan ia mulai susah menghirup udara. Lily melihat inhaler yang dibuang Faldo tak jauh darinnya, dan berusaha meraihn benda itu.

Tak sanggup untuk bangkit, susah payah Lily merangkak hingga membuat bajunya kotor. Namun, dadanya semakin sesak dan penglihatannya semakin kabur. Lily menangis putus asa. Ia sudah tidak sanggup, apakah ini akhir baginya? Padahal ia belum berbuat apa-apa untuk keluarganya.

Namun tiba-tiba ia bisa mulai menghirup udara, perlahan-lahan ia mengatur dadanya dengan bantuan kantong plastik yang menutupi bibirnya. Setelah itu, seseorang membantunnya menghirup inhaler yang berusaha di raih oleh Lily sedari tadi.

MEMORIA (COMPLETE) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang