BAB 23

25.2K 1.5K 20
                                    

Aku ingin tahu kamu yang sebenarnya.

****

Suasana di kedai mie itu begitu tenang. Cahaya remang-remang lampu sederhana yang menggantung di langit-langit menciptakan atmosfer yang hangat dan penuh pesona. Lily berada di luar kedai sedang berdiri dekat dengan kaca jendela.  Matanya terfokus pada sosok laki-laki yang berdiri di balik meja dapur terbuka.

Laki-laki itu tengah sibuk dengan tugasnya, bergerak lincah di antara panci dan peralatan memasak yang tersusun rapi. Suara percikan minyak yang mendarah daging dan bumbu-bumbu yang tercampur sempurna mengisi ruangan, menciptakan aroma yang menggoda selera. Lily tersenyum kecil ketika melihat seorang pelanggan yang sepertinya tengah memuji laki-laki itu hingga membuat laki-laki itu tersenyum simpul. Namun, di tengah kekagumannya terhadap laki-laki itu, dia juga merasa bersalah karena perbuatan buruknya di masa lalu. 

Lily menggigit bibirnya dengan lembut. Dia merenung sejenak, mengalihkan pandangannya dari laki-laki yang sedang sibuk memasak itu. Hatinya berdebar kencang, dan langkah-langkahnya yang hendak menghampiri Asher di kedai itu tiba-tiba terhenti.

Mata Lily, yang tadinya penuh dengan tekad untuk meminta maaf, sekarang mencerminkan keraguan. 

Lily bertanya pada dirinya sendiri, "Aneh gak sih, tiba-tiba datang terus minta maaf?" Hanya beberapa langkah lagi untuk dapat memasuki kedai, tetapi rasa ragu yang mendalam menghantuinya. Ingatannya membawanya kembali ke masa lalu, kejadian yang menyakitkan yang pernah terjadi di antara mereka.

Ketika Lily sedang melamun, tiba-tiba pintu kedai itu terbuka. Dalam sekejap, dunia Lily terasa berhenti berputar sejenak. Pandangan mereka bertemu, dan Lily bisa merasakan jantungnya berdebar kencang. Asher membuka pintu untuknya, memberinya akses untuk dapat masuk ke dalam.

"Lo hobby banget ya berdiri depan kedai ini?"

Lily menelan salivanya, ia tidak langsung menjawab pertanyaan Asher. Gadis itu masih memutar otak untuk mencari alasan.

"Masuk." 

Belum sempat Lily menjawab, Asher langsung mempersilahkannya masuk. Gadis itu hanya mengekor dan duduk di tempat favorite nya di kedai ini.

"Loh neng, datang lagi?" Ucap Pramusaji yang kini Lily tahu namanya Rano. Lily hanya melemparkan seulas senyum.

Rano mengangguk sopan, laki-laki itu melirik sebentar ke arah Asher lalu berpamitan pulang.

"Kedai lo--"

"Makan." Asher menyajikan semangkok ramen dengan menu yang berbada dari sebelumnya. Kali ini Asher ikut duduk di samping Lily dengan menu yang sama.

Mereka duduk dalam diam selama beberapa waktu, menikmati ramen mereka. Setelah mereka selesai makan, suasana tetap sunyi tanpa ada yang memulai pembicaraan.

Asher melirik ke arah Lily. Dia merasa bahwa pasti ada alasan khusus mengapa gadis itu datang ke kedai ini di tengah malam. Tapi, hingga saat ini, Lily tetap bungkam tanpa mengatakan apapun. Asher merasa sebaiknya dia mulai bertanya, mungkin Lily merasa enggan untuk memulai pembicaraan.

"Lo ada masalah?" 

Lily buru-buru menggeleng.

"Serius?" 

"Iya."

Hening. 

Tidak ada lagi yang melanjutkan pembicaraan. Asher lalu merapikan sisa mangkuk setelah mereka selesai makan. Sementara dia membereskan dapur, Lily masih mencoba merangkai berbagai kata-kata untuk menyampaikan permintaan maaf nya agar tidak terdengar aneh.

"Ash--" Perkataannya terhenti ketika melihat wajah panik Asher yang sedang menatap handphone.

"Ash?"

"Sorry Ly, gue harus pergi. Lo naik apa ke sini?" Dengan cepat, Asher melepaskan celemek yang melingkari tubuhnya dan segera bersiap untuk meninggalkan kedai.

MEMORIA (COMPLETE) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang