Bab 25

25.2K 1.5K 46
                                    

Sudah waktunya untuk tidak lagi ada perasaan kecewa-kecewa, sedih, juga overthingking kepada manusia.

****

"Lo yakin gak mau ke rumah sakit?" Davis sekali lagi memastikan bahwa Lily baik-baik saja. 

Davis segera membantu Lily mencari inhaler setelah mereka sampai di mobil Lily. Beruntung, Lily baik-baik saja sekarang. Davis sedikit merasa bersalah, karena Lily seperti ini sebagian karena dirinya.

"Gue gak papa. Thanks ya."

"Mau gue anter pulang?"

Lily menggeleng, ia sedikit terkekeh. Aneh rasanya di khawatirkan oleh Davis seperti ini, biasanya mereka sering bertengkar.

"Telpon gue kalau ada apa-apa di jalan."

"Iya." Ucap Lily lalu menutup kaca jendela mobilnya. Ia pun melesat pergi.

Selama perjalanan, Lily kembali merenung.

Sebenarnya untuk apa dia kembali ke masa lalu? Mengapa tidak ada yang berjalan sesuai dengan keinginannya? Padahal ia hanya ingin bahagia, hanya ingin bahagia.

Ayahnya sendiri selingkuh, ibunya tiba-tiba menjadi semakin sibuk, ia bahkan bertengkar dengan Intan, dan sekarang, hubungannya dengan Asher semakin memburuk.

Semuanya membuat Lily semakin sakit kepala.

Setibanya Lily di rumah, setelah memarkirkan mobilnya, Lily kembali terpaku di tempat. Mobil yang sudah berminggu-minggu tidak pernah Lily lihat tiba-tiba terparkir di halaman rumah. Bukan hanya satu, tetapi dua. 

Ruby dan Danendra ada di rumah.

Baru saja Lily melangkah masuk ke dalam rumah, suara bariton milik Danendra menggema di seluruh ruangan.

"Non Lily sudah pulang, mau makan dulu non?" Tanya Bi Ratna dengan raut wajah khawatir. Bi Ratna sepertinya tidak bisa menyembunyikan ekspresinya yang ketakutan. Mungkin karena pertengkaran kedua orangtuanya.

"Gak papa Bi, aku langsung masuk kamar aja." 

Lily pun menaiki tangga, dan semakin ia melangkah suara kedua orangtuanya semakin terdengar. Sepertinya mereka ada di ruang kerja milik Ruby.

"Jangan serakah kamu Ruby! Aset ini gak bisa kamu rebut begitu saja. Ini hasil kerja keras saya!" Teriak Danendra yang membuat jantung Lily semakin berdegup kencang. 

"Hahaha, kamu lupa atau hanya pura-pura bodoh? Aset ini juga kerja keras saya." Balas Ruby yang tak ingin kalah.

"Kamu sebenarnya mau apa sih hah?! Kamu nyuruh saya menghilang, saya sudah menghilang. Saya bahkan tidak bisa bertemu dengan anak saya walaupun saya rindu."

"Anak yang mana? Anak hasil perselingkuhan kamu?"

"Ruby cukup!"

"KAMU YANG CUKUP!" 

Ruby melempar sebuah amplop. Danendra mendengus, apa lagi yang ditemukan oleh istrinya itu?

"Itu hasil tangkapan kamera CCTV saat kamu di hotel bersama wanita itu."

"Terus?"

Ruby terdiam sesaat, tangannya terkepal kuat. "Di situ ada... ada Lily." 

Segera Danendra membuka amplop itu, dan melihat seorang gadis yang terlihat di dalam sebuah lift, lembar selanjutnnya terlihat gadis itu menggedor pintu-pintu, lalu lembar terakhir yang memperlihatkan gadis itu bersimpuh di balik pilar sambil memegangi dadanya. Danendra mencengkram erat lembaran-lembaran itu.

"Lily sudah tahu kamu selingkuh. Jadi apa lagi yang harus saya pertahankan?" Terdengar suara tegas dari Ruby. 

"Ini surat perceraian. Silahkan di tanda tangani." Ucap Ruby lagi sambil menyerahkan sebuah kertas.

MEMORIA (COMPLETE) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang