18

251 25 2
                                        

SeKai / HunKai FanFiction

Hurt & Comfort, bxb!friend-to-lovers ⚠️

.
.
.

Jongin mengernyit saat merasakan sesuatu di dahinya yang pening, ditambah lagi sinar matahari yang menilik masuk membuat tidurnya terganggu.

"Sudah bangun?" Suara itu menyapanya dengan lembut.

"I-iya, Bibi." Si tan itu menjawab dengan sedikit panik, dia bersyukur tubuhnya sudah terbalut sweater dan celana tidur. "Bibi sudah pulang?" Jongin bertanya ramah.

"Bibi tidak pergi kemana-mana dari kemarin."

Mata bulat itu membelo. Dia masih ingat sekali semalam Sehun mengatakan padanya bahwa di rumah tidak ada orang, lalu sekarang Bibi Yuri mengatakan dia tidak pergi kemana pun.

"Sehun di mana?" Jongin bertanya saat tidak menemukan sahabatnya itu di dalam kamar.

"Sehun sedang memanggil dokter karena demammu semakin tinggi." Yuri merasa sangat khawatir melihat keadaan Jongin. Bibirnya pucat dengan sedikit luka baru, kulit tannya itu memucat, serta demamnya tidak kunjung turun sejak tadi pagi

Jongin menggenggam tangan bibi Yuri dengan erat, "terima kasih, Bibi," katanya dengan tulus pada Yuri yang sejak tadi sibuk mengompres dahinya.

Yuri membalas Jongin dengan senyuman manis, "jangan berterima kasih, nak. Kau sudah seperti bagian dari keluarga ini."

Lalu keduanya mengobrol dengan topik ringan. Yuri menanyakan bagaimana kerjaan dia di restoran Junmyeon, dan bahkan Yuri menawarkan Jongin untuk melanjutkan sekolah tapi si tan itu berkata bahwa dia takut keluarganya tersinggung apabila dia melanjutkan pendidikan dengan dibiayai oleh orang lain.

Meskipun keluarganya jahat, tapi Jongin selalu menjaga perasaan mereka.

"Sebelum Sehun pergi untuk kuliah ke Manchester, apa kau mau untuk lebih sering main kemari?"

Mendengarkan permintaan itu membuat Jongin merasa bersalah. Dia merasa bersalah karena selama ini dia justru menghindari Sehun mati-matian. "Maaf, Bi. Aku tidak pernah bermaksud untuk menjauhi Sehun."

"Bibi tau, Sehun sudah menceritakan semuanya. Ayahnya juga sudah menghukum dia karena telah menghancurkan ruang musik kakakmu dan bahkan memukulnya. Maafkan Sehun, ya."

"Sehun melakukan itu semua untuk membelaku. Ini semua karena aku."

"Tidak, tidak. Sehun membelamu, itu hal yang benar. Tapi dia salah memilih jalannya saja."

Kemudian pintu terbuka. "Lagi ngomongin aku, ya?" Sehun masuk sambil tersenyum. Di belakangnya sudah ada dokter untuk memeriksa Jongin.

Yuri hanya menepuk lengan anak bungsunya yang menatap Jongin dengan jahil. Kemudian wanita itu menghampiri dokter untuk menyapanya. "Terima kasih sudah mau datang di hari liburmu."

Dokter itu mengibaskan tangannya. "Tidak masalah."

Setelah itu sang dokter mulai memeriksa kondisi Jongin ditemani oleh Sehun, sedangkan Yuri sudah kembali ke bawah untuk menyiapkan sarapan. Dokter juga mengganti balutan perban di telapak tangan Jongin yang terluka akibat menggenggam pecahan beling terlalu kuat.

Pemeriksaan berjalan tidak lama, Dokter menjelaskan bahwa kondisi tubuh Jongin lemah karena kelelahan dan kondisi cuaca yang memang sedang tidak baik. Dia sudah menuliskan resep obat dan mengatakan bahwa untuk beberapa hari kedepan Jongin harus istirahat total.

"Jadi, besok aku tidak bisa kerja?" Tanya Jongin saat dokter sudah pamit pergi.

Sehun duduk di sebelah Jongin, menangkup dan mengusap lembut pipi si tan. "Untuk sementara waktu, kau di sini dulu aja, ya? Jangan pergi kemana pun tanpa aku."

UNWANTEDTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang