08 ; Satu Rumah

31.2K 1.9K 26
                                        

__________

“J-jangan pergi ... temenin gue, please. G-gue takut .... ”

“Arzhel ... malem ini gue boleh nginep di rumah lo?”

Suara parau yang terdengar terputus-putus itu, benar milik Brisha.

Di tepi jalan itu, Arzhel bergeming lima detik, sebelum akhirnya mencerna situasi. Dia melonggarkan lilitan tangan di pinggangnya, lekas berputar badan menghadap seorang gadis.

Brisha menunduk dengan bahu gemetar, air mata bersimbah di sepasang pipi. Terdapat koper biru yang digenggam kuat.

“Please, malem ini aja. G-gue ... gak ada tempat lagi buat tidur,” mohon Brisha muram.

“Ngapain bawa koper?” tanya Arzhel mulai penasaran.

“Soal itu, nanti gue jelasin. Lo gak keberatan gue tinggal sementara, kan?”

“Cari tempat lain. Rumah gue bukan penampungan.” Arzhel mengambil langkah maju usai menolak lugas.

“Eh, tunggu! Jangan pergi!” Brisha menarik ujung kaos hitam Arzhel. “M-malem ini aja, ya? Gue mohon.”

“Gak. Pergi ke rumah temen lo.”

“Jesslyn bilang ada banyak tamu penting yang dateng, jadi gue gak bisa ke sana,” beber Brisha bergetar.

“Cari yang lain. Lepas,” suruh Arzhel ketus, menepis tangan Brisha lalu berjalan dengan respons tak acuh.

“Ah, oke. Maaf karena gue maksa, gue ngerti, kok,” lontar Brisha pasrah.

Benar, ia tidak punya hak untuk meminta ini-itu lagi pada Arzhel. Pacaran bohongan sudah cukup, mungkin Arzhel malas dijadikan alat lagi.

Di sisi lain, ketika tapak sandal Arzhel sudah maju enam langkah, tiba-tiba dia tertarik menoleh ke belakang. Pupil gelapnya memantau Brisha yang berjalan gontai sembari menggeret koper biru.

Sejujurnya, Arzhel merasa iba. Tapi sifat waspadanya lebih dominan mengontrol otak.

“Ck, Brisha!”

“Eh?” Refleks yang dipanggil menengok, Brisha tercengang hebat.

Arzhel kembali mendekat, tangan kekarnya merampas koper Brisha dan dipegang erat.

“Cuma malem ini, jangan lebih dari sehari,” lontar Arzhel bergegas pergi.

“L-lo gapapa gue nginep? Bukannya tadi—”

“Nanya sekali lagi, gue buang ni koper,” ancam Arzhel geram. “Mau lo tidur sama gembel pinggir jalan?”

“Sadis amat, iya deh sorry,” gerutu Brisha cemberut, berganti ceria menyamakan langkahnya dengan Arzhel. “Hehe, makasih udah ngizinin, Mas pacar.”

“Boongan.”

Brisha terkikik. “Iya, iya. Lo jadi cowok tsundere banget, dingin dingin manis gitu kayak husbu gue. Bisa-bisa gue baper sama lo, nih.”

Nyatanya, Brisha tidak asal bicara pada perkataannya barusan. Arzhel pasti menganggapnya bercanda.

Brisha takut jilat ludah sendiri. Tidak mungkin baper duluan dengan cowok yang jauh dari tipe idealnya, kan?

Moonstruck Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang