__________
“Shhss, ahh. Pelan-pelan.”
“Sorry, sakit banget?”
“Jangan diteken,” peringat Gabin, kala kapas alkohol menyentuh sudut bibirnya.
Brisha ikut meringis, dengan hati-hati mengobati luka-luka di wajah Gabin —bekas hantaman brutal Arzhel—.
Dinginnya alkohol membasuh memar cowok itu, lumayan banyak sampai perih rasanya akibat serangan mendadak.
Selagi diobati, pandangan Gabin tidak diam. Menyapu sekitar, meneliti intens kamar kost Brisha yang dominan merah. Entah dari mana, aroma mawar merebak di dalam sana.
Kira-kira sudah dua jam, Gabin duduk di tepi kasur Brisha. Sebelumnya pingsan satu jam setelah dihajar Arzhel di depan kost.
“Maaf,” sahut Brisha lirih, mentotolkan kapas pada dahi Gabin. “Gara-gara gue, lo jadi bonyok kayak gini.”
“Gue juga salah, ngajak lo bolos ke taman hiburan.”
“Apa, sih? Kan gue yang mau ikut,” kilah Brisha membela.
Gabin mendesah ngilu. “Lo pacaran sama Bang Arzhel?”
“Gak, males. Bodoamat.”
“Tapi tadi segitunya bonyokin gue abis nganter lo ke sini. Apa lagi kalo bukan cemburu,” beber Gabin, mendengus berat.
“Ck, bukan urusan gue,” tandas Brisha, menempelkan hansaplast di goresan luka Gabin. “Gimana? Masih sakit?”
Gabin menggeleng samar.
“Kak, jawaban.”
“Maksudnya?”
“Yang tadi.”
Mengernyit, benak Brisha kembali teringat pengakuan Gabin di taman hiburan. Sontak wajahnya berpaling ke samping, menghindari tatapan Gabin yang sedu memohon.
“Kak, kasih gue kesempatan. Mau berapa tahun pun, gue bakal nunggu. Boleh?”
Setidaknya kalimat itu yang melekat di ingatan Brisha.
“Emm, l-lo bilang bakal nunggu, kan?”
Bungkam sedetik, lantas Gabin tersenyum. “Oke, gue ngerti. Gue gak nuntut jawaban sekarang.”
“M-makasih, nanti—”
“Pfftt, ternyata bukan pipi gue doang yang merah,” sela Gabin tertawa meledek.
“Diem lo!” pungkas Brisha refleks berbalik, menangkup kedua pipi yang sedikit memanas. Sepulangnya dari taman hiburan, respons fisik Brisha agak aneh.
“SHA! WOI, BRISHA! GASWAT GASWAT!”
“Pelan dikit bisa?” Brisha menghela sebal, Reya teman kostnya menjerit heboh di pintu kamar.
Sembari terengah-engah, Reya menunjuk ke arah luar.
“Itu, anjir! Cogan! Ada cogan depan kost!”
“Siapa?!”
“A-arzhel, cuy! Nungguin lo katanya! Sana samperin, keburu masuk angin kelamaan kehujanan.”
Brisha terhenyak. “Arzhel? Ngapain, sih?! Nyari masalah mulu tuh cowok sinting.”
Buru-buru Brisha berlari, mengintip diam-diam di balik jendela dekat pintu masuk. Area luar rumah masih terguyur hujan, Arzhel dengan kokoh setia berdiri membeku di depan.
Seragamnya basah, tubuh menggigil tertusuk suhu dingin. Bibir memucat, tangan terkepal dengan kepala menunduk. Kondisi Arzhel tampak mengkhawatirkan.
Setelah menghajar Gabin dan disuruh pergi, bisa-bisanya cowok itu masih diam? Brisha mendengus, ia tidak peduli.
KAMU SEDANG MEMBACA
Moonstruck
Jugendliteratur[ END ] 🍭 ROMANCE COMEDY 🍭 Brisha tersenyum tengil. "Lo homo?" Arzhel terkekeh ringan. "Perlu gue buktikan kalo gue bukan homo?" "Yaudah, buktiin," tantang Brisha. "Then, i'll kiss you now." *** Julukan Hot Queen Grenada sudah melekat lama pada di...
