_______
“Jess, lo pernah ngerasain ditolak cowok belok gak?”
“Sinting.”
“Ck, gue serius ini.”
Jesslyn menengok, mengamati Brisha yang uring-uringan di atas kasurnya. Malam ini, tiada angin tiada hujan Brisha merengek mau menginap. Alhasil, terpaksa Jesslyn mendengar segala pertanyaan random sang kawan.
Terlihat, Brisha berguling ke sana-sini, sambil menendang-nendang udara dengan rengekan. Hal itu berlangsung sejak pulang sekolah tadi.
“Argghh, bodoamat! Mau gue tau dia gay pun tetep aja gue cinta!” cetus Brisha.
“Siapa yang lo maksud?” tanya Jesslyn, duduk di tepi kasur sambil ngemil pocky.
“Z-ziel, dia nolak gue lagi. K-katanya gak tertarik sama lawan jenis,” ungkap Brisha sesenggukan.
“Oh, si boti kemayu,” ceplos Jesslyn santai. “Gak aneh, sih. Harusnya dari awal lo sadar, diliat sekilas aja tuh cowok demennya sama yang ganteng.”
“Heh! Sembarangan ngehina Ayang Ziel!” semprot Brisha melotot. “Tapi lo tau dari mana dia belok?” lanjutnya kepo.
“Pfftt.” Jesslyn mengulum bibirnya, tahan tawa. “Ya liat aja mukanya. Cantik kayak gitu udah fiks melambai. Gue gak pernah denger si Jaziel deketin cewek, paling-paling deket sama si Arzhel sampe kegep mojok di perpus.”
“S-serius?” Air mata Brisha makin deras, ia menggigit bantal.
“Pas lo nembak, dia ngomong apa lagi?” tanya balik Jesslyn.
“Z-zi-ziel ngaku suka Arzhel.”
“Pantes,” celetuk Jesslyn mengangguk, menyodorkan pocky stroberinya pada Brisha.
“Sha, mending lo nyerah, deh. Percuma naksir cowok gak doyan meki, yang ada lo tekanan batin. Ditambah saingan lo si Arzhel, gak aneh kalo jadi idaman cowok juga,” nasihat Jesslyn serius.
Mendengarnya, otak Brisha langsung menyusun informasi terkait Arzhel yang ia ingat. Arzhel Kanaga, sekelas dengan Jaziel sekaligus sepupuan. Jenius, tajir, atletis, anak taekwondo dan renang.
Arzhel meraih rangking dua pararel seangkatan, namanya di bawah Jaziel yang rangking pertama.
Kalau dibandingkan, jelas Arzhel lebih unggul daripada Brisha. Cewek bego yang tiap hari kena hukum, pengoleksi nilai jeblok.
Hobinya pun teriak-teriak saat upacara karena Jaziel dipanggil.
“Dipikir-pikir malah kepikiran,” gumam Brisha cemberut.
“Jess, apa gue nembak si Arzhel aja, ya?”
“Pindah haluan lo?”
“Ck, nggak gitu. Misal nih gue pacaran sama dia, otomatis waktu dia lebih banyak sama gue, kan? Nah, karena dia sepupu Ayang Ziel, jadi bisa gue manfaatin biar lebih deket sama Ayang. Hehe.”
“Hadeuh, sinting,” hina Jesslyn tak habis pikir.
“Gimana? Ide gue mantep gak?” tanya Brisha berkedip-kedip berharap.
“Mending lo cinta beneran sama si Arzhel dah, daripada dijadiin jembatan doang. Kalo lo waras, harusnya sekarang lo jijik sama si Jaziel. Padahal kemaren ada dua cowok normal yang nembak lo, sampe ada cowok dari sekolah sebelah dateng cuma buat minta nomer lo.”
Brisha tertegun, mencerna makna kalimat Jesslyn.
“Tapi ... gue gak bisa benci Ziel. Biarpun dia nolak seribu kali, perasaan gue gak bakal berubah. Ziel ... cinta pertama gue pas SD,” ungkap Brisha, refleks Jesslyn tersedak pocky.
KAMU SEDANG MEMBACA
Moonstruck
Teen Fiction[ END ] 🍭 ROMANCE COMEDY 🍭 Brisha tersenyum tengil. "Lo homo?" Arzhel terkekeh ringan. "Perlu gue buktikan kalo gue bukan homo?" "Yaudah, buktiin," tantang Brisha. "Then, i'll kiss you now." *** Julukan Hot Queen Grenada sudah melekat lama pada di...
