vi.

309 38 0
                                        

°•°

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

°•°

°•°

District Shiganshina, Wall Maria, Paradise 845.

"TITAN! ITU TITAN!" teriakan ketakutan memenuhi seluruh kawasan Distrik Shiganshina. Para warga sipil berbondong-bondong berlari menuju tempat teraman.

Para anak menangis deras dalam gendongan ibunya, teror akan titan jelas memenuhi relung hati seluruh manusia didalam dinding.

Banyaknya Pasukan Penjaga serta Polisi Militer berdatangan menuju Distrik Shiganshina yang dikabarkan baru saja dibobol oleh Titan Kolosal.

Seluruh tembok kacau balau, bahkan semua warga dalam dinding Rose sudah bersiap mengungsi bila Titan berhasil masuk.

Para Titan normal ataupun abnormal masuk ke dalam dinding, memakan manusia apapun yang dilihatnya. Lansia, paruh baya, remaja bahkan anak-anak. Itu semua ulah Titan tidak berakal.

Distrik Shiganshina layaknya lautan penuh darah manusia akibat monster bernama Titan. Seluruh penduduk berteriak histeris, tergesa-gesa menuju kapal untuk pergi menuju dinding Rose.

Itu semua pemandangan yang dilihat oleh Bertha diatas tembok. Kekacauan akibat dirinya serta yang lainnya. Bertha menunduk dalam. Kata maaf berulang kali di gumamkannya. Berthold yang berada dibelakang wanita itu juga menundukkan kepalanya.

Seumur hidupnya, ia tidak pernah merasa sejahat ini. Tidak lama kemudian, Annie datang dan mengatakan bahwa saatnya mereka menyusup. Mau tidak mau, mereka memang harus menyusup.

"Pergilah menuju tempat pengungsian." ujar Bertha pada Reiner, Annie dan Berthold.

"Lalu kau bagaimana?" Reiner mengerutkan keningnya.

"Tenanglah. Aku akan menyusul." lagi-lagi Bertha mengatakan seolah-olah ia sudah mengenal tempat ini.

Tidak menolak, ketiga anak itu mempercayai bahwa Bertha akan menyusul mereka. Bertha melihat sekelilingnya, para Titan tidak berakal memakan banyak manusia. Tanpa aba-aba, Bertha membidik senapannya ke tengkuk Titan yang akan memakan seorang anak.

Raut wajah penuh trauma tercetak jelas dari anak perempuan itu. Bertha semakin merasa bersalah melihat banyaknya orang histeris.

Perhatiannya teralih kala mendengar teriakan seorang anak lelaki dan perempuan yang terlihat mengangkat reruntuhan batu. Ah, ada wanita terjepit disana.

Bertha menuju kesana, ia langsung membantu dua anak itu menyelamatkan wanita yang tertimpa reruntuhan. Namun, Titan dengan ukuran badan yang cukup tinggi datang.

"MENJAUHLAH KALIAN BERDUA!" Bertha berteriak lantang pada dua orang anak itu. Anak lelaki, terus histeris dan mencoba mengangkat reruntuhan. Wanita yang terjepit itu menangis dan memohon agar dua anak itu meninggalkannya. Perasaan Bertha sesak sekali.

ᴘᴇᴀᴄᴇ : ʟɪʙᴇʀᴛʜᴀ ᴅʜᴀʟɪꜱᴇ (ᴀᴏᴛ × ᴏᴄ)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang