Karakter utama dalam cerita ini terinspirasi dari lagu Fatin Shidqia dengan judul "Memilih Setia"
Silahkan baca ringkasan para karakter di bagian "THE CAST (with their little story's)
-----
⚠️Cerita ini mengandung adegan 21+ dan karakter LGBT
Tidak...
"Saya akan datang agak siang, tolong lakukan pengecekan dan kirimkan list nya pada saya."
"Ok, Terimakasih ya, saya tutup telpon nya."
Ha Joon meletakkan ponselnya di kitchen bar. Kemudian membawakan nampan yang berisikan makanan yang telah ia masak untuk disajikan di meja.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Tadi malam akhirnya Ji-A menginap dirumahnya. Tidak ada yang terjadi, karena dalam sekejap mereka berdua langsung terlelap dengan pulas. Ji-A dipersilahkan untuk tidur dikamar milik Ha Joon karena kamar yang lain masih dalam keadaan kosong sebab kesibukan membuat Ha Joon tak sempat untuk melengkapi isi rumahnya, sedang Ha Joon memutuskan untuk tidur di sofa yang berada dikamar nya.
Ji-A masih terlelap saat Ha Joon memutuskan untuk memasak sarapan, namun beberapa saat kemudian Ji-A pun ikut terbangun. Wanita itu sempat menawarkan diri untuk membantu Ha Joon menyiapkan makanan nya, namun ditolak oleh Ha Joon. Kemudian Ji-A memilih untuk kembali ke rumah nya dan mengganti pakaian.
Pagi yang cerah dan sejuk. Ha Joon merasa senang tatkala Ji-A langsung mengiyakan ajakan untuk sarapan bersama tanpa penolakan.
Ji-A menepati perkataannya, wanita itu segera kembali ke rumah Ha Joon dalam keadaan bersih sehabis mandi. Wangi harum ciri khas tubuhnya pun menguar merangsang hingga ke Indra penciuman Ha Joon yang menikmati nya. Harum yang sepuluh tahun ini ia rindukan. Betapa setia nya Ji-A masih dengan parfum yang sama sejak ia remaja. Meski harga dan kualitas nya yang sekarang jauh lebih mahal dan terasa sekali kemewahan dari harumnya.
"Makanlah. Apa dia masih belum menghubungi mu?" Ujar Ha Joon. Suaranya terdengar tenang namun tak bisa ditutupi jika ada raut tak senang diwajahnya saat ia memperhatikan Ji-A yang tidak dapat fokus makan sarapan nya dengan benar sebab mengecek ponselnya berkali-kali.
"Hm." Jawabnya, kemudian meletakkan ponselnya.
Dalam jeda beberapa saat akhirnya Ji-A memberanikan diri untuk membahas perkataannya semalam.
"Perkataan ku yang semalam-"
"Kau hanya melantur karena terlalu mabuk. Aku dapat memahami nya, Ji-A." Potong Ha Joon. Ji-A tersenyum sejenak akan penuturan tersebut, jelas terdengar ada kekecewaan disana.
Sebesar itukah kau menyayangiku, Joonie? Tanya Ji-A dalam hati.
"Aku bersungguh-sungguh akan itu, Ha Joon." Tutur Ji-A menatap lekat kedalam mata Ha Joon. Pria jangkung itu menilik kedalam tatapan itu mencari kebenaran dari perkataan Ji-A barusan.
"Aku membutuhkanmu untuk selalu berada di sisiku. Namun aku minta padamu untuk memberikan waktu agar aku bisa melepaskan semua perasaanku terhadap Sehun. Aku tidak bisa mengenyahkan nya begitu saja." Lanjut Ji-A.
"Ji-A, jika kau hanya iba kepadaku, sebaiknya jangan. Nantinya itu hanya akan menyakiti ku. Terlebih aku takut jika perasaan menginginkan mu itu hanya timbul sesaat sebab perasaan hancurmu karena kekacauan yang terjadi dalam rumah tangga mu dan Sehun."