Happy reading
Jeno turun perlahan dari mobil Naja. Ia ragu untuk melangkahkan kakinya. Mengingat sehari sebelumnya halusinasinya datang tepat saat ia tengah berada di kelas. Ia tak ingat siapa saja yang berada disana. Ia takut jika salah satu dari temannya justru akan melakukan pembullyan terhadapnya setelah mengetahui keadaannya.
"Kenapa masih diem disitu?" tanya Naja lembut.
"A-aku.."
"Gak ada yang perlu ditakutin. Mereka gak akan ngelakuin apa-apa ke kamu. Percaya aku."
"Tapi Na-"
"JEN!" suara husky Haekal memotong kalimat Jeno.
Ia menoleh. Tak terlalu jauh dari tempatnya nampak Haekal, Refan dan Yaksa tengah berjalan ke arahnya. Ketiganya menyunggingkan senyum menyapa pemuda itu dengan ramah. Meski begitu, Jeno masih saja ragu.
"Dipanggil koq diem aja?" tanya Yaksa.
"Eung? A-aku.." Jeno menggantung kalimatnya.
Ia menoleh pada sang saudara kembar. Naja merangkul bahunya seraya tersenyum.
"Maaf ya, Jeno agak takut menghadapi kalian," ucap Naja lembut.
Yaksa dan kedua temannya tertegun. Tiba-tiba saja Jeno menjadi takut pada mereka yang selama beberapa minggu ini selalu bersamanya dan memperlakukannya dengan baik.
"Jangan takut, kita kan temen. Dan temen gak akan saling menyakiti," ucap Refan seraya meraih tangan Jeno.
"Bener Jen. Lo udah kami anggap sebagai bagian dari kami. Lo tuh sahabat kami. Dan kami bertiga tulus sama lo. Jadi jangan pernah takut sama kami bertiga, ya?" bujuk Haekal.
Jeno menatap Haekal dan yang lain dengan tatapan terharu. Ia dapat melihat kesungguhan dan ketulusan dari manik mata ketiganya. Beberapa saat kemudian ia mengangguk. Naja yang masih merangkulnya tersenyum lega.
"Thanks ya," ucap Jeno lirih.
"Dan lo juga gak perlu khawatir. Soal trauma juga keadaan lo bakal aman di tangan kami. Gak akan ada yang tau," ucap Yaksa.
Wajah Jeno nampak sendu. Namun ia mencoba untuk tersenyum.
"Sekali lagi thanks. Gue percaya sama kalian," ucapnya.
"Oke deh, gue percayain Jeno sama kalian ya," ucap Naja.
"Beres Kak!" kompak Yaksa dan yang lain.
°°
Jam istirahat berdering. Mark bersama Naja dan Hendery berjalan santai menuju kantin. Mereka asyik berbicara sampai tak sadar jika Lucas dan Devan mendekat pada ketiganya. Mereka baru mengetahui keduanya bergabung setelah Devan menepuk bahu Mark.
"Lo pada kemana kemaren? Kita cariin koq gak ada!?" tanya Devan.
Mark dan Hendery tertegun.
"Apart Jeno," jawab Naja enteng.
KAMU SEDANG MEMBACA
Neighbour | MarkNo (END)
RomancePunya tetangga ganteng, sedap dipandang mata, tapi ngeselin bin nyebelin itu sebenernya anugrah atau malapetaka sih? #1 MarkNo 18/12/2023 #1 Jenonct 20/01/2024 #1 Marknct 14/03/2024
