END

2.6K 128 17
                                        

Happy reading

     

   

Semua yang ada di lorong terkejut kala Jeno menjatuhkan dirinya di lantai rumah sakit dan membungkuk seraya memegangi perutnya. Bukan hanya itu, ia bahkan mengerang kesakitan. Membuat Mark dan juga yang lain semakin panik.

"Aaarrggh..."

"Sayang, yang mana yang sakit?" tanya Mark ikut bersimpuh.

"I-ini," ucap Jeno seraya memegang perutnya yang sakit.

"S-sak-kit. Pe-rut-ku kram."

"Bawa ke UGD Mark!" titah Naja ikutan panik.

Ia dan sang ibu juga kedua mertuanya kini mengerubungi Jeno.

Mark mengiyakan perintah Naja. Ia segera mengangkat tubuh sangat suami.

"Ayo, papa temani!" ujar Hayden.

Ia beralih pada sang istri.

"Papa temenin Jeno sama Mark dulu. Mama disini aja temani Naja."

"Tapi Pa, Jeno..." Fanny mengkhawatirkan putranya.

"Pa, biarin Mama ikut Papa. Naja sama ayah ibu aja disini," ucap Naja mengerti kegelisahan sang ibunda.

"Tapi Refan-"

"Naja benar Pak Hayden. Lebih baik kalian berdua temani Jeno. Disini masih ada kami berdua yang menemani Naja," ucap ayah Refan memotong kalimat Hayden.

"Baiklah, kalau begitu. Kami tinggal lihat keadaan Jeno dulu. Naja, kalo ada apa-apa tolong segera kabari papa!" titah Hayden.

"Iya Pa."

Setelahnya Hayden dan Fanny gegas berlari menyusul Mark yang memapah Jeno menuju UGD.

    

°°

    

Mark, Fanny dan Hayden berdiri dengan gelisah di depan UGD. Selama hampir 15 menit menanti, akhirnya pintu ruangan itu terbuka. Nampak Jeno berjalan dengan dipapah oleh seorang perawat di belakang seorang dokter. Ketiganya bergegas mendekat. Mark meraih tangan Jeno yang terulur padanya. Wajahnya nampak sangat cemas. Sementara Jeno hanya menyunggingkan senyum tipis. Wajahnya sedikit pucat.

"Dokter Oka, bagaimana keadaan suami saya?" tanya Mark pada sang dokter.

Mark mengenal baik dokter senior itu. Karena memang di rumah sakit inilah ia bekerja.

"Kita ke ruangan saya saja, Dok. Ada yang mau saya bicarakan," ucap sang dokter pada Mark.

"Apa kami boleh ikut Dok?" tanya Fanny.

"Maaf, Anda berdua..."

"Mereka orang tua Jeno, Dok," sahut Mark.

Sang dokter menyunggingkan senyum.

"Oh, tentu. Silahkan. Mari ke ruangan saya," ucap sang dokter sopan.

"Apa Anda yakin sudah tidak merasa sakit dan sanggup jalan sendiri?" Dokter tersebut beralih pada Jeno.

Keduanya sudah saling kenal karena sebelum membuka praktek, Jeno sempat bertugas di tempat ini pula.

"Iya Dok. Perut saya sudah tidak apa-apa. Cuma sedikit lemas," jawab Jeno lirih.

"Ya sudah. Jalan pelan-pelan saja supaya tidak sakit lagi."

Jeno mengangguk.

"Kamu yakin kuat Sayang? Mau aku gendong?" tanya Mark cemas.

Neighbour | MarkNo (END) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang