44. Saat-Saat Terakhir

2K 165 14
                                        

Happy reading

   

       

Isak tangis memenuhi lorong di depan ruang ICU kala salah seorang dokter yang menangani Donny keluar dan menyampaikan kabar buruk. Ia berkata saat ini Donny benar-benar di ambang hidup dan mati. Tekanan darahnya semakin menurun. Detak jantungnya melemah walaupun masih naik turun. Untuk sementara tidak ada yang bisa dilakukan selain berdoa. Dan rasanya mereka semua harus mulai mengikhlaskan kepergiannya.

    

°°

     

2 hari setelahnya, keadaan Jeno sudah membaik. Ia sudah boleh pulang. Namun Jeno menolak. Ia ingin tetap berada di rumah sakit. Menunggu dan menemani Donny yang tak pernah lagi bangun. Bergantian dengan Tania dan Hayden. Begitu pula Naja. Ia tak beranjak dari rumah sakit sama sekali. Berdua bersama Jeno, ia seolah tak bosan duduk di kursi depan ruang ICU. Mengharap keajaiban terjadi dan Donny membuka matanya.

Pagi itu giliran Jeno masuk. Berdua dengan sang ayah di dalam ruangan tersebut, digenggamnya erat tangan pucat dan dingin milik Donny. Wajahnya sendu menatap pemuda yang setia dalam lelapnya itu.

"Kak," lirihnya.

"Kakak mau tidur sampai kapan? Kakak gak mau bangun? Kakak gak kangen Jeno?"

Netranya mengembun.

"Jeno kangen banget sama Kakak. Kangen ngabisin waktu berdua sama Kakak. Kangen ngobrol berdua sama Kakak. Kangen masak dan makan bareng di apart bareng Kakak. Kapan kita bisa kaya' gitu lagi Kak?"

Air matanya mulai menetes. Hayden yang berada di hadapannya menatapnya sendu.

"Maaf ya Kak kalo selama kita kenal Jeno udah banyak banget nyusahin Kakak. Jeno selalu tumpahin semua keluh kesah ke Kakak. Jeno selalu nangis di pelukan Kakak. Padahal, Kakak lagi sakit. Padahal beban di pundak Kakak udah berat banget. Maafin Jeno ya Kak."

Jeno menunduk, menatap tangan pucat Donny dalam genggamannya.

"Sekarang Jeno pengen balas semua kebaikan Kakak. Tapi gimana caranya Kak? Kakak gak bangun juga udah 2 hari. Harus berapa lama Jeno nunggu sampai Kakak bangun? Atau..."

Jeno menggigit bibir bawahnya. Ia semakin tak bisa menahan isakannya. Melihat itu Hayden mendekat. Dirangkulnya sang putra dari samping.

"Atau Kakak udah gak bakal bangun lagi? Kakak udah capek ya Kak? Kakak udah gak sanggup untuk pura-pura kuat lagi ya Kak? Hiks..."

"Jadi Kakak beneran mau pergi? Ninggalin Jeno, Naja, papa sama bunda. Iya Kak?"

Badan Jeno bergetar hebat. Hatinya sakit melihat orang yang disayanginya tak bisa lagi mendengar semua kalimat yang diucapkannya. Hayden memeluknya semakin erat. Ia juga tak dapat menahan lajunya air matanya kala mendengar kalimat demi kalimat yang dilontarkan oleh Jeno.

"Pa, Kak Donny beneran gak akan bangun ya?" tanyanya seraya mendongak pada Hayden yang berdiri di sisinya.

Hayden tak bisa menjawab.

"Jeno bener-bener udah terlambat ya Pa? Padahal banyak yang mau Jeno omongin sama Kak Donny. Jeno mau bilang terima kasih sekaligus minta maaf sama Kak Donny, Pa. Apa udah gak ada lagi kesempatan buat Jeno, Papa?"

Neighbour | MarkNo (END) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang