46. Jeno dan Bunda Tania

2K 161 10
                                        

Happy reading

    

    

Naja masuk terlebih dahulu setelah berlari kencang kala mendengar suara lirih Jeno pada ponsel Tania yang di speaker. Beberapa saat kemudian Tania dengan digandeng oleh Fanny dan Yunita, lalu Mark dan terakhir Hayden dengan menggendong sang ibunda masuk ke dalam kamar Donny. Mereka semua melihat bagaimana dengan tubuh setengah bergetar Jeno bangkit dari posisinya yang semula tidur di atas dada Donny, lalu membenarkan kedua tangan pemuda yang kini telah pergi untuk selamanya itu. Jeno menumpuk kedua tangan Donny di dadanya. Menatapnya penuh kasih.

"Selamat jalan Kak Donny. Jeno sayang Kakak."

Dikecupnya pipi Donny selama beberapa saat. Lalu mengusapnya dengan lembut. Setelah itu ia turun dari ranjang. Dan tanpa berkata apa-apa Jeno melangkah keluar kamar diikuti tatapan khawatir Mark, Fanny dan juga Naja.

"Jen," panggil Fanny.

Namun Jeno mengacuhkannya. Ia terus melangkah. Kemudian Naja mengikutinya.

"Tante disini aja, temani Tante Tania. Jeno biar sama kami," ucap Mark.

"Iya Mark. Terima kasih. Tante titip Jeno sama Naja ya?" lirih Fanny.

"Iya Tante."

Setelah itu Mark beranjak menyusul Jeno. Meninggalkan ruangan yang kini penuh dengan isak tangis dari orang-orang yang menyayangi Donny.

    

°°

     

Langkah Mark terhenti kala dilihatnya Jeno berdiri dalam diam di balkon lantai 2 rumah tersebut. Ia berdiri dalam diam di tempat itu, membelakangi Mark dan Naja yang juga terpaku melihatnya. Selama beberapa saat ketiganya berdiri di tempat yang sama, tanpa ada yang melakukan pergerakan sedikitpun. Hingga akhirnya Naja melangkah, mendekati Jeno.

"Jen," panggilnya.

Tak ada reaksi apapun dari Jeno. Pemuda itu setia dalam diamnya. Naja berdiri menghadap padanya dan mengamati ekspresi sang saudara kembar. Perlahan Mark pun mendekat.

"Je-"

"Ditinggalkan itu ternyata sesakit ini ya Na!?"

Naja terdiam. Ia menatap Jeno sendu.

"Tapi aku belajar buat ikhlas. Karena sekarang Kak Donny udah bahagia," sambung Jeno.

Ia menoleh pada Naja dan tersenyum. Naja yang menyadari jika senyum Jeno hanyalah pengalihan dari rasa sakit, mengusap-usap kepala sang adik yang tingginya sedikit di bawahnya tersebut.

"Nangis aja kalo kamu mau nangis. Gak usah ditahan," ucapnya lembut.

"Naja bener Sayang," sambung Mark yang kini berada di kirinya.

Jeno menoleh pada sang kekasih.

"Jangan kamu tahan. Nanti dada kamu malah sakit. Menangislah. Luapin semua."

Jeno menggeleng. Ia kembali menunjukkan senyumannya yang kini ditujukan pada Mark.

"Aku udah cukup banyak menangis hari ini. Aku udah gak mau nangis lagi."

"Tapi Sayang-"

"Mark, aku gapapa."

Jeno melepas genggaman tangan Mark, lalu melangkah maju menuju tepian balkon. Berdiri dengan perut menempel pada pagar balkon dan tangan berpegangan disana. Menengadahkan kepala, memejamkan kedua matanya, lalu menarik nafas dalam-dalam.

Neighbour | MarkNo (END) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang