6

428 49 2
                                        

Tiffany menyarankan putranya untuk memiliki rumah sendiri mengingat ia telah menikah.

Ya, Jaemin dan Jeno sudah menikah sekarang.

Tidak perlu memiliki mansion semewah yang orang tuanya miliki. Minimal apartemen. Atau apalah. Yang jelas Jaemin dan Jeno bisa tinggal hanya berdua. Namun Jeno menolak. Setidaknya untuk saat ini. Ia masih membutuhkan Rocket Paradise. Masih banyak perkara yang harus mereka selesaikan bersama-sama. Mereka tidak bisa begitu saja dipisahkan sekarang.

Tiffany tidak ingin berargumen dengan putranya dalam hal ini. Ia tahu untuk yang satu ini ia akan sia-sia. Tapi ia meminta Jaemin dan Jeno untuk setidaknya tinggal selama dua malam di rumahnya. Dan Jeno masih bisa memenuhinya untuk hal ini. Dan alasan sang ibu memintanya adalah karena Jeno menolak penawaran untuk berbulan madu ke luar kota atau luar negeri.

Ayolah, mereka menikah saja hanya untuk mendapatkan status. Jadi untuk apa berbulan madu secara khusus ke luar kota? Seperti pengantin baru yang berbahagia saja. Haha. Bahagia. Betapa komikal. Jika mereka tetap harus melakukannya maka mereka hanya akan melakukannya di rumah.

Ada tempat khusus di taman belakang rumah yang dijadikan sebagai tempat untuk latihan menembak. Jeno membawa Jaemin ke sana. Ia memilihkan senjata yang akan menjadi andalan Jaemin. Yang akan menjadi ciri khas Jaemin di masa depan. Seperti Jeno dengan Mark 23-nya. Mark dengan Beretta 92-nya. Jisung dengan Magnum 50-nya. Dan—Jeno harap dengan tambahan sekarang—Jaemin dengan Black Hwa-nya. Diambil dari nama revolvernya, Ruger Blackhawk.

"Seperti Magnum milik Jisung, senjata ini tidak hanya akan membuat objek tembakannya tertusuk. Tapi juga meledak." Penjelasan kedua Jeno setelah sebelumnya lebih dulu memperkenalkan nama senjata itu. Yang ia perlihatkan adalah sebuah pistol berwarna hitam. Jaemin tidak mengerti bagaimana benda itu bisa terlihat klasik namun ikonik di saat bersamaan.

"Pistol pada umumnya memiliki kuota lima belas hingga dua puluh peluru. Tapi Black Hwa hanya memuat tujuh. You know why?"

Jaemin yang sama sekali tidak memiliki ide apa-apa tentang persenjataan langsung menggeleng polos sebagai jawaban.

"Bedanya dengan milik Jisung yang memiliki ukuran peluru berdiameter kurang dari satu senti, milikmu justru berukuran lebih besar dari peluru secara general. Dan satu pelurunya berdampak sama dengan empat peluru yang ditembakkan secara bersamaan.

"Kau tidak akan menyesal memiliki salah satu senjata paling mematikan ini. Seperti namanya, Blackhawk. Kau tahu? Nama ini sering diambil untuk menunjukkan keberanian, keteguhan, dan semangat perlawanan."

"Excuse you, you mean, semangat membunuh?"

"Exactly, especially they're pretty different. Pistol biasa akan menghilangkan nyawa hanya jika kau menembakkannya langsung ke jantungnya. Tapi pistol ini bisa langsung membunuh seseorang tanpa harus kau tembakkan ke arah jantungnya."

Jaemin membeku detik itu.

"Tunggu dulu. Kau bilang Rocket Paradise bukan pembunuh. Tapi fungsi senjata kalian—"

"Membunuh untuk melindungi diri tidak masalah kan?" Jeno menampilkan seringai yang terlihat creepy seperti psikopat. Jaemin sempat dibuat termundur seiring pupilnya yang melebar.

Jeno telah berbohong selama ini.

Hidup bersama Jeno selama beberapa minggu terakhir ini merupakan sebuah kebohongan bagi hidup Jaemin.

His life is a lie.

Jaemin tahu Jeno itu kejam. Tapi tidak tahu bahwa ternyata ia di luar penggambaran batas kekejaman maksimal yang bisa Jaemin bayangkan tentang dirinya.

Jaemin menggeleng ketakutan. "Aku tidak ingin berurusan dengan sesuatu yang kejam seperti senjata itu."

"As you've told me. Bahwa ini berfungsi sebagai sistem keamanan terbaik untuk diri sendiri. Kau benar. Dan aku juga tidak salah kan?" Jeno tidak sama sekali mengendurkan seringaian antagonis di bibirnya.

Rocket Paradise (NOMIN)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang