This chapter perhaps not your cup of tea, tapi baca aja semuanya kalo ga mau ketinggalan plot
.
Mark baru kembali ke Dreamland pagi harinya.
Ia melihat Jeno sedang mengatur tumpukan kartu remi, Jaemin menggelar rencana taruhan mereka di masa yang akan datang, dan Chenle meninjau statistik permainan mereka. Sedangkan Jaehee yang gender dan usianya berbeda sendiri, duduk di atas permukaan karpet tebal berbulu lembut dengan beberapa mainan di sekelilingnya.
Ia bermain dengan sebuah guling berwarna-warni yang menjadi mainan favoritnya saat ini, juga beberapa plushie berbentuk berbagai macam hewan pemberian Shotaro. Semua mainannya aman, ia dijauhkan dari barang-barang keras dan tajam yang berbahaya. Sambil merangkak kecil, ia tertawa dengan gembira saat bermain dengan benda-benda lembut itu. Meremasnya, memukul-mukulkannya ke karpet, bahkan menggigitinya hingga basah oleh air liur.
"Pergi malam-malam bersama Haechan, baru pulang pagi hari. Habis sibuk berolahraga ya semalaman?" Chenle menyambut Mark dengan sebuah innuendo jokes.
Mark hanya tersenyum miris sebagai tanggapan. "Kau sudah sembuh, Na? Tidak sakit untuk kembali beraktivitas di luar kamar?" ia mendudukkan dirinya di sofa single, terlihat sangat kelelahan. Seperti habis mengurus atau menyelesaikan sesuatu di luar sana.
"Sudah jauh lebih baik, jeruk dari Jeno benar-benar bekerja dengan baik. Lagi pula di dalam kamar terus bosan. Jaehee juga tidak akan tahan kalau aku terus-menerus mengawasinya di kamar."
Mark mengangguk paham.
"Kau sudah sarapan? Aku membuat kimbab gurita dan greyanppang," tawar Jeno.
"Sudah, terima kasih atas tawaranmu. Nanti akan kumakan kalau aku sudah lapar lagi. Jadi paling nanti siang, pokoknya aku akan memakannya."
"Well, untuk ukuran seseorang yang sudah sarapan, kau terlihat gelisah. Ada yang ingin kau sampaikan?" heran Chenle, seperti bisa menangkap suatu kejanggalan dari raut wajah leader-nya.
Mark menarik napas dalam-dalam, mengembuskannya keras. "Dylan bilang tersangka kasus tabrak lari Chenle adalah Abigail Jones," ungkapnya to the point.
"Kau mengenalnya? Barang kali ia ada suatu dendam padamu?" tanya Jaemin pada Chenle, lalu mengalihkan tatap pada Jeno dan Mark. "Atau kalian mengenalnya? Mungkin ia punya masalah dengan Rocket Paradise sebelum aku dan Chenle bergabung?"
Chenle dan Jeno menggeleng bersamaan, tidak memiliki gagasan apa pun soal nama yang Mark sebutkan.
"Tentu saja kalian tidak akan tahu. Di antara kita, tidak ada yang mengenalnya," balas Mark.
"Lalu? Apa tujuan ia melakukan itu? Tidak mungkin seseorang tiba-tiba saja ingin mencelakai Chenle tanpa alasan kan?"
"Kalau begitu, ia hanya orang suruhan? Dan siapa pun yang memintanya, mengenal kita?" Jeno membuat hipotesa.
Mark tersenyum. "Anak pintar."
"You've got to be shitting me! Ia bekerja untuk siapa?" seru Jeno.
"Sekarang sih ia sudah resign, tapi saat terjadi kasus itu, ia bekerja pada Ningning."
"Entah kenapa aku sudah tidak bisa kaget lagi. Kalau pelakunya dia, benar-benar tidak aneh." Jaemin mengedikkan bahu.
"Yeah, hanya saja, tetap tidak habis pikir kenapa ia dendam pada Rocket Paradise sampai segitunya," balas Jeno.
"Tidak hanya itu, Dylan juga sudah mengetahui tersangka yang sesungguhnya atas pembunuhan Hyeongjun."
Chenle langsung menegang. "Siapa?! Cepat katakan! Aku sudah tidak sabar untuk segera menghabisinya!"
KAMU SEDANG MEMBACA
Rocket Paradise (NOMIN)
Fanfiction[R E M A K E] Bukan salah Jeno jika ia membawa Jaemin ke tempat yang tidak pernah Jaemin bayangkan akan ia lihat di dalam hidupnya. Jaemin sendiri yang sudah memaksa bahkan memohon-mohon untuk ikut. Maka untuk apa pun yang akan menimpanya di masa de...
