Ular di mana-mana.
Dengan berbagai warna dan ukuran melata di permukaan lantai, dinding, hingga ke langit-langit. Makhluk-makhluk yang mendesis secara bergantian itu seakan tidak membiarkan satu celah pun kosong. Mereka berjalan dengan perut di setiap sudut memenuhi ruangan dengan begitu penuh.
Jaemin terkesiap. Lebih karena teriakan Chenle sebenarnya. Spontan ia menyentuhkan telapak tangan pada fingerprint scanner agar segera menutup sebelum ada satu saja ular yang berhasil lolos dan melilit tubuh mereka hingga sesak. Lebih buruk, membunuh mereka dengan bisa yang mematikan.
Bayangan itu terlalu jauh dan terlalu mengerikan. Tengkuk Jaemin meremang membayangkannya.
Chenle melangkah cepat. Mencoba mengeliminasi jarak dengan tangga. "Ayo Jaemin, kita harus segera keluar dari tempat ini."
Namun Jaemin tetap berada di tempatnya. "Ada apa denganmu?" Dan satu pertanyaan itu menghentikan langkah Chenle dan berbalik untuk menabrakkan tatap pada sang lawan bicara.
"Kau sudah melihatnya sendiri. Kau tahu jelas jawabannya. Dan kau masih bertanya?"
"Kita bahkan baru membuka dua pintu. Kita belum melihat semuanya."
"Memangnya kau pikir kalau kau sudah melihat semua ruangan di balik seluruh pintu ini, apa yang akan kau dapatkan? Piala Oscar? Nobel? Grammy Award? Tidak kan?"
"Calm down Chenle—"
"How can I get calm after finding bunch of beasts in my residence? Sekali lagi ayo Jaemin. Kita harus segera keluar dari tempat ini." Chenle menjadi sentimentil. Ia meraih satu telapak tangan Jaemin untuk kemudian digenggamnya. Lalu menariknya untuk mengikutinya melangkah keluar dari tempat yang sekarang ia takuti itu.
Dan Jaemin menahan langkah keduanya. "Yang kau maksud adalah keluar dari lantai bawah ini dan kembali ke atas, atau—"
"Kalau bisa kita keluar dari markas ini selamanya dan mencari tempat tinggal lain. Itu lebih bagus."
Jaemin yang memiliki perbedaan pendapat itu melepas genggaman. "Untuk apa? Ini adalah tempat terbaik yang pernah ada. Dengan sistem keamanan sempurna sehingga keamananmu terjamin."
"Apanya yang aman ketika kita tinggal satu atap dengan segudang ular? Kau sudah gila Na Jaemin."
"Kalau menurutmu aku gila lalu mereka bertiga yang sengaja membuat ular-ular itu di sini, apa?"
Chenle memasang tampang memelas. "Jaemin ... ayolah ..."
"Lihatlah pintu itu. Sudah tertutup rapat sejak tadi. Binatang-binatang itu tetap berada di tempatnya. Dan kita baik-baik saja. Apa yang kau takutkan?" Percaya atau tidak Jaemin menampilkan wajah datar ketika berkata demikian. Seakan kejadian tadi tidak pernah ada.
"Lalu memangnya apa alasanmu untuk tetap berada di sini? Urusan kita sudah selesai kan?"
"Kita belum membuka pintu yang lain."
"No need."
"Memangnya kau tidak penasaran?"
"Sejujurnya aku penasaran. Tapi—"
"Kita tidak akan pernah tahu kalau tidak mencoba." Giliran Jaemin yang menginterupsi di tengah perdebatan mereka.
Chenle terlihat mengecam ketika memicingkan sepasang mata indahnya. Menyorot Jaemin dengan sebuah tatapan yang hanya ia yang mampu menginterpretasikannya. "Ada kalanya kita tidak perlu tahu apa yang menurutmu harus kita tahu."
"Tapi kita adalah bagian dari Rocket Paradise. Kita berhak tahu segala hal tentang kelompok ini. Termasuk seisi Dreamland."
Chenle menghempas napas. "Lalu kenapa tidak ada satu pun dari mereka bertiga yang mau menunjukkan ini pada kita?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Rocket Paradise (NOMIN)
Fanfiction[R E M A K E] Bukan salah Jeno jika ia membawa Jaemin ke tempat yang tidak pernah Jaemin bayangkan akan ia lihat di dalam hidupnya. Jaemin sendiri yang sudah memaksa bahkan memohon-mohon untuk ikut. Maka untuk apa pun yang akan menimpanya di masa de...
