Jeno sesungguhnya tidak mengerti bagaimana jabatannya di Paradise Point terasa seperti sebuah dilema.
Di satu sisi ia merasa segalanya terasa membosankan. Tidak ada satu manusia pun yang bisa menghilangkan fakta tentang dia yang tidak perlu hadir di kantornya sesering yang dilakukan pegawai lainnya. Tapi jika ia selalu demikian, ia merasa bahwa ia bukan bagian dari perusahaan ini.
Sementara setiap kali ia datang, ia hanya melakukan hal yang sama. Menandatangani berita acara, pengelolaan operasional, setting pematuhan regulasi, atau jenis pekerjaan membosankan lainnya semacam itu. Betapa monoton kegiatannya.
Di sisi lain ia akan mengalami kesulitan yang begitu kentara ketika dikonfrontasi pada koleganya seperti para investor, relasi, dan sponsor melalui perantara sebuah rapat berskala besar. Itu membuatnya serba salah. Tapi ia sendiri yang sudah memilih jalan hidupnya seperti ini. Jadi saat ini ia mencoba untuk menjalani sebagaimana air mengalir.
Dan di sinilah ia saat ini. Duduk di singgasananya ketika mencoretkan tinta di atas berkas-berkas penting selagi berusaha untuk tidak memikirkan hal lain yang lebih membebani dari ini.
Tapi tidak bisa dipungkiri. Bayangan tentang Jaemin yang tiba-tiba menghilang tanpa kabar, begitu juga dengan Chenle, Mark yang sengaja pergi dan menyerahkan leadership Rocket Paradise padanya, dan Jisung yang mendekam di balik jeruji akibat sebuah tuduhan pembunuhan berencana, tidak pernah berhenti berkelebat di dalam kepalanya.
Dan suara derit pintu yang terbuka tanpa ketukan terlebih dahulu menyibak segala lamunan itu. Spontan ia menggerakkan elevator leher untuk mengangkat kepala dan melihat siapa yang datang. Sosok pria berdiri dengan gagah dengan kaki-kaki panjang yang terlihat begitu mencolok di dalam ruangan kantor yang luas dan sepi itu.
Ia mengenakan setelan perlente jas charleston dan dasi charcoal sebagaimana terakhir ia tampak. Tidak, tenang saja. Ia mengenakan pakaian yang berbeda dari yang terakhir ia gunakan. Hanya saja dengan model yang sama. Dan dengan satu tangan yang ia selipkan ke dalam saku celana, membuatnya tetap terlihat kasual dalam balutan busana formal itu.
Sang pemilik ruangan membulatkan sepasang mata. "Jaemin." Segera bangkit dari tempat duduk. "Kau kah itu?" Melangkah lebar untuk menghampiri sosok yang begitu ia rindukan. "Oh my lord, Na Jaemin ke mana saja dirimu selama ini? Aku benar-benar mengkhawatirkanmu ..." hendak membawa sosok pria terkasihnya itu ke dalam sebuah pelukan hangat.
Namun Jaemin mengangkat tangan. Membuat gestur yang menunjukkan bahwa ia melarang pria itu untuk menyentuhnya. "Berhenti di situ Lee Jeno." Intonasi pada suaranya sedatar wajahnya saat ini.
Jeno benar-benar dibuat berhenti dari pergerakan dan ia menautkan sepasang alis. "Ada apa denganmu?"
Jaemin tidak bersuara. Ia hanya menatap Jeno dengan wajah datarnya. Itu bukanlah sebuah ekspresi yang sering ia tunjukkan pada Jeno, sebenarnya. Tapi entah bagaimana, sekarang Jeno sendiri yang membuatnya menatap demikian.
"Mana twinkie?" Jeno bertanya lagi ketika baru menyadari bahwa ia tidak melihat sosok tercintanya yang lain yang selalu menempel dengan Jaemin ke mana pun ia pergi seperti sepasang sepatu.
"Kau seharusnya menyadari kesalahanmu."
Jaemin mendistraksi topik. Benar sekali. Ini adalah esensi dari segala hal di atas apa pun yang berkecamuk dalam benaknya selama ini. Selama kepergiannya ini dari hadapan Jeno yang sekarang ia benci.
Tidak, ia tidak benar-benar membenci Jeno. Ia masih mencintainya tentu saja. Karena itu adalah satu-satunya alasan ia bisa menjadi sesakit ini ketika menyaksikan kejadian itu. Kejadian yang membuatnya pergi dan kembali datang dengan hati yang cacat. Yang ia benci dan sesali adalah sifat Jeno, itu saja. Bukan jiwa dan raga konkritnya yang—ia pikir—tidak bersalah.
KAMU SEDANG MEMBACA
Rocket Paradise (NOMIN)
Fanfiction[R E M A K E] Bukan salah Jeno jika ia membawa Jaemin ke tempat yang tidak pernah Jaemin bayangkan akan ia lihat di dalam hidupnya. Jaemin sendiri yang sudah memaksa bahkan memohon-mohon untuk ikut. Maka untuk apa pun yang akan menimpanya di masa de...
