Bab 3. Sesak Lagi

419 21 0
                                        

Nabila mengguling-gulingkan tubuhnya di atas kasur. Malam sudah semakin larut namun dirinya tak juga bisa terlelap. Entah kenapa matanya seolah enggan untuk dipejamkan.

Gadis itu menghela nafasnya dan beranjak duduk, "Mana haus lagi," gumamnya pelan. Matanya melirik nakas, tak ada air di sana. Biasanya kalau di rumah orang tuanya, dia selalu menyimpan teko dan gelas di kamarnya karena kebiasannya yang sering haus di tengah malam.

"Ambil enggak, yah..." Nabila menggigit kukunya gugup. Lama gadis itu terdiam dan berpikir hingga akhirnya beranjak keluar kamar.

Nabila menuruni tangga dengan hati-hati, saat akan melewati kamar Ali dan Nayla gadis itu menghentikan langkahnya karena mendengar suara-suara aneh.

Nabila semakin mendekat hingga berdiri tepat di depan pintu kamar Ali dan Nayla hingga suara itu terdengar semakin jelas.

"Akkkh... Sayang..."

Nabila membekap kencang mulutnya dengan kedua telapak tangannya saat menyadari suara apa yang di dengarnya. Matanya berkaca-kaca merasakan sakit juga cemburu dalam dada.

Nabila menyeret langkahnya kembali ke kamar. Rasa hausnya menghilang begitu saja, suara erangan penuh kenikmatan yang di dengarnya membuat hatinya sesak. Seharusnya tidak begini, seharusnya hatinya baik-baik saja. Bukankah wajar bagi pasangan suami istri untuk berhubungan badan? Tapi kenapa hatinya sakit sekali?

Nabila menutup pintu kamarnya, tubuhnya merosot hingga terduduk dengan kedua kaki yang tertekuk. Wajahnya tenggelam di atas lutut, bahunya bergetar namun tak ada isakan yang terdengar. Hanya air mata yang terus menetes dari pelupuk matanya.

Nabila mendongak, meluruskan kakinya. Tubuhnya masih bersandar pada pintu. Jejak basah membanjiri pipinya. "Kenapa sakit sekali Ya Allah..." Nabila memejamkan matanya, sebelah tangannya terangkat meremas dadanya yang terasa kian sesak.

"Aku tahu seharusnya aku tidak boleh seperti ini. Merasa sakit dan juga cemburu, aku harusnya sadar siapa posisi aku di rumah ini. Mereka pasangan yang saling mencintai, wajar kalau mereka melakukan itu. Justru aku yang telah kurang ajar masuk diantar mereka," gumamnya dengan hati nelangsa.

Nabila menghapus air matanya dan beranjak ke kasur. Dibaringkannya tubuhnya yang terasa lemas, gadis itu meringkuk dengan kedua tangan menutupi telinganya karena suara-suara desahan itu terus membayangi otaknya.

"Ya Allah, tolong kuatkan hatiku," bisiknya lirih diantara derai air kesedihannya hingga tanpa sadar ia terlelap dengan sendirinya setelah lama menangis.

***

Jam setengah enam pagi Nabila sudah berada di toko bunga miliknya. Setelah selesai menjalankan ibadah subuhnya, dia sengaja langsung bersiap pergi ke toko bunga tanpa izin dari suaminya dan hanya berpamitan lewat pesan WhatsApp.

Hampir semalaman menangis membuat matanya jadi bengkak, dia tak siap bertemu dengan suami serta kakak madunya. Lagipula, dirinya juga masih belum sanggup bila harus terus melihat kemesraan mereka di saat statusnya juga sebagai istri dari Ali.

Dulu, saat statusnya hanya sebatas adik mungkin dia masih sanggup menekan rasa sakitnya tiap kali melihat kemesraan mereka. Namun saat dia telah menjadi istri dari Ali rasanya jauh lebih menyakitkan ketika menyaksikan kemesraan yang mereka suguhkan di depan matanya.

Nabila duduk termenung di depan meja kerjanya, pikiran gadis itu menerawang jauh pada kedekatannya dengan Ali di masa lalu. Lelaki itu selalu memanjakannya, memperlakukannya layaknya seorang putri. Ali tak pernah membiarkannya sedih dan menangis, namun sekarang justru lelaki itulah yang menjadi penyebab kesedihan dan tangisnya.

Nabila menghela nafasnya dalam, entah sampai dimana batas sanggupnya untuk bertahan karena rasanya terlalu menyakitkan dinikahi hanya untuk sebuah keturunan.

Terpaksa Jadi MaduCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang