Rencana bulan madu yang sudah Ali siapkan sedikit diubah karena Nabila tidak bersedia untuk ikut bila hanya pergi berdua, hingga rencana diubah menjadi liburan keluarga.
Bandung, menjadi tempat yang Ali pilih untuk liburan mereka. Ada rasa bersalah pada istri pertamanya sebab ia tak mengajak sang istri meski rencana bulan madu diubah jadi liburan keluarga. Dia hanya takut mengabaikan salah satu istrinya apabila mereka pergi bersama. Lagipula, sudah lama juga ia tak berlibur hanya berempat bersama keluarganya.
Sejak dirinya menikah lima tahun yang lalu, dia sudah tak pernah lagi ikut serta dalam acara liburan keluarga. Hanya sesekali ia dan istrinya ikut, itupun dengan ia yang terus memohon pada Nayla. Terlalu rindu, kata itu yang selalu ia ucapkan bila istrinya menolak liburan bersama entah untuk kesekian kalinya.
Ali mengemudikan mobilnya dengan berhati-hati, akhir-akhir ini cuaca sedang tidak bersahabat dengan kota Bandung. Di sampingnya ada sang ayah yang menatap lurus pada jalanan di depannya, di belakangnya ada sang ibu dan juga istrinya yang duduk dengan Nabila bersandar di dada ibunya.
Istrinya itu memang menolak untuk duduk di sampingnya dan lebih memilih duduk di kursi belakang bersama ibunya. Ia sendiri tak mempermasalahkan, Nabila bersedia ikut saja ia sudah lebih dari bahagia.
"Dek, mau mampir beli cemilan enggak? biasanya kalau liburan kamu bawa stock cemilan banyak, tapi sekarang tidak bawa." Ali menatap Nabila melalui kaca spion yang ada di dalam mobilnya. Lelaki itu memerhatikan sang istri yang sama sekali tak merespon ucapannya.
Helaan nafas berat ia hembuskan, sulit sekali mengambil hati Nabila padahal gadis itu dulu begitu lengket padanya dan tak sungkan untuk bermanja-manja dengannya.
Kamila memerhatikan kedua anaknya bergantian, raut kasihan ia tunjukkan pada Ali dan raut sedih ia tunjukkan pada Nabila. Dia ingin kedua anaknya kembali dekat seperti dulu, terlebih status keduanya yang telah berubah menjadi suami istri. Tentu dia berharap kedua anaknya dapat membangun hubungan yang romantis, bukannya dingin dengan kebungkaman dari salah satunya.
Kamila menghela nafasnya, senyum lembut di wajahnya terukir membuat Nabila yang memeluk dengan menatapnya merasa tenang. "Kamu mau beli cemilan, Nak?" Kamila mengusap lembut lengan Nabila yang dalam pelukannya. Gadis itu menggeleng pelan dan memilih menenggelamkan wajah di dada sang ibu membuat ibunya serta suaminya menghela nafas dalam, begitupun juga Arya yang diam-diam memerhatikan.
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih dua jam lamanya, mobil yang dikendarai Ali akhirnya sampai di sebuah vila megah milik orang tuanya. Melihat bangunan megah yang asri itu, Ali jadi teringat masa kecilnya dan Nabila yang selalu menginap di sini pada saat libur semester.
Ini kali pertama ia kembali berkunjung setelah terakhir kali ia datang tujuh tahun yang lalu saat merayakan ulang tahun pernikahan Mama dan papanya. Tempat ini tak berubah, masih asri seperti dulu.
"Ayok, masuk!" Ali menolehkan kepalanya pada sang ibu yang sudah turun dari mobil terlebih dahulu, kemudian disusul istrinya juga ayahnya.
"Mama sama Nabila masuk duluan yah, pegel banget nih punggung Mama."
Ali dan Arya mengangguk saja, dua lelaki berbeda usia itu lalu sibuk membawa koper-koper mereka. Rencananya mereka akan berada di sana selama satu minggu lamanya.
***
Nayla menjalankan mobilnya ke rumah mertuanya, ini adalah hari kedua suaminya pergi berbulan madu dengan Nabila. Hatinya masih kacau, rasa sesak masih menggelayut membuat kelabu di hatinya.
Mobil yang dikendarai Nayla berhenti di depan rumah mertuanya, rumah yang sangat mewah namun tak pernah membuatnya betah. Sejak lima tahun yang lalu ia menyandang status sebagai istri dari seorang Muhammad Ali Shauqy, bisa dihitung jari dirinya menginap di rumah itu.
Ting nong ting nong
Nayla berdiri di depan pintu rumah mertuanya dan menekan belnya. Tak berapa lama seorang wanita paruh baya yang tak lain adalah pembantu mertuanya membuka pintu.
"Non Nayla, masuk Non!"
Mbok Rahma membuka lebar pintunya dan mempersilahkan menantu keluarga Shauqy itu untuk masuk.
"Non mau dibuatkan minum apa?"
"Saya minta tolong buatkan es sirup saja yah, Mbok. Diluar cuaca sangat terik sekali."
Mbok Rahma mengangguk dengan senyum
keibuannya. "Baik, Non. Tunggu sebentar biar Mbok buatkan."
"Terimakasih yah, Mbok."
Nayla beranjak dari duduknya, tatapannya terpaku pada sebuah foto pernikahan suaminya dengan Nabila yang berdampingan dengan foto pernikahannya lima tahun lalu. Netranya berkaca-kaca, semakin menyadari kalau suaminya bukan hanya miliknya lagi.
Tangan Nayla tergerak menyentuh bingkai foto yang terpajang di atas meja itu, senyum pedihnya terukir. Ada ketakutan yang semakin hari semakin besar ia rasakan. Mungkinkah suaminya akan berpaling dan meninggalkan dirinya? atau mungkinkah suaminya akan lebih condong ke istri muda seperti yang ia baca di novel-novel?
"Non..."
Nayla tersentak saat merasakan sentuhan di bahu kanannya, dia lantas menghapus kasar air mata yang entah sejak kapan menetes di pipinya.
Nayla membalikkan tubuhnya dan tersenyum pada Mbok Rahma yang menatapnya sendu. Dapat ia lihat dengan jelas kalau perempuan paruh baya itu menatapnya iba.
"Itu es sirupnya, Non. Saya letakkan di meja. Ayok di minum."
Nayla mengangguk pelan dan kembali duduk dibsofa ruang keluarga, disesapnya rasa manis dari sirup strawberry itu, dingin manis dan menyegarkan. Cukup ampuh untuk sedikit meredam rasa panas di hatinya.
"Rumah sepi sekali, Mbok. Mama ke mana?" tanya Nabila, tatapannya kembali mengedar mencari sosok ibu mertuanya. Tentang ayah mertuanya, dia sengaja tak menanyakannya sebab ia tahu kalau sosok pria bersahaja itu pasti tengah berada di kantor.
"Mmmm..." Mbok Rahma bergumam pelan, jemarinya menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Wanita yang telah bekerja dengan ibu mertuanya selama hampir dua puluh tahun itu tampak gugup, dan Nayla dapat melihatnya dengan jelas.
"Mbok..."
Mbok Rahma menatap Nayla dengan tatapan iba. "Anu, Non... Ibu, Bapak, Den Ali dan Non Nabila sedang pergi berlibur."
Nayla mengernyitkan dahinya, "Bukannya yang pergi hanya Mas Ali dan Nabila, yah? Mereka kan mau bukan madu, kok Mama sama Papa ikut?" tanya Nabila penasaran. Pasalnya Ali mengatakan kalau dirinya akan berbulan madu dengan Nabila, lalu mengapa orang tuanya juga ikut?
"Non Nabila tidak mau pergi berdua dengan Den Ali, jadi rencana bulan madunya diubah jadi liburan keluarga," tukas Mbok Rahmah lirih, dirinya merasa tak tega dengan istri pertama tuan mudanya.
Deg
Nayla tertegun mendengar informasi yang baru saja dirinya ketahui. Rasa sakit di hatinya semakin bertambah karena ketidak jujuran suaminya.
"Oh gitu yah, Mbok. Kalau gitu aku pulang dulu yah, tadinya pengen ngobrol sama Mama tapi Mamanya malah enggak ada." Tanpa menunggu jawaban dari Mbok Rahmah, Nayla meraih tasnya dan keluar dari rumah mertuanya itu.
Nayla menghela nafasnya berulang kali untuk menenangkan hatinya, kepalanya bertumpu pada setir kemudi dengan air mata yang meluruh. Tak ia sangka Ali begitu tega membohonginya, dia sungguh benar-benar kecewa kali ini.
"Jahat banget kamu, Li. Aku kecewa banget kali ini sama kamu, hiks ... hiks hiks..."
NOTE : DI FIZZO SUDAH TAMAT. CARI DENGAN JUDUL YANG SAMA ATAU KETIK NAMA AUTHOR 'SULENI'. JANGAN LUPA MAMPIR YAH 😊🙏
KAMU SEDANG MEMBACA
Terpaksa Jadi Madu
RomanceNabila pernah patah hati saat Ali, kakak angkat sekaligus lelaki yang dicintainya menolak perjodohan dengannya dan lebih memilih menikahi wanita lain. Meski sakit, Nabila pasrah dan memilih mengikhlaskan. Namun saat hatinya mulai pulih dari luka, or...
