41. Keseharian Bapak Ibu Hamil

21.1K 1.3K 89
                                        

Jika Shana mengira keanehan Seno hanya akan seputar makanan, maka ia salah besar. Selain telur dadar yang dimasak oleh Septian, Haji Iswan pun ikut kebagian tugas beberapa hari setelahnya. Seno menginginkan kolak ubi yang dimasak oleh Haji Iswan.

Tidak tahu Seno bisa kepikiran hal itu darimana, tiba-tiba saja pria itu nyeletuk sangat menginginkan kolak ubi sampai air liurnya ingin menetes membayangkan kolak ubi.

Karena hal itu pula Haji Iswan batal pergi ke toko, ganti turun ke dapur untuk merealisasikan keinginan menantunya. Mengejutkannya, rasa kolaknya benar-benar nikmat.

Ternyata selama ini Haji Iswan menyembunyikan kepiawaiannya di dapur. Kalau tidak karena ngidamnya Seno mungkin mereka tidak akan pernah tahu kalau ternyata Haji Iswan memang jago masak.

Kembali ke hari ini, dimana Seno kembali berulah. Tidak mau berangkat mengajar kalau tidak ditemani Shana. Shana sejatinya sudah mengiyakan, toh dia bisa menunggu pria itu di ruangannya. Tapi sampai melongo ketika Seno melanjutkan bahwa ingin ditemani mengajar di dalam kelas. Dalam artian Shana ikut masuk ke dalam kelas, menemaninya mengajar di dalam kelas.

Yang benar saja. Apa kata orang-orang kalau ada dosen yang membawa istrinya mengajar. Shana pun masih punya rasa malu.

Sialnya Seno mencak-mencak sejak tadi. Tidak mau bangkit dari kasur dan malah menyelimuti tubuhnya dengan selimut. Shana sudah berusaha membujuk, menawari segala macam solusi kecuali dirinya ikut masuk ke dalam kelas. Solusi yang semuanya diabaikan oleh Seno.

"Oke fine, aku temenin. Kamu mandi sekarang Mas!" Putus Shana pada akhirnya. Ia tidak ingin waktu seharian ini habis hanya untuk membujuk Seno mengajar.

"Kamu ikut ke kelas kan?" Seno menurunkan sedikit selimut yang melingkupi tubuhnya.

"Iya."

"Sampai saya selesai kelas kan?"

"Iya."

"Saya hari ini mengajar 3 kelas. Semuanya kamu temenin kan?"

"Iya."

"Oke," Seno keluar dari selimutnya. "Saya mandi." Ucapnya tapi masih telentang di atas ranjang, kini tanpa selimut yang menutupi tubuhnya.

Shana sampai terkekeh, "ya mandi sana kok malah bengong."

"Peluk dulu coba Shan, saya belakangan ini suka ngelag." Seno membuka kedua tangannya yang disambut Shana dengan pelukan hangat.

"Kaya HP ram 2 ya?" Gelaknya menyadari betul pernyataan Seno ada benarnya. Pria itu belakangan ini seperti lelet dan lola (loading lama). Shana kira ia saja yang menyadari, ternyata Seno sendiri pun menyadari hal itu. "It's okey, mungkin otak kamu masih sulit mendeskripsikan hormon-hormon aneh itu." Ia menatap Seno tersenyum, mengecup sekali bibir suaminya lalu menepuk pelan pipi Seno agar segera bangkit untuk mandi.

"Maaf selalu merepotkan, I love you so much." Seno menahan istrinya, balas menciumi seluruh wajah sang istri yang tergelak-gelak. "Dah saya mandi dulu." Ucapnya setelah puas menciumi Shana.

Shana tadinya sedang memasak di bawah. Ia curiga karena tidak juga menemukan Seno yang turun ke bawah. Maka ia menghampiri Seno yang sesuai dugaan malah berkata tidak ingin pergi ke kampus.

***

Sekian lama ia tidak merasakan masuk kelas, ternyata rasanya masih sama. Sama-sama selalu membuatnya mengantuk. Sekalipun yang sedang menjelaskan di depan kelas terlihat sangat tampan dan bersinar-karena itu suaminya. Tetap saja Shana merasa mengantuk.

Dia duduk di kursi paling belakang, beberapa kali bertukar pandang dengan Seno yang sengaja menatapnya saat sedang menjelaskan materinya.

ADVOKASI Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang