Agenda ngapel yang biasa diisi dengan gelendot-gelendotan kini berubah menjadi bimbingan skripsi. Setiap hari di sore hari Shana akan dihadapkan pada Bhakti Aryaseno dan kesabarannya yang tipis sekali.
Ibarat kata, kesabaran Adrian yang sudah tipis sekali saja masih 2 level lebih baik dari Seno.
Bisa dibayangkan kan bagaimana tertekannya Shana?
Setiap hari lagi! Lama-lama ia bisa stres sendiri.
"Fokus Shana fokus," Peringat Seno karena melihat Shana yang mulai tidak fokus pada revisiannya. "Lihat laptop. Nggak usah jelalatan matanya."
Memang selain galak, ngeselin, dan songong, kata 'tega' juga pantas disematkan ditengah nama Bhakti Aryaseno. Disaat pacarnya sedang berjuang menyelesaikan revisian, pria itu asik menikmati semangkuk mie instan–yang tadi dimasak oleh Shana– sambil menonton film di televisi. Sungguh durhaka sekali kan?
Siapa coba yang tidak terganggu fokusnya kalau mencium aroma mie instan yang begitu nikmat sedekat ini?
"Minta dikit Mas," tatap Shana penuh mohon. "Sesuap aja." Cengirnya agar Seno luluh dan berbaik hati.
"Nih," Seno menyuapkan sedikit mie beserta kuah ke mulut Shana lalu menggeser tubuhnya agar tidak lagi diminta. "Udah sana." Usirnya mengibaskan tangan.
"Dasar pelit! Orang pelit kuburannya sempit wleee."
"Siapa juga yang mau punya kuburan lebar-lebar?" Sahut Seno lalu fokus kembali pada tontonannya, mengabaikan Shana yang bergumam-gumam tidak jelas.
Tidak ada lagi yang bersuara, baik Shana maupun Seno fokus pada kegiatannya masing-masing. Ditambah rumah yang dalam keadaan sepi. Septian yang biasanya sering mengganggu Mas dan Mbaknya, sejak seminggu lalu menggantikan tugas Haji Iswan di toko. Shana menduga ada yang sedang diincar oleh adiknya hingga sukarela menawarkan diri menjaga toko. Cukup mengherankan sebenarnya.
"Selesai!" Shana berdiri sejenak, meregangkan tubuhnya yang sudah mati rasa karena tidak bergerak sejak tadi. "Tolong Periksa bos."
Shana mungkin bisa sombong karena sudah hafal luar kepala untuk urusan olah data. Tapi kalau urusan membuat pembahasan, jujur saja sulit sekali. Apalagi pembimbingnya adalah seorang Bhakti Aryaseno yang kriterianya tinggi sekali.
"Pembahasannya masih ngambang semua. Dua jam cuma mengerjakan ini Shanaya Mahika?" Sindir Seno.
"Aaaaa perasaan ini udah panjang pembahasannya."
"Panjang tapi kalau nggak to the point buat apa? Kamu ngutip banyak jurnal yang intinya sama aja. Buat apa? Biar panjang doang?"
Shana menggaruk tengkunya, menyadari apa yang diucapkan Seno benar semua. Sulit sekali mengelabui seorang Bhakti Aryaseno. Pantas saja dari cerita-cerita yang ia dengar, bimbingan Seno memang sering lama sekali selesainya. Tapi mereka biasanya hanya akan mendapat revisi minor saat maju seminar.
Seno memang sedetail itu pada bimbingannya.
"Hari ini udah dulu ya?" Bujuk Shana melingkarkan tangannya di pinggang Seno agar pria itu luluh. "Kepalaku mau meledak Mas." Bibirnya mengerucut sok imut.
Seno menentuh kepala Shana, memutar kepala gadis itu ke kanan kiri.
"Masih oke nih kepalanya? Dari mananya mau meledak?"
"Masssss," rengek Shana. "Udahan ya? Capek ih."
Tolooooongg Shana sudah tidak kuat kalau harus mengerjakan lagi. Semoga saja kali ini Seno luluh.
"Sedikit lagi ya? Ayo jangan nyerah dulu. Katanya mau ikut wisuda periode dua?" Seno ikut memeluk tubuh Shana yang meringsek di tububnya. "Besok Sabtu saya ajak jalan-jalan deh? Gimana?"
KAMU SEDANG MEMBACA
ADVOKASI
Literatura FemininaShana begitu ia akrab disapa. Si paling advokasi begitu julukannya. Bagaimana tidak, ini tahun keduanya menjabat sebagai staff bidang Advokasi di Himpunan. Walau hanya seorang staff, kinerja Shana tidak perlu diragukan lagi. Sampai keluar julukan...
