7. Tugas

24.5K 2.1K 74
                                        

Hari sial itu ternyata benar-benar tidak ada di kalender ya. Hal itu terbukti dengan Shana yang tiba-tiba kecelakaan. Iya benar-benar tiba-tiba!

Ia yang sedang mengendarai motornya dengan santai sambil menikmati suasana sore yang indah, tahu-tahu ditabrak oleh dua orang bocil dibawah umur. Motornya rusak parah akibat terjangan motor milik bocil itu. Tubunya terhempas jatuh dari motor, untuk jalan yang ia lewati saat itu sedang lenggang.

Warga sekitar yang menyaksikan langsung kejadian tersebut cepat membantu dengan membawa Shana ke rumah sakit terdekat juga menahan 2 bocil yang tampak ketakutan itu. Banyak warga yang menjadi saksi mata bahwa Shana yang tidak salah sama sekali tahu-tahu ditabrak oleh bocil tersebut.

Akibatnya, tubuhnya dipenuhi lecet karena bersentuhan langsung dengan kasarnya aspal. Orang tua kedua bocil itu sempat bersitegang dengan Septian. Mereka sama sekali tidak ingin anaknya disalahkan, padahal ada banyak saksi mata yang menyaksikan langsung. Tidak mau memperpanjang masalah, Rini mengusir orang tua bocil itu pulang. Telinganya sudah sakit mendengar mulut orang itu yang terus membela anaknya.

Shana baru saja akan tertidur saat Septian membuka pintu kamarnya dan memberitahukan bahwa teman-temannya datang menjengu

"Tapi bu, mereka harusnya tanggung jawab sama biaya Mbak! Enak aja main lari dari tanggung jawab." Septian masih menggebu-gebu, tidak terima akan orang-orang yang lepas dari tanggung jawab.

"Sssh udah, pengobatan Mbak kan ditanggung bpjs. Ibu juga masih punya simpenan kok."

Rini selalu seperti itu, dia tidak ingin ribut-ribut dengan orang lain. Lebih baik mengalah saja.

***

Shana baru saja akan tertidur saat Septian membuka pintu kamarnya dan memberitahukan bahwa teman-temannya datang menjenguk.

"Waduh jangan cinta-cinta sama aspal kali Shan. Sampai dipeluk segala." Canda Adrian yang pertama kali masuk ke dalam kamarnya lalu diikuti oleh teman-temannya yang lain dan hah?

Ia sedang tidak berhalusinasi kah? Ada sosok Bhakti Aryaseno yang masuk paling belakangan. Ia benar-benar sedang sadar kan?

Adrian yang mengerti kebingungan temannya itu langsung berbicara tanpa suara, "dia mau ikut tadi." Jelasnya yang mudah dimengerti oleh Shana.

Seno masih diam saja disaat teman-temannya sibuk bertanya ini-itu terkait pristiwa yang menimpanya.

"Lagian kamu ngapain coba lewat sana? Sore-sore lagi." Tanya Dwi yang paham betul jalanan Jogja.

"Habis bantu Pak Seno buat penelitian." Jawabnya melirik pria yang diam saja sejak tadi.

Pandangan teman-temannya ikut teralihkan pada Seno yang tidak mengeluarkan suara sama sekali.

"Hai ayo makan dulu makan! Ibu masak banyak ini." Rini memanggil teman-teman putrinya. Dia baru sadar, ternyata bukan hanya teman-teman Shana yang datang. Ada sosok lain disana. "Ini...?"

"Pak Seno bu, dosen pembimbing Shana yang pesan catering di kita." Jawab Shana.

Rini mengangguk mengerti, "ayo Pak makan dulu." Ajaknya.

Adrian, Dwi, dan yang lainnya langsung bersemangat karena ditawari makan oleh Ibunya Shana. Mereka tidak perlu meragukan lagi betapa nikmatnya masakan Rini.

Shana dibantu oleh Ajeng berjalan perlahan keluar dari kamarnya. Ikut bergabung dengan teman-temannya yang sudah sibuk menunggu giliran mengambil makan.

"Makan yang banyak ya!" Rini senang sekali melihat wajah-wajah bahagia teman-teman anaknya.

"Siapp! Makasih banyak bu!" Sahut Adrian yang kini sudah mendapat bagiannya. "Makan Pak." Tawarnya saat melewati Seno.

ADVOKASI Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang