You've Stolen Something More Valuable

976 74 126
                                        

Sudah tahu bagaimana caranya menghargai karya ini? Jika kalian suka lalu membacanya, tinggalkan jejak di sini karena ada banyak hal yang saya relakan sehingga naskah ini dapat kalian baca dengan percuma.

Silent readers adalah sosok paling egois di dunia literasi. Karena mereka hanya mau menerima tanpa memberi. Ini bukan perihal keikhlasan, melainkan caramu menghargai karya orang lain.

Naskah ini bukan hanya sekadar suara berisik dari kepalaku, tapi juga ide yang kukembangkan dengan bersusah payah.

Rate mature dan beberapa harsh words. Jika bacaan seperti ini bukan selera bacaanmu, maka jangan mampir kemari. Bijaklah dalam memilih bacaan!

🥀🥀🥀
TWO
.
.
.
.
.

Ara sudah sadar sejak beberapa menit yang lalu, tetapi dia hanya diam tak bergerak, membuka mata pun tidak. Namun, pendengarnya sedang fokus pada pembicaraan orang-orang di sekitar.

"Kenapa bisa ada penjahat wanita secantik dia? Dae In hebat juga, ya. Dia bisa menghajar Nona Kim sampai babak belur. Kalau aku belum tentu bisa. Membersihkan luka di tubuhnya saja aku sudah gemetar," ujar seseorang di samping Ara. Dia baru selesai membersihkan lalu mengobati luka pada tubuh Ara.

"Justru, dia diincar oleh pengendalinya sekarang. Pasti mereka berpikir, dengan wajah ini bisa memikat sekaligus memperdaya target. Wanita cantik memang sangat berbahaya. Jadi, jangan pernah tertipu dengan mereka," jawab seorang lagi.

Ara masih diam tak bergeming. Tapi, setelah mendengar langkah kaki beberapa orang sedang mendekat, dia mulai merasa siaga. Ia merasakan seseorang menyentuh pahanya yang terkena tembakan. Rasanya begitu sakit tetapi Ara berusaha setengah mati supaya tak berteriak.

"Peluru sudah dikeluarkan?" tanya seseorang.

Ara tidak tahu siapa yang bicara karena dia masih setia memejamkan kedua matanya.

"Belum, Pak. Saya ... Bingung bagaimana cara ... Membuka ...." Polisi yang telah mengobati Ara itu merasa ragu untuk melakukan tindakan pada luka tembakan di paha Ara.

Mengobati wajah perempuan itu saja dia sudah gemetar, bagaimana dia bisa mengobati bagian paha si jelita? Namun, Ara merasa celananya ditarik turun sebatas lutut menyisakan celana dalam yang masih menutupi bagian intimnya. Entah siapa yang melakukannya.

Gadis itu meringis saat merasakan ujung pisau melukai pahanya. Ara membuka mata seakan baru saja sadar. Dia melihat seseorang tengah mengeluarkan peluru yang bersarang di dalam pahanya.

Ara menengadah saat merasakan ujung pisau itu menusuknya semakin dalam. Rasanya sungguh menyakitkan. Dengan raut wajah garang, Ara menatap pria yang tengah mengeluarkan peluru di pahanya.

"Seharusnya, kau berterima kasih padaku. Aku sedang mencoba untuk menghentikan perdarahan. Mereka mengobati wajahmu terlebih dahulu tapi melupakan jika perdarahan paling banyak keluar dari sini," ucap seorang pria yang ternyata adalah kepala tim yang kemarin telah menangkap Ara.

"Aku akan mengingat wajahmu ini baik-baik, karena aku bersumpah di masa depan aku yang akan membuatmu merasakan apa yang kurasakan sekarang!" sahut Ara.

Wajah gadis itu begitu garang. Meski sudah babak belur, Ara tetap bersikap seolah dia akan terus hidup dalam jangka waktu lama meski tahu di dalam penjara yang sedang ia huni sekarang bukan hal tabu terjadinya pembantaian oleh para Sipir pada tahanan.

THE TRUE VILLAINCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang