Criminals Killed Them

827 55 65
                                        

Sudah tahu bagaimana caranya menghargai karya ini? Jika kalian suka lalu membacanya, tinggalkan jejak di sini karena ada banyak hal yang saya relakan sehingga naskah ini dapat kalian baca dengan percuma.

Silent readers adalah sosok paling egois di dunia literasi. Karena mereka hanya mau menerima tanpa memberi. Ini bukan perihal keikhlasan, melainkan caramu menghargai karya orang lain.

Naskah ini bukan hanya sekadar suara berisik dari kepalaku, tapi juga ide yang kukembangkan dengan bersusah payah.

Rate mature dan beberapa harsh words. Jika bacaan seperti ini bukan selera bacaanmu, maka jangan mampir kemari. Bijaklah dalam memilih bacaan!

🥀🥀🥀
SEVEN
.
.
.
.
.

Pagi ini ada yang sedikit berbeda dari suasana pagi hari yang sudah-sudah. Biasanya, setiap pagi jika di rumah Jungkook sudah bangun dan membuat sarapan untuk dirinya sendiri. Tapi sekarang dia belum beranjak dari tempat tidur.

Benar. Mereka kembali bercinta di pagi hari. Seakan diperbudakan oleh napsu, keduanya kembali bercinta jika mereka ingin. Sungguh gila. Jungkook melepaskan ciumannya pada bibir Ara yang sudah membengkak sebab terus ia cium. Pandangannya turun ke bawah, pada dada Ara yang sedang ia remas.

Lalu pada milik mereka yang menyatu dengan indah. Ara sedang duduk di ranjang, punggungnya bersandar pada susunan bantal dan selimut lalu gadis itu memegangi kedua paha dalamnya hingga kakinya terbuka lebar. Persis seperti wanita yang hendak melahirkan secara normal.

Sementara Jungkook, ia berdiri di lantai. Kedua tangannya memegangi pinggang Ara. Ia tengah memaju mundurkan pinggulnya. Selama beberapa hari tinggal di rumah Jungkook, Ara tak pernah memakai dalaman. Bukan karena belum dibeli, melainkan pria panas itu tak mengizinkan Ara memakainya. Ara hanya memakai kaos Jungkook selama di sana, tanpa dalaman.

Itu semua Jungkook lakukan sebab ia memiliki fantasi jika suatu saat dia ingin melihat kekasihnya berkeliaran di rumahnya dalam keadaan seperti itu. Sehingga kapanpun dia menginginkan gadis itu, Jungkook tak harus bersusah payah menurunkan lalu merobek celana dalam sang puan.

"Pelan sedikit, Sayang ...," pinta Ara.

"Ini sudah pelan," jawab Jungkook. Sebelah tangannya mengelus klitoris Ara, sebelah lagi menggerayangi tubuh seksi di bawah kuasa tubuhnya itu.

"Cukup. Kakiku sakit." Ara mengeluh.

Jungkook memegangi kedua paha Ara lalu menekannya. Setelah itu, dia memacu dengan amat cepat laju pinggulnya itu.

"Bajingan ...," ucap Ara perlahan. Wajahnya meringis merasakan tusukan luar biasa nikmat pada inti tubuhnya. Kedua tangannya meremas sprei pada masing-masing sisi tubuhnya.

Jungkook menyeringai mendengar Ara mengumpat. Meski mulutnya meminta Jungkook untuk berhenti, respon tubuhnya sama sekali tak melawan.

Ara tak habis pikir, padahal semalam mereka sudah bercinta dengan berbagai macam gaya. Tapi, pagi ini Jungkook kembali menerkamnya seakan tenaga pria itu tak pernah habis. Yang Ara tak tahu, Jungkook sebenarnya merasa nyeri pada pinggangnya. Dia pun kelelahan.

Tenaga pria itu hampir habis terkuras sebab mengeluarkan cairan terus menerus beberapa hari ini. Dia tumpahkan di dalam, pada mulut, dada bahkan wajah gadis cantik itu. Jungkook terus memasuki Ara kembali dalam rentang jarak yang singkat. Itu semua karena dia merasa takut kehilangan.

THE TRUE VILLAINCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang