Happy New Year

728 64 30
                                        

Sudah tahu bagaimana caranya menghargai karya ini? Jika kalian suka lalu membacanya, tinggalkan jejak di sini karena ada banyak hal yang saya relakan sehingga naskah ini dapat kalian baca dengan percuma.

Silent readers adalah sosok paling egois di dunia literasi. Karena mereka hanya mau menerima tanpa memberi. Ini bukan perihal keikhlasan, melainkan caramu menghargai karya orang lain.

Naskah ini bukan hanya sekadar suara berisik dari kepalaku, tapi juga ide yang kukembangkan dengan bersusah payah.

Rate mature dan beberapa harsh words. Jika bacaan seperti ini bukan selera bacaanmu, maka jangan mampir kemari. Bijaklah dalam memilih bacaan!

🥀🥀🥀
TWELVE
.
.
.
.
.

Sepasang kekasih itu keluar dari kamar Taehyung dengan tergesa. Ara berjalan cepat menghampiri Nara yang tengah memasukkan beberapa peluru ke dalam sebuah senjata api.

"Mereka sudah ada di depan?" tanya Ara. Napasnya terengah padahal dia hanya berlari sekitar sepuluh meter saja. Dia menghela napas ketika melihat anggukan kepala Nara.

Hal itu membuat Taehyung mengerlingkan mata pada Jungkook sambil tersenyum simpul.

"Buru-buru, ya?" ledek Taehyung seakan apa yang akan mereka hadapi bukan sesuatu yang besar.

Jungkook tak menjawab pertanyaan Taehyung yang ia anggap konyol. Di dalam kamar tadi, dia dan Ara memang bercinta cukup panas. Percikan rindu itu tak dapat ia lepaskan dengan bebas. Ia harus mengejar klimaks karena Ara terus meminta untuk berhenti oleh sebab suara bel apartemen terus berbunyi.

Hal itu membuat Jungkook kesal setengah mati. Walau sudah mengeluarkannya dalam jumlah banyak, tetapi rasanya kurang maksimal karena harus dilakukan dengan buru-buru padahal mereka sudah lama tak melakukannya. Jungkook menarik lengan Ara dan memberi isyarat pada wanita cantik itu untuk bersembunyi.

"Jungkook ...." Ara berpegangan pada kedua lengan Jungkook. Sorot matanya memancarkan kekhawatiran yang amat dalam.

"Ara, kita sudah sepakat." Jungkook memperingatkan.

Ara tak rela. Jungkook menyuruhnya bersembunyi di dalam lemari pakaian Taehyung sambil menunggu Dongseok menjemput lalu membawanya ke Busan, sementara Jungkook akan menghadapi Moon Ji Kyung tanpa dirinya.

"Tolong jangan mati," cicit Ara. Dia meraih tubuh Jungkook lalu memeluknya.

"Jangan mati." Mata Ara memerah karena dia hendak menangis. Dia sungguh takut jika Jungkook berhadapan dengan mafia kelas atas di sana nanti, entah bahaya macam apa yang akan dihadapi oleh pria itu.

Dari larangan keras Jungkook terhadapnya untuk tidak ikut bersama pria itu, Ara dapat menebak jika bahaya yang Jungkook hadapi kali ini tak main-main.

"Aku berjanji akan kembali padamu saat pergantian tahun nanti malam," ucap Jungkook dengan penuh keyakinan.

"Tepati janjimu."

Jungkook menganggukkan kepala dengan yakin. Dia melepaskan pelukan mereka berdua lalu memegangi kedua sisi wajah Ara. Pandangan mereka terikat begitu erat.

"Bersembunyilah di tempat yang kukatakan tadi. Aku sudah mengatakan pada Dongseok Hyeong untuk menjemputmu. Dia sedang dalam perjalanan menuju kemari. Kau mengerti?" ucap Jungkook sambil menatap lekat sepasang bola mata yang tengah berair tersebut.

Beberapa tetes air mata Ara turun begitu saja dari kelopak matanya membuat Jungkook segera menghapus menggunakan kedua ibu jarinya. Dia mencium dahi Ara sekilas dan kembali menyuruhnya segera bersembunyi.

THE TRUE VILLAINCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang