06.Surat yang tak pernah dikirim

232 84 125
                                        

-----

Hera bukan tipe orang yang suka menulis surat. Ia bukan tipe yang nyaman menunjukkan isi hati, apalagi pada kertas kosong. Tapi malam itu, entah kenapa, ia merasa harus melakukannya. Mungkin karena kepalanya terlalu penuh. Mungkin karena dada rasanya meledak kalau tidak dikeluarkan. Atau mungkin, ia hanya butuh seseorang mendengar meski hanya imajiner.

Ia ambil selembar kertas dari dalam buku tulis lama. Pulpen biru dengan ujung sedikit retak. Tak ada nama penerima. Tak ada tanggal.

Ia hanya menulis.

---

"Kalau kamu baca ini, artinya aku sedang kacau. Tapi juga sedang sadar.

Aku bukan anak yang baik. Aku tahu itu. Aku nggak pandai menunjukkan perasaan, apalagi bikin orang nyaman. Tapi bukan berarti aku nggak punya perasaan. Aku cuma... terlalu lama nggak dipeduliin, sampai lupa caranya peduli.

Rumah ini terlalu ramai, tapi aku tetap merasa sepi. Kadang aku mikir, kalau aku hilang, berapa lama sampai mereka sadar? Sejam? Sehari? Atau sampai Mbak Lala bersihin kamarku dan baru sadar aku udah nggak ada?

Aku capek jadi bayangan. Capek jadi pengisi tempat kosong yang nggak pernah dianggap penting. Aku juga pengen ngerasain jadi anak yang dipeluk habis menangis. Bukan cuma ditinggalin dan disuruh kuat sendiri.

Tapi sampai kapan harus kuat sendiri? Kadang aku mikir, mungkin emang aku nggak penting. Atau mungkin terlalu biasa buat dilihat. Tapi aku pengen percaya, suatu hari, ada satu aja orang yang bilang, 'Aku lihat kamu.' Dan itu cukup.

Tapi sampai hari itu datang, aku akan terus pura-pura baik-baik saja."

---

Hera berhenti. Tangannya pegal. Matanya sedikit basah, tapi ia tidak menangis. Ia hanya menatap tulisan itu lama, lalu melipat kertasnya dan menyelipkannya ke dalam kotak kayu kecil di laci meja. Bersama surat-surat lain yang juga tak pernah dikirim.

---

Keesokan paginya, ia bangun dengan kepala berat. Hari Minggu. Rumah lebih tenang. Tidak ada teriakan Nala. Tidak ada suara Mamanya yang selalu bertelepon. Tidak ada kabar dari Papanya. Hanya sunyi yang melingkupi setiap ruangan.

Ia turun ke dapur, melihat Mbak Lala sedang menyiram tanaman di halaman belakang.

“Mbak,” sapa Hera pelan, “hari ini masaknya jangan yang berat ya. Nggak nafsu makan.”

Mbak Lala mengangguk sambil tersenyum. “Iya, Nduk. Mbak bikin sup jagung aja ya, yang kamu suka.”

Hera mengangguk, lalu duduk di kursi dekat jendela. Cahaya pagi menyusup pelan, membentuk pola di lantai yang diam.

Beberapa menit kemudian, Lutfian muncul sambil menguap. Rambutnya acak-acakan. Kaosnya kebesaran. Tapi wajahnya, entah kenapa, selalu terlihat tenang.

“Pagi,” gumamnya.

“Pagi,” jawab Hera, pendek.

Mereka duduk dalam diam, lagi-lagi. Tapi ini bukan diam yang canggung. Ini diam yang nyaman. Diam yang tahu bahwa kadang, keberadaan saja sudah cukup.

Lutfian mengaduk kopinya sambil bertanya, “Lo nulis surat lagi?”

Hera melirik. “Hm.”

“Dikirim?”

“Nggak.”

“Kenapa?”

“Karena nggak tahu mau kirim ke siapa,” jawab Hera pelan. “Dan karena gue tahu, nggak akan ada yang beneran baca.”

Lutfian mengangguk, paham. Ia tak bertanya lagi.

---

Siang harinya, Nala muncul dengan wajah cemberut. “Ma, Kak Hera pakai charger-ku lagi ya? Kabelnya beda nih, kayak udah rusak.”

Nindi yang sedang membaca di sofa menjawab, “Tanya baik-baik, Nala. Jangan nuduh.”

“Aku cuma nanya, kok. Tapi kabelku rusak, Ma.”

Hera muncul dari tangga. “Gue nggak pernah pake barang lo.”

“Terus siapa dong? Mbak Lala juga nggak, katanya. Banb Lut?”

Lutfian muncul dari belakang. “Bukan gue juga. Kabel lo mungkin emang udah jelek dari sononya.”

Nala manyun, lalu masuk kamar dengan langkah keras. Hera menatap ibu mereka yang langsung menyusul Nala, setelah menatap Lutfian dan Hera sebentar.

Itulah yang selalu terjadi. Masalah kecil selalu membesar saat Nala yang bicara. Tapi begitu Hera bicara, semuanya seakan mengecil, tak penting untuk diurus dan didengar.

---

Malamnya, Hera kembali ke kamarnya. Duduk di meja. Menatap kotak suratnya. Lalu menambahkan satu lagi:

Kalau aku hilang, aku harap seseorang akan baca semua surat ini. Biar mereka tahu aku pernah ada, pernah merasa, dan pernah menunggu.
Tapi kalau tidak pun, tak apa. Aku sudah terbiasa sendirian.

Lalu ia meniup lilin kecil di meja. Gelap. Tenang. Sunyi. Tapi malam itu, meski tak terlihat, hatinya sedikit lebih ringan.

Karena untuk pertama kalinya, ia mengakui luka itu bukan untuk disembunyikan. Tapi untuk dipeluk. Walau hanya oleh dirinya sendiri.

 In Omnia Paratus [End]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang