03.Tidak semua luka berdarah

290 91 142
                                        


---

Kepulangan Hera setelah sekolah selalu disambut dengan suasana yang hampir sama, hening. Rumah ini tidak pernah benar-benar sepi, tapi tetap saja, ada kekosongan yang mengganggu.

Di ruang keluarga, Nindi sedang duduk dengan tablet, menandai jadwal rapat minggu depan. Nala, yang biasanya merengek atau mencari perhatian, malah sedang sibuk dengan ponselnya, seolah dunia luar tidak pernah ada.

Mbak Lala masih mondar-mandir di dapur, memasak makanan yang akan dimakan semua orang, meski kenyataannya, hanya dia yang benar-benar makan dengan antusias. Hera duduk di kursi makan, menatap piring kosong di depannya. Ia mengangkat sendok tanpa niat.

“Hera,” suara Lutfian datang dari pintu, membuatnya sedikit terkejut. “Mau ikut ke kafe? Cuma sebentar.”

Hera mengangkat kepala. Lutfian berdiri di sana dengan jaket hitam dan kunci motor yang sudah siap ditangannya, meskipun hujan sore tadi sudah reda.

“Nggak,” jawab Hera datar.

Lutfian mengangkat alis, tahu benar bahwa kalimat itu hanyalah pertahanan tipis. Dia duduk di meja makan, menarik kursi, lalu duduk diam sejenak.

“Jangan begini terus, Dek,” kata Lutfian dengan suara rendah. “Mama sama Papa mungkin nggak pernah liat Lo, atau bahkan ngasih perhatian. Tapi, bukan berarti lo harus ngunci diri terus.”

Hera tidak mengangkat wajahnya. Ia tidak ingin membuat semuanya lebih buruk dengan kata-kata kosong. Lutfian tetap diam, namun tidak lama kemudian berdiri, mengambil jaketnya, dan keluar. Pintu depan ditutup pelan.

Begitu suara motornya hilang, Hera menyandarkan punggung di kursi, menatap langit luar yang sudah mulai gelap.

---

Pukul enam sore, saat hujan sudah reda dan jalanan mulai lengang, Nala akhirnya keluar dari kamar dengan wajah senyum lebar. Kali ini, dia tidak mencari perhatian dengan cara berlebihan. Ia duduk di dekat meja makan dan melirik Hera dengan tatapan penuh rasa ingin tahu.

“Kenapa sih lo nggak pernah kayak orang lain?” Nala bertanya tanpa banyak basa-basi.

Hera menoleh, tidak kaget dengan pertanyaan itu. Ini sudah sering terjadi Nala selalu penasaran dengan cara hidupnya yang terlalu tenang dan tidak suka diganggu.

“Apa yang lo maksud?” Hera bertanya balik, suara datar.

Nala mengangkat bahu, tapi raut wajahnya menunjukkan kebosanan. “Lo nggak pernah merasa apa-apa, ya? Nggak ada yang penting buat Lo selain diri lo sendiri, lo aneh.”

Hera terdiam. Nala tahu cara memancing emosi orang lain. Dan dia juga tahu, semakin dia diam, semakin ia dianggap lemah.

“Gini aja deh,” lanjut Nala sambil mengangkat wajah, “Gue harap, lo nggak akan terus diam dan jadi orang yang nggak penting dalam hidup kita.”

Nala beranjak pergi tanpa menunggu jawaban, meninggalkan Hera yang hanya bisa diam, mematung.

---

Malam itu, saat semuanya sudah kembali ke rutinitas masing-masing, Hera kembali ke kamarnya. Meja belajarnya yang penuh dengan kertas-kertas tugas dan catatan yang terbuang. Lalu, saat matanya melirik ke pojok ruangan, dia melihat sebuah foto lama. Foto keluarganya, diambil di taman saat Nala masih bayi.

Hera melihat dirinya yang lebih muda, tersenyum lebar di samping Lutfian dan Mama, Papanya. Mereka terlihat bahagia. Tanpa beban.

Hera menghela napas, menatap foto itu lebih lama. Ada banyak kenangan, ada banyak perasaan yang ia coba pendam. Namun, kenyataannya, kenangan-kenangan itu tak pernah cukup untuk mengisi kekosongan yang ia rasakan sekarang.

Hera rindu masa kanak-kanaknya, saat ia masih dianggap ada bukan seperti sekarang.

Ponsel berdenting, tanda ada pesan masuk.

Tangan Hera meraih ponsel di atas meja. Tanpa pikir panjang, ia membuka aplikasi pesan.

Bang Lutfian

Her, kita harus ngobrol, nanti malam gue pulang lebih cepat. Jangan kunci diri di kamar terus ya.

Pesan itu hanya ada satu kalimat, tapi cukup untuk membuat hati Hera sedikit tersentuh. Meski kadang Lutfian terlalu cuek dan lebih suka menghindar, dia selalu ada saat dibutuhkan.

Hidup Lutfian tidak seperti Hera, Lutfian masih mendapat perhatian dari Mama dan Papa. Berbeda dengan Hera yang seakan tidak dianggap keberadaannya.

Hera mengetik balasan cepat.

Iya.
Terima kasih.

Meski sederhana, balasan itu adalah bentuk kecil dari usaha untuk tetap terhubung, meskipun seolah dunia ini terasa begitu jauh.

---

Sekitar dua jam kemudian, Lutfian kembali ke rumah. Hera sudah menunggu di ruang keluarga. Hanya ada suara TV yang menyala di kejauhan, dan suara sepatu Lutfian yang menghentak pelan saat dia masuk.

“Gue udah bilang kan, jangan terus-terusan kayak tembok?” kata Lutfian, sedikit cemas tapi lebih terdengar seperti peringatan.

Hera tidak menjawab langsung. Sebaliknya, ia menatap kakaknya dengan pandangan kosong.

“Apa Lo masih ngerasa nggak dihargai,?” tanya Lutfian, duduk di dekatnya.

“Kayaknya, gue nggak perlu dihargai,” jawab Hera pelan. “Mereka semua sibuk dengan dunia mereka sendiri. Dan gue... udah biasa.”

Lutfian menatapnya. Kali ini, dia bisa melihat rasa lelah di mata Hera, lelah yang lebih dalam daripada sekadar penat sekolah atau tugas, Lutfian paham Mama Papanya tidak pernah menanyakan Hera, mereka hanya menanyakan Lutfian atau Nala, hanya mereka.

“Kadang, kita harus menunjukkan kalau kita butuh perhatian juga, kan?” Lutfian berkata pelan, seolah mencoba membuka pintu yang tertutup rapat dalam hati adiknya.

Hera memalingkan wajah. “Tapi kadang, gue ngerasa lebih baik kalo nggak ada yang peduli.”

Lutfian terdiam, menyesap kata-kata itu.

Hera tahu dia tidak akan mendapatkan jawaban yang memuaskan malam ini. Tapi setidaknya, malam ini, dia bisa merasakan sedikit kedekatan sesuatu yang jarang dia temui di rumah ini.

 In Omnia Paratus [End]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang